alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Temukan Batu Tulis “Rang Jing”

Mobile_AP_Rectangle 1

Berdasarkan temuan yang dihimpun di yayasannya, jumlah temuannya tak lebih dari 10. Penemuan itu perlu mendapatkan sebuah kajian dari pakar. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan museum daerah untuk segera ada.

Dengan demikian, semua barang antik yang ditemukan dapat dikoleksi oleh pemerintah daerah melalui museum. Selanjutnya dilakukan sebuah diskusi untuk melacak riwayat sejarahnya. “Berdasarkan undang-undang, barang-barang itu bisa disimpan di yayasan individu, swasta, dan daerah. Tapi, daerah punya andil besar. Karena program ini sudah ada di RPJMD,” ungkap Yopi.

Dengan demikian, literasi dan penyimpanan akan barang-barang yang menjadi temuan itu tetap ada. Serta kajian-kajian untuk melacak sejarahnya pun akan hidup. Sehingga ke depan anak muda atau masyarakat Jember tidak buta akan sejarah yang ada. “Walaupun berbentuk galeri tidak apa-apa, yang penting ada dulu,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun wacana penempatan museum daerah di bekas bangunan atau kantor Dinsos, menurutnya cukup baik. Namun, jika tidak kunjung direalisasikan, maka akan menjadi wacana. Sehingga cita-cita untuk memiliki museum daerah akan menjadi wacana saja.

Yopi menjelaskan, jika kondisi ini tetap berlangsung, yakni tidak adanya museum, maka barang-barang temuan itu berpotensi tidak dapat terdokumentasi dengan baik. Kajian dan jejak sejarahnya juga akan hilang. “Yang paling penting adalah kajian-kajian dari sebuah penemuan. Jadi, bisa dilacak sejarahnya bagaimana,” urainya.

Jurnalis: Dian Cahyani

Fotografer: Dian Cahyani

Editor: Nur Hariri

- Advertisement -

Berdasarkan temuan yang dihimpun di yayasannya, jumlah temuannya tak lebih dari 10. Penemuan itu perlu mendapatkan sebuah kajian dari pakar. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan museum daerah untuk segera ada.

Dengan demikian, semua barang antik yang ditemukan dapat dikoleksi oleh pemerintah daerah melalui museum. Selanjutnya dilakukan sebuah diskusi untuk melacak riwayat sejarahnya. “Berdasarkan undang-undang, barang-barang itu bisa disimpan di yayasan individu, swasta, dan daerah. Tapi, daerah punya andil besar. Karena program ini sudah ada di RPJMD,” ungkap Yopi.

Dengan demikian, literasi dan penyimpanan akan barang-barang yang menjadi temuan itu tetap ada. Serta kajian-kajian untuk melacak sejarahnya pun akan hidup. Sehingga ke depan anak muda atau masyarakat Jember tidak buta akan sejarah yang ada. “Walaupun berbentuk galeri tidak apa-apa, yang penting ada dulu,” jelasnya.

Adapun wacana penempatan museum daerah di bekas bangunan atau kantor Dinsos, menurutnya cukup baik. Namun, jika tidak kunjung direalisasikan, maka akan menjadi wacana. Sehingga cita-cita untuk memiliki museum daerah akan menjadi wacana saja.

Yopi menjelaskan, jika kondisi ini tetap berlangsung, yakni tidak adanya museum, maka barang-barang temuan itu berpotensi tidak dapat terdokumentasi dengan baik. Kajian dan jejak sejarahnya juga akan hilang. “Yang paling penting adalah kajian-kajian dari sebuah penemuan. Jadi, bisa dilacak sejarahnya bagaimana,” urainya.

Jurnalis: Dian Cahyani

Fotografer: Dian Cahyani

Editor: Nur Hariri

Berdasarkan temuan yang dihimpun di yayasannya, jumlah temuannya tak lebih dari 10. Penemuan itu perlu mendapatkan sebuah kajian dari pakar. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan museum daerah untuk segera ada.

Dengan demikian, semua barang antik yang ditemukan dapat dikoleksi oleh pemerintah daerah melalui museum. Selanjutnya dilakukan sebuah diskusi untuk melacak riwayat sejarahnya. “Berdasarkan undang-undang, barang-barang itu bisa disimpan di yayasan individu, swasta, dan daerah. Tapi, daerah punya andil besar. Karena program ini sudah ada di RPJMD,” ungkap Yopi.

Dengan demikian, literasi dan penyimpanan akan barang-barang yang menjadi temuan itu tetap ada. Serta kajian-kajian untuk melacak sejarahnya pun akan hidup. Sehingga ke depan anak muda atau masyarakat Jember tidak buta akan sejarah yang ada. “Walaupun berbentuk galeri tidak apa-apa, yang penting ada dulu,” jelasnya.

Adapun wacana penempatan museum daerah di bekas bangunan atau kantor Dinsos, menurutnya cukup baik. Namun, jika tidak kunjung direalisasikan, maka akan menjadi wacana. Sehingga cita-cita untuk memiliki museum daerah akan menjadi wacana saja.

Yopi menjelaskan, jika kondisi ini tetap berlangsung, yakni tidak adanya museum, maka barang-barang temuan itu berpotensi tidak dapat terdokumentasi dengan baik. Kajian dan jejak sejarahnya juga akan hilang. “Yang paling penting adalah kajian-kajian dari sebuah penemuan. Jadi, bisa dilacak sejarahnya bagaimana,” urainya.

Jurnalis: Dian Cahyani

Fotografer: Dian Cahyani

Editor: Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/