alexametrics
23.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Banyak Dalih, Susah Maju

Mobile_AP_Rectangle 1

Deng Xiaping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini ekonomi satu kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.

Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan.

Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju.

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana?
Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S3 Universitas Pajajaran Bandung itu.

Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya.

Ke pojok seperti Xixuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari pemerintah Amerika…eh Tiongkok.

Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.

Yaaa… sudahlah. Kalau begitu.(*)

- Advertisement -

Deng Xiaping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika.

Kini ekonomi satu kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.

Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan.

Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju.

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana?
Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S3 Universitas Pajajaran Bandung itu.

Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya.

Ke pojok seperti Xixuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari pemerintah Amerika…eh Tiongkok.

Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.

Yaaa… sudahlah. Kalau begitu.(*)

Deng Xiaping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika.

Kini ekonomi satu kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.

Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan.

Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju.

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana?
Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S3 Universitas Pajajaran Bandung itu.

Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya.

Ke pojok seperti Xixuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari pemerintah Amerika…eh Tiongkok.

Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.

Yaaa… sudahlah. Kalau begitu.(*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/