alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Seperti Parade Dump truck

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga Senin (4/1) sore, puluhan armada pengangkut sampah masih diparkir di depan Kantor Pemkab Jember dan Pendapa Wahyawibawagraha di Jalan Wijaya Kusuma. Puluhan kendaraan jenis dump truck itu diparkir oleh para sopir sebagai bentuk protes. Mereka mogok kerja karena tidak ada lagi biaya operasional untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM).

Pengakuan para sopir, sudah dua bulan terakhir ini, untuk membeli BBM mereka harus menalangi terlebih dulu. Bahkan, bukan hanya dump truck yang dibiarkan berjajar seperti parade, tapi juga ada mobil tangki yang biasa digunakan menyiram taman. Dua armada ini berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember.

Banyaknya truk pengangkut sampah yang parkir ini menjadi perhatian pegawai pemkab yang hendak kerja. Sebab, sopir truk itu memarkir kendaraannya pagi hari, sebelum jam pegawai pemkab itu datang. Pukul 06.00, puluhan truk sudah berjajar di Jalan Sudarman, depan gedung pemkab.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dampak mogoknya puluhan sopir truk ini, sampah yang ada di beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) tidak terangkut. Bahkan, di sisi utara Alun-Alun Jember juga terlihat ada tumpukan sampah yang belum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Sampah itu merupakan jenis sampah basah dan sampah kering.

“Truk yang biasa saya gunakan mengangkut sampah, saya tinggal di rumah di Gebang. Karena tidak ada solarnya,” kata Suwaji, sopir dump truck yang kala itu bersama petugas kebersihan. Sebelumnya, Suwaji mengaku, dirinya selalu menalangi lebih dulu pembelian BBM. Ini agar truk bisa mengangkut sampah ke TPA Pakusari. “Mudah-mudahan cepat ada solusi biar sampah yang ada di kota bisa terangkut ke TPA,” harapnya.

Sementara itu, Arifin, sopir dump truck dari TPA Kencong, mengaku tidak tahu-menahu aksi mogok yang dilakukan para sopir lainnya. “Saya hanya diminta datang ke Alun-Alun Jember sambil membawa truk,” kata warga Dusun Kamaran, Desa/Kecamatan Kencong, tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga Senin (4/1) sore, puluhan armada pengangkut sampah masih diparkir di depan Kantor Pemkab Jember dan Pendapa Wahyawibawagraha di Jalan Wijaya Kusuma. Puluhan kendaraan jenis dump truck itu diparkir oleh para sopir sebagai bentuk protes. Mereka mogok kerja karena tidak ada lagi biaya operasional untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM).

Pengakuan para sopir, sudah dua bulan terakhir ini, untuk membeli BBM mereka harus menalangi terlebih dulu. Bahkan, bukan hanya dump truck yang dibiarkan berjajar seperti parade, tapi juga ada mobil tangki yang biasa digunakan menyiram taman. Dua armada ini berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember.

Banyaknya truk pengangkut sampah yang parkir ini menjadi perhatian pegawai pemkab yang hendak kerja. Sebab, sopir truk itu memarkir kendaraannya pagi hari, sebelum jam pegawai pemkab itu datang. Pukul 06.00, puluhan truk sudah berjajar di Jalan Sudarman, depan gedung pemkab.

Dampak mogoknya puluhan sopir truk ini, sampah yang ada di beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) tidak terangkut. Bahkan, di sisi utara Alun-Alun Jember juga terlihat ada tumpukan sampah yang belum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Sampah itu merupakan jenis sampah basah dan sampah kering.

“Truk yang biasa saya gunakan mengangkut sampah, saya tinggal di rumah di Gebang. Karena tidak ada solarnya,” kata Suwaji, sopir dump truck yang kala itu bersama petugas kebersihan. Sebelumnya, Suwaji mengaku, dirinya selalu menalangi lebih dulu pembelian BBM. Ini agar truk bisa mengangkut sampah ke TPA Pakusari. “Mudah-mudahan cepat ada solusi biar sampah yang ada di kota bisa terangkut ke TPA,” harapnya.

Sementara itu, Arifin, sopir dump truck dari TPA Kencong, mengaku tidak tahu-menahu aksi mogok yang dilakukan para sopir lainnya. “Saya hanya diminta datang ke Alun-Alun Jember sambil membawa truk,” kata warga Dusun Kamaran, Desa/Kecamatan Kencong, tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga Senin (4/1) sore, puluhan armada pengangkut sampah masih diparkir di depan Kantor Pemkab Jember dan Pendapa Wahyawibawagraha di Jalan Wijaya Kusuma. Puluhan kendaraan jenis dump truck itu diparkir oleh para sopir sebagai bentuk protes. Mereka mogok kerja karena tidak ada lagi biaya operasional untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM).

Pengakuan para sopir, sudah dua bulan terakhir ini, untuk membeli BBM mereka harus menalangi terlebih dulu. Bahkan, bukan hanya dump truck yang dibiarkan berjajar seperti parade, tapi juga ada mobil tangki yang biasa digunakan menyiram taman. Dua armada ini berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember.

Banyaknya truk pengangkut sampah yang parkir ini menjadi perhatian pegawai pemkab yang hendak kerja. Sebab, sopir truk itu memarkir kendaraannya pagi hari, sebelum jam pegawai pemkab itu datang. Pukul 06.00, puluhan truk sudah berjajar di Jalan Sudarman, depan gedung pemkab.

Dampak mogoknya puluhan sopir truk ini, sampah yang ada di beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) tidak terangkut. Bahkan, di sisi utara Alun-Alun Jember juga terlihat ada tumpukan sampah yang belum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Sampah itu merupakan jenis sampah basah dan sampah kering.

“Truk yang biasa saya gunakan mengangkut sampah, saya tinggal di rumah di Gebang. Karena tidak ada solarnya,” kata Suwaji, sopir dump truck yang kala itu bersama petugas kebersihan. Sebelumnya, Suwaji mengaku, dirinya selalu menalangi lebih dulu pembelian BBM. Ini agar truk bisa mengangkut sampah ke TPA Pakusari. “Mudah-mudahan cepat ada solusi biar sampah yang ada di kota bisa terangkut ke TPA,” harapnya.

Sementara itu, Arifin, sopir dump truck dari TPA Kencong, mengaku tidak tahu-menahu aksi mogok yang dilakukan para sopir lainnya. “Saya hanya diminta datang ke Alun-Alun Jember sambil membawa truk,” kata warga Dusun Kamaran, Desa/Kecamatan Kencong, tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/