alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Dosen UNEJ Intervensi, Mahasiswa Depresi

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO, Radar Jember“Iyo. Aku ora butuh suaramu. Paham sekarang.” Itulah penggalan pesan WhatsApp dari Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Herman yang diterima salah seorang mahasiswa. Pesan itu adalah puncak pernyataan dari Kaprodi setelah mahasiswa itu menolak secara halus instruksi agar memilih salah satu calon Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Beberapa hari sebelum adanya pemilihan ketua BEM, mahasiswa itu mendapat pesan dari asisten kaprodinya. Pesan itu berisi ajakan agar memilih salah satu pasangan calon ketua BEM. Jika bersedia mengikuti anjuran itu, maka ia akan mendapat kemudahan dalam segala hal. Termasuk soal urusan akademik.

Pesan WhatsApp yang sama kerap ia dapatkan. Mahasiswa itu merasa terganggu. Hingga puncaknya, kaprodinya langsung menghubungi dia melalui pesan dan panggilan WhatsApp. Obrolan melalui aplikasi percakapan itu berisi tentang sudah atau tidaknya pemilihan BEM. “Kalau ancaman tidak ada. Tapi, yang bikin saya takut itu pesan, aku ora butuh suaramu,” tutur mahasiswa baru FEB Unej itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia adalah salah satu mahasiswa yang diminta memilih salah satu pasangan calon (paslon) ketua BEM di FEB Unej oleh pihak dekanat. Setidaknya ada 20 mahasiswa lain yang mengalami hal serupa. Namun, mereka enggan untuk bersuara karena khawatir dengan nilai mata kuliahnya.

Tak hanya Kaprodi IESP, pejabat dekanat lain juga melakukan hal serupa. Meminta mahasiswa agar memilih salah satu paslon. Salah satunya adalah Dekan FEB Unej. Bahkan, dia menginstruksikan agar mahasiswa S-2 juga turut serta memilih. Padahal aturannya, pemilihan ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa S-1 saja.

Hal ini memantik puluhan mahasiswa FEB yang mengatasnamakan diri Aliansi Penyelamat Demokrasi menggelar demonstrasi. Berseragam warna hitam, sekitar 50-an mahasiswa menyampaikan empat tuntutan. Pertama, pengakuan intimidasi pada mahasiswa untuk pemenangan calon ketua BEM. Kedua, meminta maaf atas insiden itu. Dan ketiga, jaminan dari dosen FEB mengenai kegiatan akademik yang berlangsung.

- Advertisement -

TEGALBOTO, Radar Jember“Iyo. Aku ora butuh suaramu. Paham sekarang.” Itulah penggalan pesan WhatsApp dari Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Herman yang diterima salah seorang mahasiswa. Pesan itu adalah puncak pernyataan dari Kaprodi setelah mahasiswa itu menolak secara halus instruksi agar memilih salah satu calon Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Beberapa hari sebelum adanya pemilihan ketua BEM, mahasiswa itu mendapat pesan dari asisten kaprodinya. Pesan itu berisi ajakan agar memilih salah satu pasangan calon ketua BEM. Jika bersedia mengikuti anjuran itu, maka ia akan mendapat kemudahan dalam segala hal. Termasuk soal urusan akademik.

Pesan WhatsApp yang sama kerap ia dapatkan. Mahasiswa itu merasa terganggu. Hingga puncaknya, kaprodinya langsung menghubungi dia melalui pesan dan panggilan WhatsApp. Obrolan melalui aplikasi percakapan itu berisi tentang sudah atau tidaknya pemilihan BEM. “Kalau ancaman tidak ada. Tapi, yang bikin saya takut itu pesan, aku ora butuh suaramu,” tutur mahasiswa baru FEB Unej itu.

Dia adalah salah satu mahasiswa yang diminta memilih salah satu pasangan calon (paslon) ketua BEM di FEB Unej oleh pihak dekanat. Setidaknya ada 20 mahasiswa lain yang mengalami hal serupa. Namun, mereka enggan untuk bersuara karena khawatir dengan nilai mata kuliahnya.

Tak hanya Kaprodi IESP, pejabat dekanat lain juga melakukan hal serupa. Meminta mahasiswa agar memilih salah satu paslon. Salah satunya adalah Dekan FEB Unej. Bahkan, dia menginstruksikan agar mahasiswa S-2 juga turut serta memilih. Padahal aturannya, pemilihan ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa S-1 saja.

Hal ini memantik puluhan mahasiswa FEB yang mengatasnamakan diri Aliansi Penyelamat Demokrasi menggelar demonstrasi. Berseragam warna hitam, sekitar 50-an mahasiswa menyampaikan empat tuntutan. Pertama, pengakuan intimidasi pada mahasiswa untuk pemenangan calon ketua BEM. Kedua, meminta maaf atas insiden itu. Dan ketiga, jaminan dari dosen FEB mengenai kegiatan akademik yang berlangsung.

TEGALBOTO, Radar Jember“Iyo. Aku ora butuh suaramu. Paham sekarang.” Itulah penggalan pesan WhatsApp dari Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Herman yang diterima salah seorang mahasiswa. Pesan itu adalah puncak pernyataan dari Kaprodi setelah mahasiswa itu menolak secara halus instruksi agar memilih salah satu calon Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Beberapa hari sebelum adanya pemilihan ketua BEM, mahasiswa itu mendapat pesan dari asisten kaprodinya. Pesan itu berisi ajakan agar memilih salah satu pasangan calon ketua BEM. Jika bersedia mengikuti anjuran itu, maka ia akan mendapat kemudahan dalam segala hal. Termasuk soal urusan akademik.

Pesan WhatsApp yang sama kerap ia dapatkan. Mahasiswa itu merasa terganggu. Hingga puncaknya, kaprodinya langsung menghubungi dia melalui pesan dan panggilan WhatsApp. Obrolan melalui aplikasi percakapan itu berisi tentang sudah atau tidaknya pemilihan BEM. “Kalau ancaman tidak ada. Tapi, yang bikin saya takut itu pesan, aku ora butuh suaramu,” tutur mahasiswa baru FEB Unej itu.

Dia adalah salah satu mahasiswa yang diminta memilih salah satu pasangan calon (paslon) ketua BEM di FEB Unej oleh pihak dekanat. Setidaknya ada 20 mahasiswa lain yang mengalami hal serupa. Namun, mereka enggan untuk bersuara karena khawatir dengan nilai mata kuliahnya.

Tak hanya Kaprodi IESP, pejabat dekanat lain juga melakukan hal serupa. Meminta mahasiswa agar memilih salah satu paslon. Salah satunya adalah Dekan FEB Unej. Bahkan, dia menginstruksikan agar mahasiswa S-2 juga turut serta memilih. Padahal aturannya, pemilihan ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa S-1 saja.

Hal ini memantik puluhan mahasiswa FEB yang mengatasnamakan diri Aliansi Penyelamat Demokrasi menggelar demonstrasi. Berseragam warna hitam, sekitar 50-an mahasiswa menyampaikan empat tuntutan. Pertama, pengakuan intimidasi pada mahasiswa untuk pemenangan calon ketua BEM. Kedua, meminta maaf atas insiden itu. Dan ketiga, jaminan dari dosen FEB mengenai kegiatan akademik yang berlangsung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/