alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Tetap Butuh Stimulus Pemerintah

Jember dan Puluhan Daerah Lain Alami Deflasi

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurut dia, Indonesia memang pernah mengalami krisis moneter pada 1999 lalu. Namun, kondisinya itu berbeda dengan sekarang. “Asal usul krisis moneter dengan sekarang berbeda. Sekarang karena faktor kesehatan,” tuturnya. Apalagi, krisis moneter tidak melanda seluruh dunia, tapi untuk Covid-19 menyeluruh ke berbagai belahan dunia.

Rafael menerangkan, kondisi saat ini hampir sama dengan depresi ekonomi besar pada 1933. Namun, penyebabnya bukan akibat kesehatan. Depresi besar tahun 1930-an disebut krisis Zaman Malaise. Itu terjadi di kehidupan masyarakat seluruh dunia. Puncaknya adalah tahun 1933 angka pengangguran meningkat drastis dari 3 persen menjadi 25 persen.

Bahkan kala itu, yang bekerja juga terpaksa dipotong gajinya. Kondisinya juga mirip sekarang, di mana banyak karyawan yang gajinya dipotong, di-PHK, hingga dirumahkan. “Saat itu, semua bagian siklus mengalami gejolak. Pengangguran luar biasa merajarela,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Persoalan daya beli inilah yang membuat kondisi depresi besar. Problem neoklasik itu harus diselesaikan dengan keterlibatan pemerintah. “Pada saat itu peran pemerintah penting untuk menyelamatkan,” terangnya.

Lewat stimulus ekonomi dari pemerintah, membuat ekonomi berjalan lagi. Kendati begitu, Rafael tak sependapat dengan langkah stimulus ekonomi jangka menengah dengan memberi sejumlah uang atau sembako kepada masyarakat terdampak. Kata dia, alangkah baiknya mengambil kebijakan dengan membeli barang dan jasa produksi dalam negeri. “Semua produk barang, terutama yang strategis. Semisal beras, daging, dan bila perlu ikan,” katanya.

Kebijakan itu dikatakan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga para pekerja bisa kembali beraktivitas dan mendapatkan penghasilan. Selain itu, kondisi darurat seperti ini langkah produsen yang mengandalkan padat karya juga bisa menjadi solusi.

Di sisi lain, Rafael mencatat, pandemi korona sekarang ini ada nilai plus ketimbang depresi ekonomi 1933. Sebab, ada modal sosial yang saling membantu. “Inilah kekuatan saat ini. Masyarakat ekonomi menengah juga memberikan bantuan sosial. Modal sosial seperti ini tidak terjadi di depresi 1933,” terangnya.

Dia menambahkan, satu sampai dua bulan ke depan dengan kondisi yang seperti ini masyarakat akan tetap kuat. Tapi jika berkepanjangan, tentu jadi pekerjaan rumah bersama. “Saya yakin ekonomi bisa bangkit lagi. Karena negara lain bisa bangkit dari Covid-19,” pungkasnya.

- Advertisement -

Menurut dia, Indonesia memang pernah mengalami krisis moneter pada 1999 lalu. Namun, kondisinya itu berbeda dengan sekarang. “Asal usul krisis moneter dengan sekarang berbeda. Sekarang karena faktor kesehatan,” tuturnya. Apalagi, krisis moneter tidak melanda seluruh dunia, tapi untuk Covid-19 menyeluruh ke berbagai belahan dunia.

Rafael menerangkan, kondisi saat ini hampir sama dengan depresi ekonomi besar pada 1933. Namun, penyebabnya bukan akibat kesehatan. Depresi besar tahun 1930-an disebut krisis Zaman Malaise. Itu terjadi di kehidupan masyarakat seluruh dunia. Puncaknya adalah tahun 1933 angka pengangguran meningkat drastis dari 3 persen menjadi 25 persen.

Bahkan kala itu, yang bekerja juga terpaksa dipotong gajinya. Kondisinya juga mirip sekarang, di mana banyak karyawan yang gajinya dipotong, di-PHK, hingga dirumahkan. “Saat itu, semua bagian siklus mengalami gejolak. Pengangguran luar biasa merajarela,” tuturnya.

Persoalan daya beli inilah yang membuat kondisi depresi besar. Problem neoklasik itu harus diselesaikan dengan keterlibatan pemerintah. “Pada saat itu peran pemerintah penting untuk menyelamatkan,” terangnya.

Lewat stimulus ekonomi dari pemerintah, membuat ekonomi berjalan lagi. Kendati begitu, Rafael tak sependapat dengan langkah stimulus ekonomi jangka menengah dengan memberi sejumlah uang atau sembako kepada masyarakat terdampak. Kata dia, alangkah baiknya mengambil kebijakan dengan membeli barang dan jasa produksi dalam negeri. “Semua produk barang, terutama yang strategis. Semisal beras, daging, dan bila perlu ikan,” katanya.

Kebijakan itu dikatakan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga para pekerja bisa kembali beraktivitas dan mendapatkan penghasilan. Selain itu, kondisi darurat seperti ini langkah produsen yang mengandalkan padat karya juga bisa menjadi solusi.

Di sisi lain, Rafael mencatat, pandemi korona sekarang ini ada nilai plus ketimbang depresi ekonomi 1933. Sebab, ada modal sosial yang saling membantu. “Inilah kekuatan saat ini. Masyarakat ekonomi menengah juga memberikan bantuan sosial. Modal sosial seperti ini tidak terjadi di depresi 1933,” terangnya.

Dia menambahkan, satu sampai dua bulan ke depan dengan kondisi yang seperti ini masyarakat akan tetap kuat. Tapi jika berkepanjangan, tentu jadi pekerjaan rumah bersama. “Saya yakin ekonomi bisa bangkit lagi. Karena negara lain bisa bangkit dari Covid-19,” pungkasnya.

Menurut dia, Indonesia memang pernah mengalami krisis moneter pada 1999 lalu. Namun, kondisinya itu berbeda dengan sekarang. “Asal usul krisis moneter dengan sekarang berbeda. Sekarang karena faktor kesehatan,” tuturnya. Apalagi, krisis moneter tidak melanda seluruh dunia, tapi untuk Covid-19 menyeluruh ke berbagai belahan dunia.

Rafael menerangkan, kondisi saat ini hampir sama dengan depresi ekonomi besar pada 1933. Namun, penyebabnya bukan akibat kesehatan. Depresi besar tahun 1930-an disebut krisis Zaman Malaise. Itu terjadi di kehidupan masyarakat seluruh dunia. Puncaknya adalah tahun 1933 angka pengangguran meningkat drastis dari 3 persen menjadi 25 persen.

Bahkan kala itu, yang bekerja juga terpaksa dipotong gajinya. Kondisinya juga mirip sekarang, di mana banyak karyawan yang gajinya dipotong, di-PHK, hingga dirumahkan. “Saat itu, semua bagian siklus mengalami gejolak. Pengangguran luar biasa merajarela,” tuturnya.

Persoalan daya beli inilah yang membuat kondisi depresi besar. Problem neoklasik itu harus diselesaikan dengan keterlibatan pemerintah. “Pada saat itu peran pemerintah penting untuk menyelamatkan,” terangnya.

Lewat stimulus ekonomi dari pemerintah, membuat ekonomi berjalan lagi. Kendati begitu, Rafael tak sependapat dengan langkah stimulus ekonomi jangka menengah dengan memberi sejumlah uang atau sembako kepada masyarakat terdampak. Kata dia, alangkah baiknya mengambil kebijakan dengan membeli barang dan jasa produksi dalam negeri. “Semua produk barang, terutama yang strategis. Semisal beras, daging, dan bila perlu ikan,” katanya.

Kebijakan itu dikatakan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga para pekerja bisa kembali beraktivitas dan mendapatkan penghasilan. Selain itu, kondisi darurat seperti ini langkah produsen yang mengandalkan padat karya juga bisa menjadi solusi.

Di sisi lain, Rafael mencatat, pandemi korona sekarang ini ada nilai plus ketimbang depresi ekonomi 1933. Sebab, ada modal sosial yang saling membantu. “Inilah kekuatan saat ini. Masyarakat ekonomi menengah juga memberikan bantuan sosial. Modal sosial seperti ini tidak terjadi di depresi 1933,” terangnya.

Dia menambahkan, satu sampai dua bulan ke depan dengan kondisi yang seperti ini masyarakat akan tetap kuat. Tapi jika berkepanjangan, tentu jadi pekerjaan rumah bersama. “Saya yakin ekonomi bisa bangkit lagi. Karena negara lain bisa bangkit dari Covid-19,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/