alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Lewati Medan Terjal hingga Menginap di Rumah Siswa

Di tengah wabah korona, komitmen guru sedang diuji. Sebab, mereka harus bekerja ekstra untuk memastikan muridnya tetap belajar. Apalagi, bagi guru di sekolah pinggiran dan tidak ada jaringan internet. Seperti apa perjuangannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagus Wahyudi tersenyum ketika menunjukkan foto di layar ponselnya. Gambar di HP Android itu merupakan rekaman kisah perjuangannya selama mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 4 Silo dalam masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini. Foto itu menunjukkan perjalanannya saat mengunjungi kediaman siswa yang belajar di rumah akibat wabah korona.

Home visit itu dilakukan karena banyak murid di sekolahnya yang tak bisa mengikuti belajar secara daring lantaran terbatasnya jaringan internet di tempat tinggal mereka. “Ada juga yang memang tidak memiliki smartphone. Tapi yang paling umum karena tidak adanya jaringan telekomunikasi yang memadai,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/5).

Lantaran kondisi itu, Bagus harus mendatangi ke rumah mereka masing-masing. Dalam kunjungan tiap sepekan sekali itu, dirinya tak hanya memberikan tugas tapi juga mengevaluasinya. “Hal ini wajar. Karena sekolahnya berada di sekitar Perkebunan PTPN XII Silosanen. Jadi, cukup pelosok,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekolah yang bertetangga dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu berada di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Jika ditempuh dari kawasan Kota Jember, jaraknya cukup jauh sekitar 46 kilometer. Kalau berangkat dari Alun-Alun Jember, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit agar bisa sampai ke sekolah. “Rumah saya di Perum Tegalbesar Permai, Kaliwates. Untuk ke sekolah jarak tempuhnya sekitar 90 kilometer lebih perjalanan pulang pergi. Belum lagi kalau ke rumah masing-masing siswa, tentu lebih jauh,” jelasnya.

Namun kondisi ini tak menyurutkan semangat ayah satu anak tersebut. Karena sejak dia menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, dirinya sudah bertekad mengabdi di dunia pendidikan. Makanya, pasca lulus pada 2013 lalu, Bagus mengaku sudah siap dengan kondisi apapun ketika dirinya terjun di pendidikan. “Sebelum wabah korona, paling saya hanya ke sekolah. Tapi saat ini harus menyapa satu-satu siswa dengan home visit,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagus Wahyudi tersenyum ketika menunjukkan foto di layar ponselnya. Gambar di HP Android itu merupakan rekaman kisah perjuangannya selama mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 4 Silo dalam masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini. Foto itu menunjukkan perjalanannya saat mengunjungi kediaman siswa yang belajar di rumah akibat wabah korona.

Home visit itu dilakukan karena banyak murid di sekolahnya yang tak bisa mengikuti belajar secara daring lantaran terbatasnya jaringan internet di tempat tinggal mereka. “Ada juga yang memang tidak memiliki smartphone. Tapi yang paling umum karena tidak adanya jaringan telekomunikasi yang memadai,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/5).

Lantaran kondisi itu, Bagus harus mendatangi ke rumah mereka masing-masing. Dalam kunjungan tiap sepekan sekali itu, dirinya tak hanya memberikan tugas tapi juga mengevaluasinya. “Hal ini wajar. Karena sekolahnya berada di sekitar Perkebunan PTPN XII Silosanen. Jadi, cukup pelosok,” ucapnya.

Sekolah yang bertetangga dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu berada di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Jika ditempuh dari kawasan Kota Jember, jaraknya cukup jauh sekitar 46 kilometer. Kalau berangkat dari Alun-Alun Jember, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit agar bisa sampai ke sekolah. “Rumah saya di Perum Tegalbesar Permai, Kaliwates. Untuk ke sekolah jarak tempuhnya sekitar 90 kilometer lebih perjalanan pulang pergi. Belum lagi kalau ke rumah masing-masing siswa, tentu lebih jauh,” jelasnya.

Namun kondisi ini tak menyurutkan semangat ayah satu anak tersebut. Karena sejak dia menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, dirinya sudah bertekad mengabdi di dunia pendidikan. Makanya, pasca lulus pada 2013 lalu, Bagus mengaku sudah siap dengan kondisi apapun ketika dirinya terjun di pendidikan. “Sebelum wabah korona, paling saya hanya ke sekolah. Tapi saat ini harus menyapa satu-satu siswa dengan home visit,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagus Wahyudi tersenyum ketika menunjukkan foto di layar ponselnya. Gambar di HP Android itu merupakan rekaman kisah perjuangannya selama mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 4 Silo dalam masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini. Foto itu menunjukkan perjalanannya saat mengunjungi kediaman siswa yang belajar di rumah akibat wabah korona.

Home visit itu dilakukan karena banyak murid di sekolahnya yang tak bisa mengikuti belajar secara daring lantaran terbatasnya jaringan internet di tempat tinggal mereka. “Ada juga yang memang tidak memiliki smartphone. Tapi yang paling umum karena tidak adanya jaringan telekomunikasi yang memadai,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/5).

Lantaran kondisi itu, Bagus harus mendatangi ke rumah mereka masing-masing. Dalam kunjungan tiap sepekan sekali itu, dirinya tak hanya memberikan tugas tapi juga mengevaluasinya. “Hal ini wajar. Karena sekolahnya berada di sekitar Perkebunan PTPN XII Silosanen. Jadi, cukup pelosok,” ucapnya.

Sekolah yang bertetangga dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu berada di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Jika ditempuh dari kawasan Kota Jember, jaraknya cukup jauh sekitar 46 kilometer. Kalau berangkat dari Alun-Alun Jember, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit agar bisa sampai ke sekolah. “Rumah saya di Perum Tegalbesar Permai, Kaliwates. Untuk ke sekolah jarak tempuhnya sekitar 90 kilometer lebih perjalanan pulang pergi. Belum lagi kalau ke rumah masing-masing siswa, tentu lebih jauh,” jelasnya.

Namun kondisi ini tak menyurutkan semangat ayah satu anak tersebut. Karena sejak dia menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, dirinya sudah bertekad mengabdi di dunia pendidikan. Makanya, pasca lulus pada 2013 lalu, Bagus mengaku sudah siap dengan kondisi apapun ketika dirinya terjun di pendidikan. “Sebelum wabah korona, paling saya hanya ke sekolah. Tapi saat ini harus menyapa satu-satu siswa dengan home visit,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/