alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Cegah KDRT, Turun hingga Pelosok Desa

Mobile_AP_Rectangle 1

HARJOMULYO, Radar Jember – Belakangan ini kasus kekerasan pada perempuan marak terjadi di beberapa daerah. Kekerasan pada perempuan ini rawan terjadi bagi kaum perempuan yang belum bisa mandiri atas kebutuhan ekonominya. Tentunya Pemerintah Kabupaten Jember tak ingin hal tersebut juga sampai terjadi pada warganya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember, pada pertengahan tahun, tepatnya Juni lalu, tingkat kekerasan pada perempuan di Jember memuncak, yakni sebanyak 15 orang. Namun, semakin lama tampaknya semakin melandai, seiring dengan membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di Kabupaten Jember. “Waktu itu, berdasarkan laporan yang kami terima, kekerasan terjadi karena masalah ekonomi antara suami dan istri,” ungkap Kabid Perencanaan DP3AKB Joko Sutriswanto.

Meski demikian, pihaknya tetap terus berupaya mencegah terjadinya kekerasan tersebut. Pencegahan pun dilakukan dengan cara sosialisasi bahaya pernikahan dini. Kemudian, juga perencanaan keluarga yang matang agar tidak terjadi konflik dalam rumah tangga. Serta memberitahukan bahwa Pemkab Jember memberi wadah perlindungan untuk warganya. “Kami turun ke pelosok-pelosok. Kami beri tahu kalau mengalami kekerasan, bisa lapor kepada kami. Jadi, mereka sudah mulai tidak takut lagi,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu yang disasar adalah Desa/Kecamatan Rambipuji. Kepala Desa Rambipuji Dwi Dyah Setyorini yang tampil sebagai perempuan nomor satu di desanya itu menanggapi, untuk mencegah kekerasan pada perempuan, dirinya mengajak warga setempat untuk tidak melulu bergantung pada suaminya.

- Advertisement -

HARJOMULYO, Radar Jember – Belakangan ini kasus kekerasan pada perempuan marak terjadi di beberapa daerah. Kekerasan pada perempuan ini rawan terjadi bagi kaum perempuan yang belum bisa mandiri atas kebutuhan ekonominya. Tentunya Pemerintah Kabupaten Jember tak ingin hal tersebut juga sampai terjadi pada warganya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember, pada pertengahan tahun, tepatnya Juni lalu, tingkat kekerasan pada perempuan di Jember memuncak, yakni sebanyak 15 orang. Namun, semakin lama tampaknya semakin melandai, seiring dengan membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di Kabupaten Jember. “Waktu itu, berdasarkan laporan yang kami terima, kekerasan terjadi karena masalah ekonomi antara suami dan istri,” ungkap Kabid Perencanaan DP3AKB Joko Sutriswanto.

Meski demikian, pihaknya tetap terus berupaya mencegah terjadinya kekerasan tersebut. Pencegahan pun dilakukan dengan cara sosialisasi bahaya pernikahan dini. Kemudian, juga perencanaan keluarga yang matang agar tidak terjadi konflik dalam rumah tangga. Serta memberitahukan bahwa Pemkab Jember memberi wadah perlindungan untuk warganya. “Kami turun ke pelosok-pelosok. Kami beri tahu kalau mengalami kekerasan, bisa lapor kepada kami. Jadi, mereka sudah mulai tidak takut lagi,” imbuhnya.

Salah satu yang disasar adalah Desa/Kecamatan Rambipuji. Kepala Desa Rambipuji Dwi Dyah Setyorini yang tampil sebagai perempuan nomor satu di desanya itu menanggapi, untuk mencegah kekerasan pada perempuan, dirinya mengajak warga setempat untuk tidak melulu bergantung pada suaminya.

HARJOMULYO, Radar Jember – Belakangan ini kasus kekerasan pada perempuan marak terjadi di beberapa daerah. Kekerasan pada perempuan ini rawan terjadi bagi kaum perempuan yang belum bisa mandiri atas kebutuhan ekonominya. Tentunya Pemerintah Kabupaten Jember tak ingin hal tersebut juga sampai terjadi pada warganya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember, pada pertengahan tahun, tepatnya Juni lalu, tingkat kekerasan pada perempuan di Jember memuncak, yakni sebanyak 15 orang. Namun, semakin lama tampaknya semakin melandai, seiring dengan membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di Kabupaten Jember. “Waktu itu, berdasarkan laporan yang kami terima, kekerasan terjadi karena masalah ekonomi antara suami dan istri,” ungkap Kabid Perencanaan DP3AKB Joko Sutriswanto.

Meski demikian, pihaknya tetap terus berupaya mencegah terjadinya kekerasan tersebut. Pencegahan pun dilakukan dengan cara sosialisasi bahaya pernikahan dini. Kemudian, juga perencanaan keluarga yang matang agar tidak terjadi konflik dalam rumah tangga. Serta memberitahukan bahwa Pemkab Jember memberi wadah perlindungan untuk warganya. “Kami turun ke pelosok-pelosok. Kami beri tahu kalau mengalami kekerasan, bisa lapor kepada kami. Jadi, mereka sudah mulai tidak takut lagi,” imbuhnya.

Salah satu yang disasar adalah Desa/Kecamatan Rambipuji. Kepala Desa Rambipuji Dwi Dyah Setyorini yang tampil sebagai perempuan nomor satu di desanya itu menanggapi, untuk mencegah kekerasan pada perempuan, dirinya mengajak warga setempat untuk tidak melulu bergantung pada suaminya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/