alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Sesak, Napi Tidur bagai Pindang

Bupati mewacanakan pemindahan lapas dengan beberapa alasan. Padahal, hal itu dinilai tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada sekian prosedur yang cukup panjang serta anggaran yang besar. Apalagi, para ahli menyebut, langkah itu bukan solusi karena masih ada paradigma yang salah pada konsep pemidanaan di republik ini. Lalu, tepatkah wacana itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berdasarkan data, lembaga pemasyarakatan (lapas) yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda itu sebenarnya berkapasitas 390 orang. Namun, angka terakhir yang diakses, Sabtu (3/7), jumlah warga binaan lapas yang berada di jantung kota itu sudah mencapai 913 orang. Alias dua kali lipat lebih dari kapasitas normal. Over kapasitas inilah yang disebut-sebut menjadi dasar argumentasi utama pemindahan lapas.

Sebagai miniatur masyarakat, warga binaan di lapas mungkin yang paling paham betul bagaimana kesan dan suasana yang mereka rasakan selama menjalani masa tahanan di balik jeruji besi.

Jawa Pos Radar Jember sempat mewawancarai sejumlah alumni Lapas Kelas IIA Jember. Salah satunya adalah RD, pria asal Kecamatan Jenggawah yang baru beberapa bulan lalu menghirup udara bebas. “Secara umum, saya dan kawan-kawan di lapas saat itu ya seperti hidup di masyarakat. Bedanya, ruang gerak kami terbatas,” katanya, membuka pembicaraan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mengisahkan, selama di lapas, semua warga binaan bisa beraktivitas seperti di sekitar kawasan lapas. Sedari pagi, siang, hingga sore. Dari acara pembinaan spiritual sampai pembinaan kemandirian. Semua mereka dapatkan, tapi harus bergantian. “Biasanya kalau mau mandi harus antre dulu di masing-masing blok,” ujarnya.

RD mengaku tinggal di blok B1. Dari sekian jenis blok yang ada, yakni Blok A, Blok B, Blok C, blok perempuan, dan blok anak-anak. Seingat dia, blok yang ditempatinya itu berukuran memanjang sekitar 6×18 meter. Ia tinggal bersama 70-an warga binaan lain dalam satu blok.

Tinggal bersama banyak warga binaan dalam satu blok yang sama itu diakuinya enak. Sebab, bisa dapat lebih banyak teman ngobrol, kenalan, bahkan sudah serasa seperti seduluran. “Hanya saja, kalau untuk tidurnya harus berjubel. Wis kayak pindangan (ikan pindang yang dijejer dalam rantang, Red) itu,” kenang RD, menggambarkan posisi tidur warga binaan.

Tak hanya kenal ke satu blok, ia juga bisa mengenal beberapa warga binaan dari blok lain. Meski intensitas mereka bertemu sangat minim. Sebab, antara penghuni blok satu dengan lainnya ada pembatas. Dan mereka dilarang bertemu, ataupun masuk ke blok tersebut. Kecuali ada urusan penting. Misalnya salat di masjid yang lokasinya di blok A, blok khusus tahanan sekaligus blok paling besar yang berlokasi di tengah-tengah.

“Di dalamnya ada masjid dan lapangan voli. Biasanya masuk situ. Kalau untuk salat jamaah saja, kadang safnya sampai meluber ke luar masjid karena menerapkan prokes,” katanya.

Saat mulai musim korona, Maret 2020 lalu, sebenarnya para warga binaan sempat merasa waswas. Mereka khawatir sewaktu-waktu akan terpapar. RD juga mengakui demikian. Sebab, mereka hampir tiap hari berjubel di kamar, kontak fisik, dan beraktivitas bareng bak santri yang tengah mondok di pondok pesantren. Mereka dilarang keluar dari lingkungan itu dan diisolasi. Namun, kebutuhan pangan dan berkegiatan dijamin di dalamnya. “Memang seperti tengah nyantri. Kata petugas, kami aman karena isolasi. Dan lagi, sudah disediakan tim medis untuk cek kesehatan,” sambung RD.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berdasarkan data, lembaga pemasyarakatan (lapas) yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda itu sebenarnya berkapasitas 390 orang. Namun, angka terakhir yang diakses, Sabtu (3/7), jumlah warga binaan lapas yang berada di jantung kota itu sudah mencapai 913 orang. Alias dua kali lipat lebih dari kapasitas normal. Over kapasitas inilah yang disebut-sebut menjadi dasar argumentasi utama pemindahan lapas.

Sebagai miniatur masyarakat, warga binaan di lapas mungkin yang paling paham betul bagaimana kesan dan suasana yang mereka rasakan selama menjalani masa tahanan di balik jeruji besi.

Jawa Pos Radar Jember sempat mewawancarai sejumlah alumni Lapas Kelas IIA Jember. Salah satunya adalah RD, pria asal Kecamatan Jenggawah yang baru beberapa bulan lalu menghirup udara bebas. “Secara umum, saya dan kawan-kawan di lapas saat itu ya seperti hidup di masyarakat. Bedanya, ruang gerak kami terbatas,” katanya, membuka pembicaraan.

Ia mengisahkan, selama di lapas, semua warga binaan bisa beraktivitas seperti di sekitar kawasan lapas. Sedari pagi, siang, hingga sore. Dari acara pembinaan spiritual sampai pembinaan kemandirian. Semua mereka dapatkan, tapi harus bergantian. “Biasanya kalau mau mandi harus antre dulu di masing-masing blok,” ujarnya.

RD mengaku tinggal di blok B1. Dari sekian jenis blok yang ada, yakni Blok A, Blok B, Blok C, blok perempuan, dan blok anak-anak. Seingat dia, blok yang ditempatinya itu berukuran memanjang sekitar 6×18 meter. Ia tinggal bersama 70-an warga binaan lain dalam satu blok.

Tinggal bersama banyak warga binaan dalam satu blok yang sama itu diakuinya enak. Sebab, bisa dapat lebih banyak teman ngobrol, kenalan, bahkan sudah serasa seperti seduluran. “Hanya saja, kalau untuk tidurnya harus berjubel. Wis kayak pindangan (ikan pindang yang dijejer dalam rantang, Red) itu,” kenang RD, menggambarkan posisi tidur warga binaan.

Tak hanya kenal ke satu blok, ia juga bisa mengenal beberapa warga binaan dari blok lain. Meski intensitas mereka bertemu sangat minim. Sebab, antara penghuni blok satu dengan lainnya ada pembatas. Dan mereka dilarang bertemu, ataupun masuk ke blok tersebut. Kecuali ada urusan penting. Misalnya salat di masjid yang lokasinya di blok A, blok khusus tahanan sekaligus blok paling besar yang berlokasi di tengah-tengah.

“Di dalamnya ada masjid dan lapangan voli. Biasanya masuk situ. Kalau untuk salat jamaah saja, kadang safnya sampai meluber ke luar masjid karena menerapkan prokes,” katanya.

Saat mulai musim korona, Maret 2020 lalu, sebenarnya para warga binaan sempat merasa waswas. Mereka khawatir sewaktu-waktu akan terpapar. RD juga mengakui demikian. Sebab, mereka hampir tiap hari berjubel di kamar, kontak fisik, dan beraktivitas bareng bak santri yang tengah mondok di pondok pesantren. Mereka dilarang keluar dari lingkungan itu dan diisolasi. Namun, kebutuhan pangan dan berkegiatan dijamin di dalamnya. “Memang seperti tengah nyantri. Kata petugas, kami aman karena isolasi. Dan lagi, sudah disediakan tim medis untuk cek kesehatan,” sambung RD.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berdasarkan data, lembaga pemasyarakatan (lapas) yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda itu sebenarnya berkapasitas 390 orang. Namun, angka terakhir yang diakses, Sabtu (3/7), jumlah warga binaan lapas yang berada di jantung kota itu sudah mencapai 913 orang. Alias dua kali lipat lebih dari kapasitas normal. Over kapasitas inilah yang disebut-sebut menjadi dasar argumentasi utama pemindahan lapas.

Sebagai miniatur masyarakat, warga binaan di lapas mungkin yang paling paham betul bagaimana kesan dan suasana yang mereka rasakan selama menjalani masa tahanan di balik jeruji besi.

Jawa Pos Radar Jember sempat mewawancarai sejumlah alumni Lapas Kelas IIA Jember. Salah satunya adalah RD, pria asal Kecamatan Jenggawah yang baru beberapa bulan lalu menghirup udara bebas. “Secara umum, saya dan kawan-kawan di lapas saat itu ya seperti hidup di masyarakat. Bedanya, ruang gerak kami terbatas,” katanya, membuka pembicaraan.

Ia mengisahkan, selama di lapas, semua warga binaan bisa beraktivitas seperti di sekitar kawasan lapas. Sedari pagi, siang, hingga sore. Dari acara pembinaan spiritual sampai pembinaan kemandirian. Semua mereka dapatkan, tapi harus bergantian. “Biasanya kalau mau mandi harus antre dulu di masing-masing blok,” ujarnya.

RD mengaku tinggal di blok B1. Dari sekian jenis blok yang ada, yakni Blok A, Blok B, Blok C, blok perempuan, dan blok anak-anak. Seingat dia, blok yang ditempatinya itu berukuran memanjang sekitar 6×18 meter. Ia tinggal bersama 70-an warga binaan lain dalam satu blok.

Tinggal bersama banyak warga binaan dalam satu blok yang sama itu diakuinya enak. Sebab, bisa dapat lebih banyak teman ngobrol, kenalan, bahkan sudah serasa seperti seduluran. “Hanya saja, kalau untuk tidurnya harus berjubel. Wis kayak pindangan (ikan pindang yang dijejer dalam rantang, Red) itu,” kenang RD, menggambarkan posisi tidur warga binaan.

Tak hanya kenal ke satu blok, ia juga bisa mengenal beberapa warga binaan dari blok lain. Meski intensitas mereka bertemu sangat minim. Sebab, antara penghuni blok satu dengan lainnya ada pembatas. Dan mereka dilarang bertemu, ataupun masuk ke blok tersebut. Kecuali ada urusan penting. Misalnya salat di masjid yang lokasinya di blok A, blok khusus tahanan sekaligus blok paling besar yang berlokasi di tengah-tengah.

“Di dalamnya ada masjid dan lapangan voli. Biasanya masuk situ. Kalau untuk salat jamaah saja, kadang safnya sampai meluber ke luar masjid karena menerapkan prokes,” katanya.

Saat mulai musim korona, Maret 2020 lalu, sebenarnya para warga binaan sempat merasa waswas. Mereka khawatir sewaktu-waktu akan terpapar. RD juga mengakui demikian. Sebab, mereka hampir tiap hari berjubel di kamar, kontak fisik, dan beraktivitas bareng bak santri yang tengah mondok di pondok pesantren. Mereka dilarang keluar dari lingkungan itu dan diisolasi. Namun, kebutuhan pangan dan berkegiatan dijamin di dalamnya. “Memang seperti tengah nyantri. Kata petugas, kami aman karena isolasi. Dan lagi, sudah disediakan tim medis untuk cek kesehatan,” sambung RD.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/