alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Anak Berpotensi Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Pelecehan seksual tidak hanya terjadi terhadap perempuan yang masih remaja hingga dewasa. Namun, anak-anak juga rentan menjadi korban tindak kejahatan tersebut. Bahkan, mereka tidak hanya menjadi korban, tapi juga berpotensi sebagai pelaku. Inilah yang harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak terhindar dari kejahatan seksual itu.

Sutipah, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, mengatakan, baru-baru ini pihaknya mendampingi kasus pelecehan terhadap anak di daerah Jember bagian barat. Perkaranya, ada seorang anak perempuan berusia lima tahun yang kemaluannya dibikin mainan hingga menimbulkan efek negatif ke korban. “Pelakunya juga masih anak perempuan yang umurnya tujuh tahun,” tuturnya.

Sebenarnya, kejadian tersebut sudah dilakukan tiga bulan lalu, tapi baru diketahui orang tuanya. Tak lama setelah peristiwa itu terjadi, orang tua korban juga sudah tahu bahwa ada yang aneh di kemaluan putrinya. Sebab, anaknya itu merasa sakit dan tak nyaman dengan kemaluannya. “Tapi dikira adalah hal yang biasa, karena putrinya senang bermain sepeda,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, belakangan diketahui saat teman putrinya yang lain bercerita kepada orang tua korban. Menurut teman korban, pelaku tak hanya memegang, tapi juga bertindak lebih dengan mengobok-obok kemaluan korban. Dari sini, KPI mulai melakukan pendampingan dan diketahui pelakunya ternyata juga masih anak-anak. “Pelakunya itu teman sepermainan di desanya,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Pelecehan seksual tidak hanya terjadi terhadap perempuan yang masih remaja hingga dewasa. Namun, anak-anak juga rentan menjadi korban tindak kejahatan tersebut. Bahkan, mereka tidak hanya menjadi korban, tapi juga berpotensi sebagai pelaku. Inilah yang harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak terhindar dari kejahatan seksual itu.

Sutipah, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, mengatakan, baru-baru ini pihaknya mendampingi kasus pelecehan terhadap anak di daerah Jember bagian barat. Perkaranya, ada seorang anak perempuan berusia lima tahun yang kemaluannya dibikin mainan hingga menimbulkan efek negatif ke korban. “Pelakunya juga masih anak perempuan yang umurnya tujuh tahun,” tuturnya.

Sebenarnya, kejadian tersebut sudah dilakukan tiga bulan lalu, tapi baru diketahui orang tuanya. Tak lama setelah peristiwa itu terjadi, orang tua korban juga sudah tahu bahwa ada yang aneh di kemaluan putrinya. Sebab, anaknya itu merasa sakit dan tak nyaman dengan kemaluannya. “Tapi dikira adalah hal yang biasa, karena putrinya senang bermain sepeda,” jelasnya.

Namun, belakangan diketahui saat teman putrinya yang lain bercerita kepada orang tua korban. Menurut teman korban, pelaku tak hanya memegang, tapi juga bertindak lebih dengan mengobok-obok kemaluan korban. Dari sini, KPI mulai melakukan pendampingan dan diketahui pelakunya ternyata juga masih anak-anak. “Pelakunya itu teman sepermainan di desanya,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Pelecehan seksual tidak hanya terjadi terhadap perempuan yang masih remaja hingga dewasa. Namun, anak-anak juga rentan menjadi korban tindak kejahatan tersebut. Bahkan, mereka tidak hanya menjadi korban, tapi juga berpotensi sebagai pelaku. Inilah yang harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak terhindar dari kejahatan seksual itu.

Sutipah, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, mengatakan, baru-baru ini pihaknya mendampingi kasus pelecehan terhadap anak di daerah Jember bagian barat. Perkaranya, ada seorang anak perempuan berusia lima tahun yang kemaluannya dibikin mainan hingga menimbulkan efek negatif ke korban. “Pelakunya juga masih anak perempuan yang umurnya tujuh tahun,” tuturnya.

Sebenarnya, kejadian tersebut sudah dilakukan tiga bulan lalu, tapi baru diketahui orang tuanya. Tak lama setelah peristiwa itu terjadi, orang tua korban juga sudah tahu bahwa ada yang aneh di kemaluan putrinya. Sebab, anaknya itu merasa sakit dan tak nyaman dengan kemaluannya. “Tapi dikira adalah hal yang biasa, karena putrinya senang bermain sepeda,” jelasnya.

Namun, belakangan diketahui saat teman putrinya yang lain bercerita kepada orang tua korban. Menurut teman korban, pelaku tak hanya memegang, tapi juga bertindak lebih dengan mengobok-obok kemaluan korban. Dari sini, KPI mulai melakukan pendampingan dan diketahui pelakunya ternyata juga masih anak-anak. “Pelakunya itu teman sepermainan di desanya,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/