alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Sulit Bersaing, Ingin Ada Gerakan Beli Produk Lokal

Alon-alon asal kelakon. Begitu kiranya gambaran geliat pebisnis rumahan atau home industry, belakangan ini. Di tengah terjangan pandemi, mereka cukup kelimpungan. Meski tetap bertahan, tapi ala kadarnya dengan keterbatasan akses modal dan akses pasar.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlihat sibuk di lapaknya. Mereka bukan untuk melayani pembeli, tapi tengah merapikan sejumlah barang dagangan yang berjejeran tepat dengan produk-produk modern yang sudah tenar branding-nya. Mulai dari produk kuliner, makanan tradisional, batik atau konveksi, hingga produk handcraft. Semua komplet.

Meskipun sempat terlihat satu dua pembeli bertanya-tanya harga, dari pengunjung memang ada yang membeli. Namun, tak sedikit pula yang sekadar melihat. Tidak membeli.

Suasana ekspo bazar di Lippo Plaza Jember, akhir Agustus kemarin, sebenarnya cukup ramai pengunjung. Ini dimanfaatkan sejumlah pelaku UMKM. Mereka berharap, bisa lebih dikenal ketika melapak di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di Jember itu. “Ya minimal meskipun tidak laku keras, tapi produk kita sudah punya nama,” kata Dian Wiji Astuti, pebisnis kuliner dan oleh-oleh khas Jember asal Balung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dian pun sadar, kecil kemungkinan produk desa bisa menyaingi produk-produk dengan branding yang sudah tersebar di seluruh pelosok negeri. Namun, Dian dan pelapak lainnya saat itu bukan bermaksud bersaing dengan produk-produk modern tersebut, tapi mereka bermaksud berkampanye. “Ini lho, produk lokal, dari desa juga punya khas dan cita rasa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Vonny, salah satu pebisnis jamu olahan tradisional. “Sebenarnya kalau urusan rasa, kita juga bisa bersaing. Tapi, kalah telak di branding. Terlebih lagi, produk semacam ini masih skala kecil,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di Expo UMKM, kemarin.

Vonny dan Dian hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang merasakan beratnya berjuang di tengah pandemi. Berbagai kendala dan waswas mendera. Perasaan grogi, minder, dan takut kalah saing, jelas tergambar dalam raut wajah masing-masing pelaku ekonomi menengah ke bawah itu. Maklum saja, tantangan mereka selama ini memang memiliki akses yang serba terbatas. Terbatas akses pasar, terbatas modal, terbatas produksi, hingga keterbatasan yang lain.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlihat sibuk di lapaknya. Mereka bukan untuk melayani pembeli, tapi tengah merapikan sejumlah barang dagangan yang berjejeran tepat dengan produk-produk modern yang sudah tenar branding-nya. Mulai dari produk kuliner, makanan tradisional, batik atau konveksi, hingga produk handcraft. Semua komplet.

Meskipun sempat terlihat satu dua pembeli bertanya-tanya harga, dari pengunjung memang ada yang membeli. Namun, tak sedikit pula yang sekadar melihat. Tidak membeli.

Suasana ekspo bazar di Lippo Plaza Jember, akhir Agustus kemarin, sebenarnya cukup ramai pengunjung. Ini dimanfaatkan sejumlah pelaku UMKM. Mereka berharap, bisa lebih dikenal ketika melapak di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di Jember itu. “Ya minimal meskipun tidak laku keras, tapi produk kita sudah punya nama,” kata Dian Wiji Astuti, pebisnis kuliner dan oleh-oleh khas Jember asal Balung.

Dian pun sadar, kecil kemungkinan produk desa bisa menyaingi produk-produk dengan branding yang sudah tersebar di seluruh pelosok negeri. Namun, Dian dan pelapak lainnya saat itu bukan bermaksud bersaing dengan produk-produk modern tersebut, tapi mereka bermaksud berkampanye. “Ini lho, produk lokal, dari desa juga punya khas dan cita rasa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Vonny, salah satu pebisnis jamu olahan tradisional. “Sebenarnya kalau urusan rasa, kita juga bisa bersaing. Tapi, kalah telak di branding. Terlebih lagi, produk semacam ini masih skala kecil,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di Expo UMKM, kemarin.

Vonny dan Dian hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang merasakan beratnya berjuang di tengah pandemi. Berbagai kendala dan waswas mendera. Perasaan grogi, minder, dan takut kalah saing, jelas tergambar dalam raut wajah masing-masing pelaku ekonomi menengah ke bawah itu. Maklum saja, tantangan mereka selama ini memang memiliki akses yang serba terbatas. Terbatas akses pasar, terbatas modal, terbatas produksi, hingga keterbatasan yang lain.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlihat sibuk di lapaknya. Mereka bukan untuk melayani pembeli, tapi tengah merapikan sejumlah barang dagangan yang berjejeran tepat dengan produk-produk modern yang sudah tenar branding-nya. Mulai dari produk kuliner, makanan tradisional, batik atau konveksi, hingga produk handcraft. Semua komplet.

Meskipun sempat terlihat satu dua pembeli bertanya-tanya harga, dari pengunjung memang ada yang membeli. Namun, tak sedikit pula yang sekadar melihat. Tidak membeli.

Suasana ekspo bazar di Lippo Plaza Jember, akhir Agustus kemarin, sebenarnya cukup ramai pengunjung. Ini dimanfaatkan sejumlah pelaku UMKM. Mereka berharap, bisa lebih dikenal ketika melapak di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di Jember itu. “Ya minimal meskipun tidak laku keras, tapi produk kita sudah punya nama,” kata Dian Wiji Astuti, pebisnis kuliner dan oleh-oleh khas Jember asal Balung.

Dian pun sadar, kecil kemungkinan produk desa bisa menyaingi produk-produk dengan branding yang sudah tersebar di seluruh pelosok negeri. Namun, Dian dan pelapak lainnya saat itu bukan bermaksud bersaing dengan produk-produk modern tersebut, tapi mereka bermaksud berkampanye. “Ini lho, produk lokal, dari desa juga punya khas dan cita rasa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Vonny, salah satu pebisnis jamu olahan tradisional. “Sebenarnya kalau urusan rasa, kita juga bisa bersaing. Tapi, kalah telak di branding. Terlebih lagi, produk semacam ini masih skala kecil,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di Expo UMKM, kemarin.

Vonny dan Dian hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang merasakan beratnya berjuang di tengah pandemi. Berbagai kendala dan waswas mendera. Perasaan grogi, minder, dan takut kalah saing, jelas tergambar dalam raut wajah masing-masing pelaku ekonomi menengah ke bawah itu. Maklum saja, tantangan mereka selama ini memang memiliki akses yang serba terbatas. Terbatas akses pasar, terbatas modal, terbatas produksi, hingga keterbatasan yang lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/