alexametrics
24.6 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Kini, Tak Usah Memutar Lagi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menerjang kawasan perkebunan di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, akhir Januari lalu, mengakibatkan jembatan beton yang menuju Afdeling Trate, Dusun Pager Gunung, terputus. Setelah sekitar lima bulan jembatan itu tak bisa digunakan, kini sudah bisa dilewati kembali. Secara swadaya, warga menggunakan bambu untuk jembatan darurat. Masyarakat setempat menyebutnya sesek.

Jembatan ini merupakan akses satu-satunya menuju Afdeling Trate. Di perkampungan yang berada dalam kawasan perkebunan itu, ada dua lembaga pendidikan negeri. Yakni SD Negeri Curahnongko 08 dan SMP Negeri 4 Tempurejo. Sebelum dipasang sesek, guru dan karyawan kebun bagian sadap karet harus memutar beberapa kilometer dengan melewati jalur lintas selatan (JLS). Kini, mereka bisa menggunakan jembatan darurat tersebut, sehingga aksesnya lebih dekat.

Jembatan yang dibangun oleh Kebun Kotta Blater tersebut panjangnya sekitar 10 meter dengan lebar 3 meter. Putusnya jembatan beton itu karena bagian fondasi tergerus arus saat terjadi banjir, akhir Januari lalu. Padahal, selain menjadi akses guru ke sekolah, jembatan yang putus ini juga merupakan jalur utama truk pengangkut getah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, karena jembatan itu terbuat dari bambu, maka yang bisa melewatinya hanya kendaraan roda dua. Bisa motor atau sepeda. Sedangkan untuk mobil dan truk, tetap harus memutar ke JLS. Untuk menyiasatinya, banyak karyawan sadap yang membawa getah karet menggunakan motor agar bisa lewat sesek tersebut.

Menurut Wagimin, 45, warga Curahnongko yang biasa lewat, jembatan ini putus setelah banyaknya potongan kayu yang menyumbat bawah jembatan. Kayu-kayu hutan itu terbawa arus saat banjir sampai mengakibatkan air meluap hingga menggerus fondasi. “Bukan hanya fondasi yang tergerus, tapi tebing di sisi utara jembatan juga ambrol hingga tiga meteran,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menerjang kawasan perkebunan di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, akhir Januari lalu, mengakibatkan jembatan beton yang menuju Afdeling Trate, Dusun Pager Gunung, terputus. Setelah sekitar lima bulan jembatan itu tak bisa digunakan, kini sudah bisa dilewati kembali. Secara swadaya, warga menggunakan bambu untuk jembatan darurat. Masyarakat setempat menyebutnya sesek.

Jembatan ini merupakan akses satu-satunya menuju Afdeling Trate. Di perkampungan yang berada dalam kawasan perkebunan itu, ada dua lembaga pendidikan negeri. Yakni SD Negeri Curahnongko 08 dan SMP Negeri 4 Tempurejo. Sebelum dipasang sesek, guru dan karyawan kebun bagian sadap karet harus memutar beberapa kilometer dengan melewati jalur lintas selatan (JLS). Kini, mereka bisa menggunakan jembatan darurat tersebut, sehingga aksesnya lebih dekat.

Jembatan yang dibangun oleh Kebun Kotta Blater tersebut panjangnya sekitar 10 meter dengan lebar 3 meter. Putusnya jembatan beton itu karena bagian fondasi tergerus arus saat terjadi banjir, akhir Januari lalu. Padahal, selain menjadi akses guru ke sekolah, jembatan yang putus ini juga merupakan jalur utama truk pengangkut getah.

Namun, karena jembatan itu terbuat dari bambu, maka yang bisa melewatinya hanya kendaraan roda dua. Bisa motor atau sepeda. Sedangkan untuk mobil dan truk, tetap harus memutar ke JLS. Untuk menyiasatinya, banyak karyawan sadap yang membawa getah karet menggunakan motor agar bisa lewat sesek tersebut.

Menurut Wagimin, 45, warga Curahnongko yang biasa lewat, jembatan ini putus setelah banyaknya potongan kayu yang menyumbat bawah jembatan. Kayu-kayu hutan itu terbawa arus saat banjir sampai mengakibatkan air meluap hingga menggerus fondasi. “Bukan hanya fondasi yang tergerus, tapi tebing di sisi utara jembatan juga ambrol hingga tiga meteran,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menerjang kawasan perkebunan di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, akhir Januari lalu, mengakibatkan jembatan beton yang menuju Afdeling Trate, Dusun Pager Gunung, terputus. Setelah sekitar lima bulan jembatan itu tak bisa digunakan, kini sudah bisa dilewati kembali. Secara swadaya, warga menggunakan bambu untuk jembatan darurat. Masyarakat setempat menyebutnya sesek.

Jembatan ini merupakan akses satu-satunya menuju Afdeling Trate. Di perkampungan yang berada dalam kawasan perkebunan itu, ada dua lembaga pendidikan negeri. Yakni SD Negeri Curahnongko 08 dan SMP Negeri 4 Tempurejo. Sebelum dipasang sesek, guru dan karyawan kebun bagian sadap karet harus memutar beberapa kilometer dengan melewati jalur lintas selatan (JLS). Kini, mereka bisa menggunakan jembatan darurat tersebut, sehingga aksesnya lebih dekat.

Jembatan yang dibangun oleh Kebun Kotta Blater tersebut panjangnya sekitar 10 meter dengan lebar 3 meter. Putusnya jembatan beton itu karena bagian fondasi tergerus arus saat terjadi banjir, akhir Januari lalu. Padahal, selain menjadi akses guru ke sekolah, jembatan yang putus ini juga merupakan jalur utama truk pengangkut getah.

Namun, karena jembatan itu terbuat dari bambu, maka yang bisa melewatinya hanya kendaraan roda dua. Bisa motor atau sepeda. Sedangkan untuk mobil dan truk, tetap harus memutar ke JLS. Untuk menyiasatinya, banyak karyawan sadap yang membawa getah karet menggunakan motor agar bisa lewat sesek tersebut.

Menurut Wagimin, 45, warga Curahnongko yang biasa lewat, jembatan ini putus setelah banyaknya potongan kayu yang menyumbat bawah jembatan. Kayu-kayu hutan itu terbawa arus saat banjir sampai mengakibatkan air meluap hingga menggerus fondasi. “Bukan hanya fondasi yang tergerus, tapi tebing di sisi utara jembatan juga ambrol hingga tiga meteran,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/