alexametrics
24.1 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Jumlah Laka Laut Menurun 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai selatan di Puger dikenal cukup unik. Sebab, tak jarang prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Belum lagi, karakter masyarakatnya yang juga relatif berbeda. Masyarakat setempat dikenal cukup keras dan tak punya rasa takut saat melaut. Oleh sebab itu, ketika terjadi kecelakaan laut hingga menimbulkan korban jiwa, petaka itu dianggap biasa saja. Kerawanan jalur Plawangan dianggap bukan halangan.

Kepala Satuan Polisi Air (Kasatpolair) Polres Jember Iptu M Nai mengungkapkan, untuk saat ini kecelakaan yang terjadi di laut menurun jumlahnya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Artinya, dia mengklaim, semakin ke belakang, masyarakat kian memprioritaskan keselamatan.

Pada tahun sebelumnya, kasus perahu terbalik di Puger bisa mencapai 5-7 kejadian dalam satu tahun. Namun, saat ini jumlahnya menurun. Pada tahun 2020 misalnya, jumlah kecelakaan berupa perahu terbalik menurun di bawah lima kasus. “Tahun 2020 bahkan kurang dari lima yang terjadi. Korban jiwa tidak ada,” katanya, kemarin (4/4).

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, catatan Jawa Pos Radar Jember menunjukkan, penurunan angka kecelakaan itu rupanya tidak terjadi pada 2021 ini. Akhir Maret kemarin saja, angka kecelakaan sudah sama dengan tahun sebelumnya, mencapai lima kasus perahu terbalik di jalur Plawangan. Satu orang nelayan, Mat Yasin, dilaporkan hilang. Korban diperkirakan tenggelam dan terbawa arus ke samudra.

Lalu, apa usaha kepolisian agar kasus tersebut tidak bertambah? Untuk mengurangi jumlah laka laut, M Nai menjelaskan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada nelayan. Bahkan, tahun ini semakin intens, yang dilakukan setiap sepekan sekali. Sosialisasi ini diselenggarakan secara bergilir di enam wilayah kecamatan yang berbatasan dengan laut di Jember. Yakni Puger, Kencong, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, dan Gumukmas. “Kami sudah sering mengumpulkan nelayan untuk kegiatan tertentu. Yang intinya saat melaut, alat keselamatan, yaitu pelampung, wajib digunakan,” tuturnya.

Dia mengakui, tidak mudah memang memberikan pemahaman kepada nelayan terkait bahaya melaut. Untuk itu, pihaknya konsisten menggunakan teknik persuasif kepada masyarakat mengenai keamanan yang harus dipatuhi ketika melaut. Sebab, jika cuaca buruk, masih ada saja nelayan yang nekat melaut. Mereka cenderung mengabaikan rambu-rambu penanda bahaya yang dipasang kepolisian.

Meski demikian, satpolair tidak memberikan sanksi kepada mereka yang menerabas rambu-rambu itu. Sebab, sudah menjadi kebiasaan dan berkaitan dengan penghasilan nelayan. “Kami memahami itu sebagai urusan perut. Kami juga paham, ketika mereka tetap akan melaut (karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, Red) ya sudah. Tidak apa-apa,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai selatan di Puger dikenal cukup unik. Sebab, tak jarang prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Belum lagi, karakter masyarakatnya yang juga relatif berbeda. Masyarakat setempat dikenal cukup keras dan tak punya rasa takut saat melaut. Oleh sebab itu, ketika terjadi kecelakaan laut hingga menimbulkan korban jiwa, petaka itu dianggap biasa saja. Kerawanan jalur Plawangan dianggap bukan halangan.

Kepala Satuan Polisi Air (Kasatpolair) Polres Jember Iptu M Nai mengungkapkan, untuk saat ini kecelakaan yang terjadi di laut menurun jumlahnya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Artinya, dia mengklaim, semakin ke belakang, masyarakat kian memprioritaskan keselamatan.

Pada tahun sebelumnya, kasus perahu terbalik di Puger bisa mencapai 5-7 kejadian dalam satu tahun. Namun, saat ini jumlahnya menurun. Pada tahun 2020 misalnya, jumlah kecelakaan berupa perahu terbalik menurun di bawah lima kasus. “Tahun 2020 bahkan kurang dari lima yang terjadi. Korban jiwa tidak ada,” katanya, kemarin (4/4).

Namun, catatan Jawa Pos Radar Jember menunjukkan, penurunan angka kecelakaan itu rupanya tidak terjadi pada 2021 ini. Akhir Maret kemarin saja, angka kecelakaan sudah sama dengan tahun sebelumnya, mencapai lima kasus perahu terbalik di jalur Plawangan. Satu orang nelayan, Mat Yasin, dilaporkan hilang. Korban diperkirakan tenggelam dan terbawa arus ke samudra.

Lalu, apa usaha kepolisian agar kasus tersebut tidak bertambah? Untuk mengurangi jumlah laka laut, M Nai menjelaskan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada nelayan. Bahkan, tahun ini semakin intens, yang dilakukan setiap sepekan sekali. Sosialisasi ini diselenggarakan secara bergilir di enam wilayah kecamatan yang berbatasan dengan laut di Jember. Yakni Puger, Kencong, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, dan Gumukmas. “Kami sudah sering mengumpulkan nelayan untuk kegiatan tertentu. Yang intinya saat melaut, alat keselamatan, yaitu pelampung, wajib digunakan,” tuturnya.

Dia mengakui, tidak mudah memang memberikan pemahaman kepada nelayan terkait bahaya melaut. Untuk itu, pihaknya konsisten menggunakan teknik persuasif kepada masyarakat mengenai keamanan yang harus dipatuhi ketika melaut. Sebab, jika cuaca buruk, masih ada saja nelayan yang nekat melaut. Mereka cenderung mengabaikan rambu-rambu penanda bahaya yang dipasang kepolisian.

Meski demikian, satpolair tidak memberikan sanksi kepada mereka yang menerabas rambu-rambu itu. Sebab, sudah menjadi kebiasaan dan berkaitan dengan penghasilan nelayan. “Kami memahami itu sebagai urusan perut. Kami juga paham, ketika mereka tetap akan melaut (karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, Red) ya sudah. Tidak apa-apa,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai selatan di Puger dikenal cukup unik. Sebab, tak jarang prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Belum lagi, karakter masyarakatnya yang juga relatif berbeda. Masyarakat setempat dikenal cukup keras dan tak punya rasa takut saat melaut. Oleh sebab itu, ketika terjadi kecelakaan laut hingga menimbulkan korban jiwa, petaka itu dianggap biasa saja. Kerawanan jalur Plawangan dianggap bukan halangan.

Kepala Satuan Polisi Air (Kasatpolair) Polres Jember Iptu M Nai mengungkapkan, untuk saat ini kecelakaan yang terjadi di laut menurun jumlahnya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Artinya, dia mengklaim, semakin ke belakang, masyarakat kian memprioritaskan keselamatan.

Pada tahun sebelumnya, kasus perahu terbalik di Puger bisa mencapai 5-7 kejadian dalam satu tahun. Namun, saat ini jumlahnya menurun. Pada tahun 2020 misalnya, jumlah kecelakaan berupa perahu terbalik menurun di bawah lima kasus. “Tahun 2020 bahkan kurang dari lima yang terjadi. Korban jiwa tidak ada,” katanya, kemarin (4/4).

Namun, catatan Jawa Pos Radar Jember menunjukkan, penurunan angka kecelakaan itu rupanya tidak terjadi pada 2021 ini. Akhir Maret kemarin saja, angka kecelakaan sudah sama dengan tahun sebelumnya, mencapai lima kasus perahu terbalik di jalur Plawangan. Satu orang nelayan, Mat Yasin, dilaporkan hilang. Korban diperkirakan tenggelam dan terbawa arus ke samudra.

Lalu, apa usaha kepolisian agar kasus tersebut tidak bertambah? Untuk mengurangi jumlah laka laut, M Nai menjelaskan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada nelayan. Bahkan, tahun ini semakin intens, yang dilakukan setiap sepekan sekali. Sosialisasi ini diselenggarakan secara bergilir di enam wilayah kecamatan yang berbatasan dengan laut di Jember. Yakni Puger, Kencong, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, dan Gumukmas. “Kami sudah sering mengumpulkan nelayan untuk kegiatan tertentu. Yang intinya saat melaut, alat keselamatan, yaitu pelampung, wajib digunakan,” tuturnya.

Dia mengakui, tidak mudah memang memberikan pemahaman kepada nelayan terkait bahaya melaut. Untuk itu, pihaknya konsisten menggunakan teknik persuasif kepada masyarakat mengenai keamanan yang harus dipatuhi ketika melaut. Sebab, jika cuaca buruk, masih ada saja nelayan yang nekat melaut. Mereka cenderung mengabaikan rambu-rambu penanda bahaya yang dipasang kepolisian.

Meski demikian, satpolair tidak memberikan sanksi kepada mereka yang menerabas rambu-rambu itu. Sebab, sudah menjadi kebiasaan dan berkaitan dengan penghasilan nelayan. “Kami memahami itu sebagai urusan perut. Kami juga paham, ketika mereka tetap akan melaut (karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, Red) ya sudah. Tidak apa-apa,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/