alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Lebih Baik Mati Tenggelam

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nelayan Puger sejak dulu punya keberanian lebih daripada nelayan di wilayah Jember lainnya. Ombak besar di Plawangan tidak membuat nelayan bergeming sedikit pun. Walau tercatat banyak kapal karam, hingga mengakibatkan nelayan itu hilang. Namun, nelayan Puger tetap melaut, tanpa embel-embel rencana penyelamatan mandiri atau emergency. Apakah dulu juga seperti itu?

Pegiat sejarah dari Bhattara Saptaprabhu Zainollah Ahmad mengatakan, Puger termasuk wilayah yang lama bila berbicara sejarah. Bahkan, Puger juga disebut dalam masa perang Puputan Bayu (1771-1774), yaitu basis pertahanan para pejuang melawan VOC. Bahkan, sebelum Puger dikenal sebagai pelabuhan perikanan hingga sekarang, justru sebelumnya adalah pelabuhan militer.

“Pelabuhan di Puger dulu itu pelabuhan militer yang disebut loji dengan bangunan benteng. Di situ ditempatkan sepasukan militer yang dipimpin Serjant Janssen,” jelasnya.

Hal itu ditandai dengan adanya Pantjar Klattak dan sisa benteng. Pelabuhan militer tersebut mulai ada sekitar abad 18 Masehi. Puger menjadi pelabuhan militer yang penting kala itu, karena sebagai pangkalan untuk memantau para pejuang dan bajak laut atau disebut Zeerovers di Nusa Barong.

Namun, sekitar abad 19 Masehi, pelabuhan militer tersebut diubah menjadi pelabuhan perikanan. Masyarakat pesisir Puger sendiri juga banyak dihuni nelayan dari berbagai suku. “Ada Mandar, Jawa, Madura, dan Bugis,” jelasnya.

Nelayan dari Mandar, Bugis, dan Madura hingga sekarang masih dikatakan nelayan tradisional yang percaya pada mitos-mitos. Percaya mitos leluhur pun juga diterapkan nelayan Bugis untuk membaca doa-doa sebelum berangkat melaut.

Mengapa najab masih ada di nelayan Puger? Kata dia, karena nelayan Madura dan Bugis masih tradisional. Bahkan, juga ada istilah bagi nelayan itu lebih baik mati tenggelam daripada kembali ke darat. Pura tangkisi gulikku, pura babbara’ sompekku, ulebbirenggi tallanga notowalia. Begitulah peribahasa bagi nelayan Bugis. Artinya, telah ku kembang layarku, ku kayuh kemudiku, lebih baik mati tenggelam daripada surut langkah.

Oleh karena itu, bagi bangsa pelaut seperti Bugis dan Madura itu sama. “Mereka punya istilah pasrah kepada lautan. Sehingga, mengesampingkan pemakaian pelampung,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/