alexametrics
28.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Ngaku Bercanda, Diperiksa kok Sudah Meninggal

Lanjutan Sidang Pembunuhan Terdakwa Lansia

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Jumari alias Sumar akhirnya mengakui bahwa dia yang membunuh menantunya sendiri, Zeli alias Mora, pada bulan Maret lalu. Dalam persidangan secara virtual, Senin (3/8) lalu, di Pengadilan Negeri (PN) Jember, kakek tua berusia 105 tahun ini menjalani agenda sidang pemeriksaan terdakwa.

Sidang sore itu dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Putut Tri Sunarko. Melalui layar monitor, Jumari tak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Dia pun menuturkan keterangannya memakai bahasa Madura, namun tetap diterjemahkan oleh PN.

Dalam keterangannya, Jumari awalnya memang sakit hati karena kerap diejek oleh korban yang juga satu rumah dengannya. Lantaran sering dirundung itulah, Jumari akhirnya gelap mata. Pengakuannya, Jumari awalnya hanya bercanda saja mencekik leher korban dengan kedua tangannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Gedion Ardana, terdakwa mengatakan bahwa dirinya bercanda belaka dengan mencekik leher Zeli. “Terdakwa mengaku kalau dia guyon mencekik korban. Lalu, akhirnya dia periksa, kok tidak ada napasnya. Barulah dia bilang ke Luginten, istri sirinya, di dapur,” beber Gedion.

Korban sendiri sebelumnya memang terbaring lemah di tempat tidur. Sebab, Zeli juga mengalami sakit-sakitan karena juga sudah berusia paruh baya. “Saat dicekik terdakwa, korban tidak ada perlawanan. Karena memang kondisinya lagi sakit,” imbuh Gedion.

Fakta persidangan pemeriksaan terdakwa juga mengungkap bahwa setelah dua hari korban meregang nyawa di dalam kamar. Jumari tidak mencium bau busuk dari jenazah korban. Barulah di hari ketiga, Jumari lapor. “Terdakwa sendiri yang melaporkan bahwa ada keluarganya meninggal di rumah ke RT setempat,” lanjut Gedion.

Dalam dakwaan, korban memang sempat mencaci maki terdakwa dengan mengucap “hanya menumpang, tapi seperti orang yang berkuasa”. Mendengar kata-kata tersebut, terdakwa merasa sakit hati dan direndahkan oleh korban.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Yuli Winari SH, membeberkan bahwa terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya. “Terdakwa sudah mengaku bersalah dan menyesal,” ujar Yuli, sesuai persidangan.

Nantinya, beberapa alasan peringanan bakal dituangkan oleh Yuli dalam pleidoi pada agenda sidang pembelaan selanjutnya. “Usia terdakwa ini sudah sangat tua. Apalagi dirinya juga sudah mengakui perbuatannya. Tentu itu bisa menjadi pertimbangan majelis hakim nantinya,” pungkas Yuli.

Sidang Jumari itu akhirnya ditunda oleh Putut Tri Sunarko. Agenda selanjutnya yakni pembacaan tuntutan dari JPU pada hari Senin (10/8) di PN Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Jumari alias Sumar akhirnya mengakui bahwa dia yang membunuh menantunya sendiri, Zeli alias Mora, pada bulan Maret lalu. Dalam persidangan secara virtual, Senin (3/8) lalu, di Pengadilan Negeri (PN) Jember, kakek tua berusia 105 tahun ini menjalani agenda sidang pemeriksaan terdakwa.

Sidang sore itu dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Putut Tri Sunarko. Melalui layar monitor, Jumari tak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Dia pun menuturkan keterangannya memakai bahasa Madura, namun tetap diterjemahkan oleh PN.

Dalam keterangannya, Jumari awalnya memang sakit hati karena kerap diejek oleh korban yang juga satu rumah dengannya. Lantaran sering dirundung itulah, Jumari akhirnya gelap mata. Pengakuannya, Jumari awalnya hanya bercanda saja mencekik leher korban dengan kedua tangannya.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Gedion Ardana, terdakwa mengatakan bahwa dirinya bercanda belaka dengan mencekik leher Zeli. “Terdakwa mengaku kalau dia guyon mencekik korban. Lalu, akhirnya dia periksa, kok tidak ada napasnya. Barulah dia bilang ke Luginten, istri sirinya, di dapur,” beber Gedion.

Korban sendiri sebelumnya memang terbaring lemah di tempat tidur. Sebab, Zeli juga mengalami sakit-sakitan karena juga sudah berusia paruh baya. “Saat dicekik terdakwa, korban tidak ada perlawanan. Karena memang kondisinya lagi sakit,” imbuh Gedion.

Fakta persidangan pemeriksaan terdakwa juga mengungkap bahwa setelah dua hari korban meregang nyawa di dalam kamar. Jumari tidak mencium bau busuk dari jenazah korban. Barulah di hari ketiga, Jumari lapor. “Terdakwa sendiri yang melaporkan bahwa ada keluarganya meninggal di rumah ke RT setempat,” lanjut Gedion.

Dalam dakwaan, korban memang sempat mencaci maki terdakwa dengan mengucap “hanya menumpang, tapi seperti orang yang berkuasa”. Mendengar kata-kata tersebut, terdakwa merasa sakit hati dan direndahkan oleh korban.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Yuli Winari SH, membeberkan bahwa terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya. “Terdakwa sudah mengaku bersalah dan menyesal,” ujar Yuli, sesuai persidangan.

Nantinya, beberapa alasan peringanan bakal dituangkan oleh Yuli dalam pleidoi pada agenda sidang pembelaan selanjutnya. “Usia terdakwa ini sudah sangat tua. Apalagi dirinya juga sudah mengakui perbuatannya. Tentu itu bisa menjadi pertimbangan majelis hakim nantinya,” pungkas Yuli.

Sidang Jumari itu akhirnya ditunda oleh Putut Tri Sunarko. Agenda selanjutnya yakni pembacaan tuntutan dari JPU pada hari Senin (10/8) di PN Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Jumari alias Sumar akhirnya mengakui bahwa dia yang membunuh menantunya sendiri, Zeli alias Mora, pada bulan Maret lalu. Dalam persidangan secara virtual, Senin (3/8) lalu, di Pengadilan Negeri (PN) Jember, kakek tua berusia 105 tahun ini menjalani agenda sidang pemeriksaan terdakwa.

Sidang sore itu dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Putut Tri Sunarko. Melalui layar monitor, Jumari tak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Dia pun menuturkan keterangannya memakai bahasa Madura, namun tetap diterjemahkan oleh PN.

Dalam keterangannya, Jumari awalnya memang sakit hati karena kerap diejek oleh korban yang juga satu rumah dengannya. Lantaran sering dirundung itulah, Jumari akhirnya gelap mata. Pengakuannya, Jumari awalnya hanya bercanda saja mencekik leher korban dengan kedua tangannya.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Gedion Ardana, terdakwa mengatakan bahwa dirinya bercanda belaka dengan mencekik leher Zeli. “Terdakwa mengaku kalau dia guyon mencekik korban. Lalu, akhirnya dia periksa, kok tidak ada napasnya. Barulah dia bilang ke Luginten, istri sirinya, di dapur,” beber Gedion.

Korban sendiri sebelumnya memang terbaring lemah di tempat tidur. Sebab, Zeli juga mengalami sakit-sakitan karena juga sudah berusia paruh baya. “Saat dicekik terdakwa, korban tidak ada perlawanan. Karena memang kondisinya lagi sakit,” imbuh Gedion.

Fakta persidangan pemeriksaan terdakwa juga mengungkap bahwa setelah dua hari korban meregang nyawa di dalam kamar. Jumari tidak mencium bau busuk dari jenazah korban. Barulah di hari ketiga, Jumari lapor. “Terdakwa sendiri yang melaporkan bahwa ada keluarganya meninggal di rumah ke RT setempat,” lanjut Gedion.

Dalam dakwaan, korban memang sempat mencaci maki terdakwa dengan mengucap “hanya menumpang, tapi seperti orang yang berkuasa”. Mendengar kata-kata tersebut, terdakwa merasa sakit hati dan direndahkan oleh korban.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Yuli Winari SH, membeberkan bahwa terdakwa sudah mengakui dan menyesali perbuatannya. “Terdakwa sudah mengaku bersalah dan menyesal,” ujar Yuli, sesuai persidangan.

Nantinya, beberapa alasan peringanan bakal dituangkan oleh Yuli dalam pleidoi pada agenda sidang pembelaan selanjutnya. “Usia terdakwa ini sudah sangat tua. Apalagi dirinya juga sudah mengakui perbuatannya. Tentu itu bisa menjadi pertimbangan majelis hakim nantinya,” pungkas Yuli.

Sidang Jumari itu akhirnya ditunda oleh Putut Tri Sunarko. Agenda selanjutnya yakni pembacaan tuntutan dari JPU pada hari Senin (10/8) di PN Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/