alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Seperti Parade Dump truck

Mobile_AP_Rectangle 1

Dia mengaku berangkat dari Kencong pukul 06.00, setelah memarkir truk, dirinya lantas mencari sopir lain, tapi sudah tidak ada. “Saya terpaksa sendirian di depan pemkab sambil menunggu truk yang diparkir,” pungkasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, aksi mogok para sopir ini berdampak terhadap penumpukan sampah di TPS. Di Jalan Karimata, Sumbersari, misalnya, terlihat tumpukan limbah rumah tangga yang sudah terbungkus kantong plastik berserakan hingga ke pinggir jalan. Kondisi ini tak hanya mengganggu pengendara, tapi juga warga sekitar. Apalagi, TPS itu juga berdekatan dengan warung makan.

Tak hanya di kawasan kota, pengangkutan sampah di kecamatan pinggiran juga tersendat. Hal itu terlihat dari pantauan ke sejumlah TPA yang sepi pembuangan saat aksi mogok itu berlangsung,  Senin (4/1) kemarin. Seperti yang terjadi di TPA Kencong. Biasanya, TPA ini cukup ramai kendaraan pengangkut sampah yang datang dari wilayah Kencong, Puger, dan Tanggul. Namun, kemarin nyaris tak ada aktivitas. “Kami yang dirugikan. Karena sampah menumpuk di pasar belum diambil juga,” kata Untung As’ad, pengelola Pasar Baru Kencong.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai pengelola, pihaknya jelas membutuhkan kendaraan pengangkut sampah itu. Sebab, jika tidak ada, sudah pasti sampah di pasar akan keleleran tak terurus. Jika terlalu lama juga menimbulkan bau tak sedap. “Dan lagi-lagi, masyarakat yang dirugikan,” sambungnya.

Tak hanya pengelola pasar, para pemulung hingga pedagang pasar pun turut mengeluh. Sebab, hampir tiap hari pedagang di pasar menghasilkan sampah. “Sampah sebenarnya sepele, tapi kalau tidak diurus tetap ruwet. Tak hanya mengganggu lingkungan, tapi juga mencemari kalau terlalu lama dibiarkan,” keluh Lilik Sulis, salah satu pedagang di pasar tersebut.

- Advertisement -

Dia mengaku berangkat dari Kencong pukul 06.00, setelah memarkir truk, dirinya lantas mencari sopir lain, tapi sudah tidak ada. “Saya terpaksa sendirian di depan pemkab sambil menunggu truk yang diparkir,” pungkasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, aksi mogok para sopir ini berdampak terhadap penumpukan sampah di TPS. Di Jalan Karimata, Sumbersari, misalnya, terlihat tumpukan limbah rumah tangga yang sudah terbungkus kantong plastik berserakan hingga ke pinggir jalan. Kondisi ini tak hanya mengganggu pengendara, tapi juga warga sekitar. Apalagi, TPS itu juga berdekatan dengan warung makan.

Tak hanya di kawasan kota, pengangkutan sampah di kecamatan pinggiran juga tersendat. Hal itu terlihat dari pantauan ke sejumlah TPA yang sepi pembuangan saat aksi mogok itu berlangsung,  Senin (4/1) kemarin. Seperti yang terjadi di TPA Kencong. Biasanya, TPA ini cukup ramai kendaraan pengangkut sampah yang datang dari wilayah Kencong, Puger, dan Tanggul. Namun, kemarin nyaris tak ada aktivitas. “Kami yang dirugikan. Karena sampah menumpuk di pasar belum diambil juga,” kata Untung As’ad, pengelola Pasar Baru Kencong.

Sebagai pengelola, pihaknya jelas membutuhkan kendaraan pengangkut sampah itu. Sebab, jika tidak ada, sudah pasti sampah di pasar akan keleleran tak terurus. Jika terlalu lama juga menimbulkan bau tak sedap. “Dan lagi-lagi, masyarakat yang dirugikan,” sambungnya.

Tak hanya pengelola pasar, para pemulung hingga pedagang pasar pun turut mengeluh. Sebab, hampir tiap hari pedagang di pasar menghasilkan sampah. “Sampah sebenarnya sepele, tapi kalau tidak diurus tetap ruwet. Tak hanya mengganggu lingkungan, tapi juga mencemari kalau terlalu lama dibiarkan,” keluh Lilik Sulis, salah satu pedagang di pasar tersebut.

Dia mengaku berangkat dari Kencong pukul 06.00, setelah memarkir truk, dirinya lantas mencari sopir lain, tapi sudah tidak ada. “Saya terpaksa sendirian di depan pemkab sambil menunggu truk yang diparkir,” pungkasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, aksi mogok para sopir ini berdampak terhadap penumpukan sampah di TPS. Di Jalan Karimata, Sumbersari, misalnya, terlihat tumpukan limbah rumah tangga yang sudah terbungkus kantong plastik berserakan hingga ke pinggir jalan. Kondisi ini tak hanya mengganggu pengendara, tapi juga warga sekitar. Apalagi, TPS itu juga berdekatan dengan warung makan.

Tak hanya di kawasan kota, pengangkutan sampah di kecamatan pinggiran juga tersendat. Hal itu terlihat dari pantauan ke sejumlah TPA yang sepi pembuangan saat aksi mogok itu berlangsung,  Senin (4/1) kemarin. Seperti yang terjadi di TPA Kencong. Biasanya, TPA ini cukup ramai kendaraan pengangkut sampah yang datang dari wilayah Kencong, Puger, dan Tanggul. Namun, kemarin nyaris tak ada aktivitas. “Kami yang dirugikan. Karena sampah menumpuk di pasar belum diambil juga,” kata Untung As’ad, pengelola Pasar Baru Kencong.

Sebagai pengelola, pihaknya jelas membutuhkan kendaraan pengangkut sampah itu. Sebab, jika tidak ada, sudah pasti sampah di pasar akan keleleran tak terurus. Jika terlalu lama juga menimbulkan bau tak sedap. “Dan lagi-lagi, masyarakat yang dirugikan,” sambungnya.

Tak hanya pengelola pasar, para pemulung hingga pedagang pasar pun turut mengeluh. Sebab, hampir tiap hari pedagang di pasar menghasilkan sampah. “Sampah sebenarnya sepele, tapi kalau tidak diurus tetap ruwet. Tak hanya mengganggu lingkungan, tapi juga mencemari kalau terlalu lama dibiarkan,” keluh Lilik Sulis, salah satu pedagang di pasar tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/