alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Sesak, Napi Tidur bagai Pindang

Bupati mewacanakan pemindahan lapas dengan beberapa alasan. Padahal, hal itu dinilai tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada sekian prosedur yang cukup panjang serta anggaran yang besar. Apalagi, para ahli menyebut, langkah itu bukan solusi karena masih ada paradigma yang salah pada konsep pemidanaan di republik ini. Lalu, tepatkah wacana itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

Kondisi berjubel dan pandemi benar-benar dirasakan oleh para warga binaan. Saat mendengar ada wacana pemindahan lapas itu, RD menilainya bagus. Ia beranggapan, kawannya yang kini masih ‘nyantri’ di lapas itu sebenarnya ingin mendapat lokasi tinggal yang lebih longgar. Terlepas dari kesalahan melanggar hukum yang pernah mereka lakukan. “Kalau pindah, setuju saja. Bagus,” ujarnya.

Sebenarnya, over kapasitas itu bukan barang anyar di lapas Jember. Namun, terjadi sejak kurun waktu beberapa tahun belakangan. Bahkan, sudah merata terjadi di berbagai lembaga pemasyarakatan tiap daerah. Baik kota maupun kabupaten. Namun, ada pula kota yang berhasil merelokasi lapas. Kota Surabaya misalnya, sempat merelokasi Lapas Kalisosok (yang kini menjadi cagar budaya), ke Desa Kebonagung, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Terpisah, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas II A Jember Agus Yanto mengatakan, over kapasitas yang terjadi selama ini diurai dengan cara mendesain kegiatan warga binaan. Mulai dari pembinaan spiritual hingga ada pembinaan kemandirian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu dimaksudkan agar warga binaan tidak lantas berdiam diri, meratapi nasibnya selama menjalani masa tahanan. “Mereka bisa melakukan banyak hal. Sebab, ada banyak kegiatan di dalamnya. Mereka rajin giat, kami kasih reward. Dan itu menjadi nilai plus di remisi nanti,” terang Agus saat ditemui di Kantor Lapas Kelas II A Jember, Sabtu (3/7).

Agus menyebut, pembinaan kemandirian yang dilakoni para warga binaan itu bermacam-macam. Ada yang membuat paving, kerajinan, menjahit, hingga membuat masjid. Langkah itu dirasa pas untuk diikuti warga binaan selama ‘nyantri’ di lapas. Lebih-lebih, sebagai bekal mereka saat kembali ke masyarakat kelak. Terlepas selama ‘nyantri’ mereka pernah tidur berjubel.

“Mereka ini bagian dari masyarakat. Miniatur masyarakat. Sudah tugas kami mengantarkan mereka bisa kembali diterima di masyarakat. Sehingga yang dilihat masyarakat nanti itu kemampuannya. Bukan perbuatannya yang telah lalu,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Kondisi berjubel dan pandemi benar-benar dirasakan oleh para warga binaan. Saat mendengar ada wacana pemindahan lapas itu, RD menilainya bagus. Ia beranggapan, kawannya yang kini masih ‘nyantri’ di lapas itu sebenarnya ingin mendapat lokasi tinggal yang lebih longgar. Terlepas dari kesalahan melanggar hukum yang pernah mereka lakukan. “Kalau pindah, setuju saja. Bagus,” ujarnya.

Sebenarnya, over kapasitas itu bukan barang anyar di lapas Jember. Namun, terjadi sejak kurun waktu beberapa tahun belakangan. Bahkan, sudah merata terjadi di berbagai lembaga pemasyarakatan tiap daerah. Baik kota maupun kabupaten. Namun, ada pula kota yang berhasil merelokasi lapas. Kota Surabaya misalnya, sempat merelokasi Lapas Kalisosok (yang kini menjadi cagar budaya), ke Desa Kebonagung, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Terpisah, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas II A Jember Agus Yanto mengatakan, over kapasitas yang terjadi selama ini diurai dengan cara mendesain kegiatan warga binaan. Mulai dari pembinaan spiritual hingga ada pembinaan kemandirian.

Hal itu dimaksudkan agar warga binaan tidak lantas berdiam diri, meratapi nasibnya selama menjalani masa tahanan. “Mereka bisa melakukan banyak hal. Sebab, ada banyak kegiatan di dalamnya. Mereka rajin giat, kami kasih reward. Dan itu menjadi nilai plus di remisi nanti,” terang Agus saat ditemui di Kantor Lapas Kelas II A Jember, Sabtu (3/7).

Agus menyebut, pembinaan kemandirian yang dilakoni para warga binaan itu bermacam-macam. Ada yang membuat paving, kerajinan, menjahit, hingga membuat masjid. Langkah itu dirasa pas untuk diikuti warga binaan selama ‘nyantri’ di lapas. Lebih-lebih, sebagai bekal mereka saat kembali ke masyarakat kelak. Terlepas selama ‘nyantri’ mereka pernah tidur berjubel.

“Mereka ini bagian dari masyarakat. Miniatur masyarakat. Sudah tugas kami mengantarkan mereka bisa kembali diterima di masyarakat. Sehingga yang dilihat masyarakat nanti itu kemampuannya. Bukan perbuatannya yang telah lalu,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

Kondisi berjubel dan pandemi benar-benar dirasakan oleh para warga binaan. Saat mendengar ada wacana pemindahan lapas itu, RD menilainya bagus. Ia beranggapan, kawannya yang kini masih ‘nyantri’ di lapas itu sebenarnya ingin mendapat lokasi tinggal yang lebih longgar. Terlepas dari kesalahan melanggar hukum yang pernah mereka lakukan. “Kalau pindah, setuju saja. Bagus,” ujarnya.

Sebenarnya, over kapasitas itu bukan barang anyar di lapas Jember. Namun, terjadi sejak kurun waktu beberapa tahun belakangan. Bahkan, sudah merata terjadi di berbagai lembaga pemasyarakatan tiap daerah. Baik kota maupun kabupaten. Namun, ada pula kota yang berhasil merelokasi lapas. Kota Surabaya misalnya, sempat merelokasi Lapas Kalisosok (yang kini menjadi cagar budaya), ke Desa Kebonagung, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Terpisah, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas II A Jember Agus Yanto mengatakan, over kapasitas yang terjadi selama ini diurai dengan cara mendesain kegiatan warga binaan. Mulai dari pembinaan spiritual hingga ada pembinaan kemandirian.

Hal itu dimaksudkan agar warga binaan tidak lantas berdiam diri, meratapi nasibnya selama menjalani masa tahanan. “Mereka bisa melakukan banyak hal. Sebab, ada banyak kegiatan di dalamnya. Mereka rajin giat, kami kasih reward. Dan itu menjadi nilai plus di remisi nanti,” terang Agus saat ditemui di Kantor Lapas Kelas II A Jember, Sabtu (3/7).

Agus menyebut, pembinaan kemandirian yang dilakoni para warga binaan itu bermacam-macam. Ada yang membuat paving, kerajinan, menjahit, hingga membuat masjid. Langkah itu dirasa pas untuk diikuti warga binaan selama ‘nyantri’ di lapas. Lebih-lebih, sebagai bekal mereka saat kembali ke masyarakat kelak. Terlepas selama ‘nyantri’ mereka pernah tidur berjubel.

“Mereka ini bagian dari masyarakat. Miniatur masyarakat. Sudah tugas kami mengantarkan mereka bisa kembali diterima di masyarakat. Sehingga yang dilihat masyarakat nanti itu kemampuannya. Bukan perbuatannya yang telah lalu,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/