alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Temukan Batu Tulis “Rang Jing”

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baru-baru ini yayasan Boemi Poeger menemukan batu tulis. Indikasinya, batu ini adalah sisa kerajaan zaman dulu. Pembina Yayasan Boemi Puger Yopi Setiyo Hadi menyebut, temuan itu dalam penelitian.

Batu itu didapat oleh salah seorang warga Kranjingan. Lokasi penemuan terletak di areal Pesarean Mbah Ranting, yang terletak di areal persawahan Muktisari, Kelurahan Tegal Besar. “Bermula dari laporan saudara Imam Jazuli. Lalu, kami survei lokasi,” ungkap Yopi.

Selanjutnya, pendataan pun dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember. Tak hanya pendataan, Yopi mengungkapkan, pihaknya dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember juga melakukan perekaman titik koordinat lokasi areal dan temuan-temuan yang ada di areal Pesarean Mbah Ranting.  “Di sekitar pohon ini batu bertulis tersebut ditemukan,” kata Imam Jazuli, menunjuk pohon jambu tua yang ada di areal pesarean tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Temuan-temuan lainnya di lokasi Pesarean Mbah Ranting adalah makam dengan dua patok nisan dari granit (baru), blumpang dengan ceruk di tengahnya, yang terdapat batu bulat, serta dua batu lonjong di sekitar lumpang. Identifikasinya, batu bertulis tersebut berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 24 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 7 cm, dengan berat 3.184 gram atau 3,18 kilogram, dan di satu sisi terpahat beberapa aksara. “Masih akan dikaji untuk aksara dan tulisannya apa,” imbuhnya.

Hingga saat ini, hasil dari identifikasi atas penemuan tersebut dilakukan oleh pakar epigraf Jawa Timur, Goenawan Sambodo. Ia dikenal sebagai ahli epigraf dan ahli sejarah kuno, serta menjadi mitra para pegiat sejarah nasional. Semua prosesnya dilakukan secara daring. “Mbah Goen menyebutkan ada sekitar 4 sampai 5 huruf, sedangkan yang bisa terbaca jelas huruf pertama dan huruf kedua,” tuturnya.

“Rang Jing”, demikian huruf pertama dan kedua hasil pembacaan oleh Mbah Goen. Untuk selanjutnya, Mbah Goen menyarankan agar temuan tersebut dilaporkan ke pihak berwenang, pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Kami akan melaporkan secara tertulis kepada Bupati Jember melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, juga ke BPCB Jawa Timur di Trowulan,” pungkas Yopi.

Setahun Banyak Benda Ditemukan

Penemuan barang bersejarah secara nasional disebut meningkat. Hal ini diikuti dengan beberapa penemuan di tingkat regional, seperti di Jember. Jumlahnya naik setiap tahun. Hal ini diungkapkan Yopi Setyo Hadi.  Namun, masih tidak dapat dikalkulasikan. Sebab, siklusnya, penemuan itu perlu mendapatkan follow-up pengkajian. Sehingga didapat data dan indikasi barang temuan itu.

Mengenai jejak sejarah dan usia temuan itu, Yopi tidak dapat memberikan komentar kenaikannya berapa persen. “Butuh follow-up kajian. Kalau berapa persen kebaikannya, belum bisa menjawab, karena belum ada datanya,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baru-baru ini yayasan Boemi Poeger menemukan batu tulis. Indikasinya, batu ini adalah sisa kerajaan zaman dulu. Pembina Yayasan Boemi Puger Yopi Setiyo Hadi menyebut, temuan itu dalam penelitian.

Batu itu didapat oleh salah seorang warga Kranjingan. Lokasi penemuan terletak di areal Pesarean Mbah Ranting, yang terletak di areal persawahan Muktisari, Kelurahan Tegal Besar. “Bermula dari laporan saudara Imam Jazuli. Lalu, kami survei lokasi,” ungkap Yopi.

Selanjutnya, pendataan pun dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember. Tak hanya pendataan, Yopi mengungkapkan, pihaknya dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember juga melakukan perekaman titik koordinat lokasi areal dan temuan-temuan yang ada di areal Pesarean Mbah Ranting.  “Di sekitar pohon ini batu bertulis tersebut ditemukan,” kata Imam Jazuli, menunjuk pohon jambu tua yang ada di areal pesarean tersebut.

Temuan-temuan lainnya di lokasi Pesarean Mbah Ranting adalah makam dengan dua patok nisan dari granit (baru), blumpang dengan ceruk di tengahnya, yang terdapat batu bulat, serta dua batu lonjong di sekitar lumpang. Identifikasinya, batu bertulis tersebut berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 24 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 7 cm, dengan berat 3.184 gram atau 3,18 kilogram, dan di satu sisi terpahat beberapa aksara. “Masih akan dikaji untuk aksara dan tulisannya apa,” imbuhnya.

Hingga saat ini, hasil dari identifikasi atas penemuan tersebut dilakukan oleh pakar epigraf Jawa Timur, Goenawan Sambodo. Ia dikenal sebagai ahli epigraf dan ahli sejarah kuno, serta menjadi mitra para pegiat sejarah nasional. Semua prosesnya dilakukan secara daring. “Mbah Goen menyebutkan ada sekitar 4 sampai 5 huruf, sedangkan yang bisa terbaca jelas huruf pertama dan huruf kedua,” tuturnya.

“Rang Jing”, demikian huruf pertama dan kedua hasil pembacaan oleh Mbah Goen. Untuk selanjutnya, Mbah Goen menyarankan agar temuan tersebut dilaporkan ke pihak berwenang, pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Kami akan melaporkan secara tertulis kepada Bupati Jember melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, juga ke BPCB Jawa Timur di Trowulan,” pungkas Yopi.

Setahun Banyak Benda Ditemukan

Penemuan barang bersejarah secara nasional disebut meningkat. Hal ini diikuti dengan beberapa penemuan di tingkat regional, seperti di Jember. Jumlahnya naik setiap tahun. Hal ini diungkapkan Yopi Setyo Hadi.  Namun, masih tidak dapat dikalkulasikan. Sebab, siklusnya, penemuan itu perlu mendapatkan follow-up pengkajian. Sehingga didapat data dan indikasi barang temuan itu.

Mengenai jejak sejarah dan usia temuan itu, Yopi tidak dapat memberikan komentar kenaikannya berapa persen. “Butuh follow-up kajian. Kalau berapa persen kebaikannya, belum bisa menjawab, karena belum ada datanya,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baru-baru ini yayasan Boemi Poeger menemukan batu tulis. Indikasinya, batu ini adalah sisa kerajaan zaman dulu. Pembina Yayasan Boemi Puger Yopi Setiyo Hadi menyebut, temuan itu dalam penelitian.

Batu itu didapat oleh salah seorang warga Kranjingan. Lokasi penemuan terletak di areal Pesarean Mbah Ranting, yang terletak di areal persawahan Muktisari, Kelurahan Tegal Besar. “Bermula dari laporan saudara Imam Jazuli. Lalu, kami survei lokasi,” ungkap Yopi.

Selanjutnya, pendataan pun dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember. Tak hanya pendataan, Yopi mengungkapkan, pihaknya dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember juga melakukan perekaman titik koordinat lokasi areal dan temuan-temuan yang ada di areal Pesarean Mbah Ranting.  “Di sekitar pohon ini batu bertulis tersebut ditemukan,” kata Imam Jazuli, menunjuk pohon jambu tua yang ada di areal pesarean tersebut.

Temuan-temuan lainnya di lokasi Pesarean Mbah Ranting adalah makam dengan dua patok nisan dari granit (baru), blumpang dengan ceruk di tengahnya, yang terdapat batu bulat, serta dua batu lonjong di sekitar lumpang. Identifikasinya, batu bertulis tersebut berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 24 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 7 cm, dengan berat 3.184 gram atau 3,18 kilogram, dan di satu sisi terpahat beberapa aksara. “Masih akan dikaji untuk aksara dan tulisannya apa,” imbuhnya.

Hingga saat ini, hasil dari identifikasi atas penemuan tersebut dilakukan oleh pakar epigraf Jawa Timur, Goenawan Sambodo. Ia dikenal sebagai ahli epigraf dan ahli sejarah kuno, serta menjadi mitra para pegiat sejarah nasional. Semua prosesnya dilakukan secara daring. “Mbah Goen menyebutkan ada sekitar 4 sampai 5 huruf, sedangkan yang bisa terbaca jelas huruf pertama dan huruf kedua,” tuturnya.

“Rang Jing”, demikian huruf pertama dan kedua hasil pembacaan oleh Mbah Goen. Untuk selanjutnya, Mbah Goen menyarankan agar temuan tersebut dilaporkan ke pihak berwenang, pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Kami akan melaporkan secara tertulis kepada Bupati Jember melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, juga ke BPCB Jawa Timur di Trowulan,” pungkas Yopi.

Setahun Banyak Benda Ditemukan

Penemuan barang bersejarah secara nasional disebut meningkat. Hal ini diikuti dengan beberapa penemuan di tingkat regional, seperti di Jember. Jumlahnya naik setiap tahun. Hal ini diungkapkan Yopi Setyo Hadi.  Namun, masih tidak dapat dikalkulasikan. Sebab, siklusnya, penemuan itu perlu mendapatkan follow-up pengkajian. Sehingga didapat data dan indikasi barang temuan itu.

Mengenai jejak sejarah dan usia temuan itu, Yopi tidak dapat memberikan komentar kenaikannya berapa persen. “Butuh follow-up kajian. Kalau berapa persen kebaikannya, belum bisa menjawab, karena belum ada datanya,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/