alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tetap Butuh Stimulus Pemerintah

Jember dan Puluhan Daerah Lain Alami Deflasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona di seluruh dunia menghantam ekonomi global, termasuk Jember. Kondisi ini berimbas terhadap menurunnya daya beli masyarakat hingga mengakibatkan anjloknya beberapa komoditas barang, termasuk bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, indeks harga konsumen (IHK) pada April kemarin mengalami deflasi 0,13 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, wabah korona jelas berdampak pada kondisi perekonomian di Jember. “Biasanya masuk Ramadan harga pangan cenderung bergerak naik. Tapi kali ini melandai, bahkan turun. Hal itu akibat Covid-19,” ujarnya.

Dalam IHK April kemarin, BPS mencatat Jember mengalami deflasi 0,13 persen. Penyumbang deflasi tertinggi adalah dari kelompok volated food atau pangan. Komoditas yang berikan andil terbesar deflasi adalah daging ayam ras dengan andil -0,11 persen, angkutan udara atau pesawat terbang -0,06 persen, cabai merah -0.05 persen, bawang putih -0,05 persen, dan telur ayam ras -0,04 persen.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Deflasi pada kelompok makanan karena komoditasnya melimpah dan tidak terserap pasar,” ujarnya. Di sisi lain, kata dia, juga disebabkan daya beli masyarakat yang rendah, sehingga harga turun. Hal itu juga terjadi untuk daging ayam ras atau potong. Arif Joko menyebut, distribusi yang tersendat ke sejumlah daerah membuat stok daging ayam melimpah, sehingga harga pun terjun bebas.

Sementara itu, Kasi Distribusi Statistik BPS Jember Candra Birawa menambahkan, pandemi Covid-19 mengakibatkan distribusi barang ke sejumlah daerah tersendat. Terlebih lagi, adanya daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti di Surabaya, Sidarjo, dan Gresik, termasuk di ibu kota.

“Bisa daya beli masyarakat turun lantaran pendapatan menurun. Sehingga masyarakat mengubah pola konsumsi dari biasanya,” jelasnya. Dari 90 kota IHK, kata dia, 39 kota di antaranya mengalami inflasi. Sementara itu, 51 kota IHK mengalami deflasi, termasuk Jember. Sedangkan Jatim juga mengalami deflasi 0,12 persen.

Depresi Besar pada 1933

Kondisi korona yang membuat perekonomian deflasi termasuk di Jember, menurut Dr Rafael Purnomo, lebih disebabkan distribusi yang tidak lancar dari hulu ke hilir. Hal tersebut, kata dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unej ini, hampir terjadi di semua sentra produksi pangan. Dampaknya membuat barang tidak terbeli. “Artinya, harga barang cenderung tidak naik, tapi turun,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona di seluruh dunia menghantam ekonomi global, termasuk Jember. Kondisi ini berimbas terhadap menurunnya daya beli masyarakat hingga mengakibatkan anjloknya beberapa komoditas barang, termasuk bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, indeks harga konsumen (IHK) pada April kemarin mengalami deflasi 0,13 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, wabah korona jelas berdampak pada kondisi perekonomian di Jember. “Biasanya masuk Ramadan harga pangan cenderung bergerak naik. Tapi kali ini melandai, bahkan turun. Hal itu akibat Covid-19,” ujarnya.

Dalam IHK April kemarin, BPS mencatat Jember mengalami deflasi 0,13 persen. Penyumbang deflasi tertinggi adalah dari kelompok volated food atau pangan. Komoditas yang berikan andil terbesar deflasi adalah daging ayam ras dengan andil -0,11 persen, angkutan udara atau pesawat terbang -0,06 persen, cabai merah -0.05 persen, bawang putih -0,05 persen, dan telur ayam ras -0,04 persen.

“Deflasi pada kelompok makanan karena komoditasnya melimpah dan tidak terserap pasar,” ujarnya. Di sisi lain, kata dia, juga disebabkan daya beli masyarakat yang rendah, sehingga harga turun. Hal itu juga terjadi untuk daging ayam ras atau potong. Arif Joko menyebut, distribusi yang tersendat ke sejumlah daerah membuat stok daging ayam melimpah, sehingga harga pun terjun bebas.

Sementara itu, Kasi Distribusi Statistik BPS Jember Candra Birawa menambahkan, pandemi Covid-19 mengakibatkan distribusi barang ke sejumlah daerah tersendat. Terlebih lagi, adanya daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti di Surabaya, Sidarjo, dan Gresik, termasuk di ibu kota.

“Bisa daya beli masyarakat turun lantaran pendapatan menurun. Sehingga masyarakat mengubah pola konsumsi dari biasanya,” jelasnya. Dari 90 kota IHK, kata dia, 39 kota di antaranya mengalami inflasi. Sementara itu, 51 kota IHK mengalami deflasi, termasuk Jember. Sedangkan Jatim juga mengalami deflasi 0,12 persen.

Depresi Besar pada 1933

Kondisi korona yang membuat perekonomian deflasi termasuk di Jember, menurut Dr Rafael Purnomo, lebih disebabkan distribusi yang tidak lancar dari hulu ke hilir. Hal tersebut, kata dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unej ini, hampir terjadi di semua sentra produksi pangan. Dampaknya membuat barang tidak terbeli. “Artinya, harga barang cenderung tidak naik, tapi turun,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona di seluruh dunia menghantam ekonomi global, termasuk Jember. Kondisi ini berimbas terhadap menurunnya daya beli masyarakat hingga mengakibatkan anjloknya beberapa komoditas barang, termasuk bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, indeks harga konsumen (IHK) pada April kemarin mengalami deflasi 0,13 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, wabah korona jelas berdampak pada kondisi perekonomian di Jember. “Biasanya masuk Ramadan harga pangan cenderung bergerak naik. Tapi kali ini melandai, bahkan turun. Hal itu akibat Covid-19,” ujarnya.

Dalam IHK April kemarin, BPS mencatat Jember mengalami deflasi 0,13 persen. Penyumbang deflasi tertinggi adalah dari kelompok volated food atau pangan. Komoditas yang berikan andil terbesar deflasi adalah daging ayam ras dengan andil -0,11 persen, angkutan udara atau pesawat terbang -0,06 persen, cabai merah -0.05 persen, bawang putih -0,05 persen, dan telur ayam ras -0,04 persen.

“Deflasi pada kelompok makanan karena komoditasnya melimpah dan tidak terserap pasar,” ujarnya. Di sisi lain, kata dia, juga disebabkan daya beli masyarakat yang rendah, sehingga harga turun. Hal itu juga terjadi untuk daging ayam ras atau potong. Arif Joko menyebut, distribusi yang tersendat ke sejumlah daerah membuat stok daging ayam melimpah, sehingga harga pun terjun bebas.

Sementara itu, Kasi Distribusi Statistik BPS Jember Candra Birawa menambahkan, pandemi Covid-19 mengakibatkan distribusi barang ke sejumlah daerah tersendat. Terlebih lagi, adanya daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti di Surabaya, Sidarjo, dan Gresik, termasuk di ibu kota.

“Bisa daya beli masyarakat turun lantaran pendapatan menurun. Sehingga masyarakat mengubah pola konsumsi dari biasanya,” jelasnya. Dari 90 kota IHK, kata dia, 39 kota di antaranya mengalami inflasi. Sementara itu, 51 kota IHK mengalami deflasi, termasuk Jember. Sedangkan Jatim juga mengalami deflasi 0,12 persen.

Depresi Besar pada 1933

Kondisi korona yang membuat perekonomian deflasi termasuk di Jember, menurut Dr Rafael Purnomo, lebih disebabkan distribusi yang tidak lancar dari hulu ke hilir. Hal tersebut, kata dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unej ini, hampir terjadi di semua sentra produksi pangan. Dampaknya membuat barang tidak terbeli. “Artinya, harga barang cenderung tidak naik, tapi turun,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/