alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Sekolah Daring Belum Diketahui sampai Kapan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepertinya para siswa, guru, ataupun wali murid harus lebih bersabar untuk bisa kembali masuk sekolah. Berdasarkan edaran Bupati Jember pada 10 Juli lalu hingga hari ini, belum ada informasi lanjut mengenai kapan siswa direncanakan akan kembali masuk sekolah.

Edaran yang terakhir itu pun hanya mengisyaratkan agar siswa tetap belajar dari rumah. Apalagi, imbauan itu dipertegas sejak adanya Surat Ketetapan Bersama (SKB) Empat Menteri: Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri yang meminta sekolah sementara waktu tidak dibuka jika belum memenuhi persyaratan-persyaratan khusus. Imbauan tegas itu ternyata diberlakukan ke semua jenis satuan pendidikan. Baik di lingkungan dinas pendidikan maupun di lingkungan Kementerian Agama.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus patuhi keputusan empat menteri tersebut. Sambil lalu menunggu suasana benar-benar membaik pascapandemi,” imbau Edy Sucipto, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena ketiadaan batasan sampai kapan sekolah kembali dibuka itu, sudah tentu mengundang berbagai pertanyaan. Utamanya dari kalangan wali murid yang sudah harap-harap cemas buah hatinya tak kunjung masuk sekolah.

Tak jauh berbeda dengan lembaga di lingkungan Kemenag, Dinas Pendidikan Jember pun berdalih demikian. “Belum diketahui sampai kapan diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Yang jelas, model PJJ sekarang, inilah yang terbaik untuk bersama saat ini,” timpal Edy Budi Susilo, Kepala Dinas Pendidikan Jember.

Sebagai informasi, mengacu pada SKB empat menteri tersebut, sekolah diizinkan dibuka jika membuat empat persyaratan. Yaitu satuan pendidikan sudah berada di kawasan tidak terdampak (zona hijau), mendapat izin dari ketua gugus tugas kabupaten. Kemudian, lembaga telah mengisi daftar periksa kesiapan pada laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik), dan sudah ada kesepakatan antara komite sekolah, yang salah satunya terdapat persetujuan wali murid.

Faktanya, di Jember hari ini, kawasan zona hijau masih hanya hitungan jari dengan jumlah pasien terkonfirmasi positif tembus angka 368. Melihat fakta tersebut, sepertinya membuat pemerintah terkait tak bisa berbuat banyak untuk kembali membuka sekolah. Selain hanya menunggu kondisi hingga benar-benar pulih dari pandemi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepertinya para siswa, guru, ataupun wali murid harus lebih bersabar untuk bisa kembali masuk sekolah. Berdasarkan edaran Bupati Jember pada 10 Juli lalu hingga hari ini, belum ada informasi lanjut mengenai kapan siswa direncanakan akan kembali masuk sekolah.

Edaran yang terakhir itu pun hanya mengisyaratkan agar siswa tetap belajar dari rumah. Apalagi, imbauan itu dipertegas sejak adanya Surat Ketetapan Bersama (SKB) Empat Menteri: Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri yang meminta sekolah sementara waktu tidak dibuka jika belum memenuhi persyaratan-persyaratan khusus. Imbauan tegas itu ternyata diberlakukan ke semua jenis satuan pendidikan. Baik di lingkungan dinas pendidikan maupun di lingkungan Kementerian Agama.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus patuhi keputusan empat menteri tersebut. Sambil lalu menunggu suasana benar-benar membaik pascapandemi,” imbau Edy Sucipto, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember.

Karena ketiadaan batasan sampai kapan sekolah kembali dibuka itu, sudah tentu mengundang berbagai pertanyaan. Utamanya dari kalangan wali murid yang sudah harap-harap cemas buah hatinya tak kunjung masuk sekolah.

Tak jauh berbeda dengan lembaga di lingkungan Kemenag, Dinas Pendidikan Jember pun berdalih demikian. “Belum diketahui sampai kapan diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Yang jelas, model PJJ sekarang, inilah yang terbaik untuk bersama saat ini,” timpal Edy Budi Susilo, Kepala Dinas Pendidikan Jember.

Sebagai informasi, mengacu pada SKB empat menteri tersebut, sekolah diizinkan dibuka jika membuat empat persyaratan. Yaitu satuan pendidikan sudah berada di kawasan tidak terdampak (zona hijau), mendapat izin dari ketua gugus tugas kabupaten. Kemudian, lembaga telah mengisi daftar periksa kesiapan pada laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik), dan sudah ada kesepakatan antara komite sekolah, yang salah satunya terdapat persetujuan wali murid.

Faktanya, di Jember hari ini, kawasan zona hijau masih hanya hitungan jari dengan jumlah pasien terkonfirmasi positif tembus angka 368. Melihat fakta tersebut, sepertinya membuat pemerintah terkait tak bisa berbuat banyak untuk kembali membuka sekolah. Selain hanya menunggu kondisi hingga benar-benar pulih dari pandemi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepertinya para siswa, guru, ataupun wali murid harus lebih bersabar untuk bisa kembali masuk sekolah. Berdasarkan edaran Bupati Jember pada 10 Juli lalu hingga hari ini, belum ada informasi lanjut mengenai kapan siswa direncanakan akan kembali masuk sekolah.

Edaran yang terakhir itu pun hanya mengisyaratkan agar siswa tetap belajar dari rumah. Apalagi, imbauan itu dipertegas sejak adanya Surat Ketetapan Bersama (SKB) Empat Menteri: Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri yang meminta sekolah sementara waktu tidak dibuka jika belum memenuhi persyaratan-persyaratan khusus. Imbauan tegas itu ternyata diberlakukan ke semua jenis satuan pendidikan. Baik di lingkungan dinas pendidikan maupun di lingkungan Kementerian Agama.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus patuhi keputusan empat menteri tersebut. Sambil lalu menunggu suasana benar-benar membaik pascapandemi,” imbau Edy Sucipto, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember.

Karena ketiadaan batasan sampai kapan sekolah kembali dibuka itu, sudah tentu mengundang berbagai pertanyaan. Utamanya dari kalangan wali murid yang sudah harap-harap cemas buah hatinya tak kunjung masuk sekolah.

Tak jauh berbeda dengan lembaga di lingkungan Kemenag, Dinas Pendidikan Jember pun berdalih demikian. “Belum diketahui sampai kapan diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Yang jelas, model PJJ sekarang, inilah yang terbaik untuk bersama saat ini,” timpal Edy Budi Susilo, Kepala Dinas Pendidikan Jember.

Sebagai informasi, mengacu pada SKB empat menteri tersebut, sekolah diizinkan dibuka jika membuat empat persyaratan. Yaitu satuan pendidikan sudah berada di kawasan tidak terdampak (zona hijau), mendapat izin dari ketua gugus tugas kabupaten. Kemudian, lembaga telah mengisi daftar periksa kesiapan pada laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik), dan sudah ada kesepakatan antara komite sekolah, yang salah satunya terdapat persetujuan wali murid.

Faktanya, di Jember hari ini, kawasan zona hijau masih hanya hitungan jari dengan jumlah pasien terkonfirmasi positif tembus angka 368. Melihat fakta tersebut, sepertinya membuat pemerintah terkait tak bisa berbuat banyak untuk kembali membuka sekolah. Selain hanya menunggu kondisi hingga benar-benar pulih dari pandemi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/