alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Awali Karir dengan Menjadi Wartawan Perempuan

Siapa bilang ibu rumah tangga tak bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin sembari mengurus anak? Siti Raudlatul Jannah ini buktinya. Sembari mengurus enam anaknya, dia menjalani karir di bidang jurnalistik hingga menempuh studi doktoral. Bagaimana perjuangannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak kecil, Siti Raudlatul Jannah hidup di tengah lingkungan yang agamis. Orang tuanya adalah pendidik di SD Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Tak heran jika ayahnya, Muhammad Hazin Faqih, menanamkan pada Jannah bahwa perempuan wajib menjadi pintar dan berpendidikan. Sebab, modal cantik saja tidak cukup untuk melahirkan kehidupan yang bermutu. Tidak bisa melahirkan generasi yang cerdas di masa depan. Dengan itu, Jannah bertekad untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Selain itu, orang tua Jannah sejak kecil mendekatkannya dengan aktivitas literasi. Hingga Jannah pun memiliki kegemaran membaca. Kegemaran inilah yang memotivasi Jannah untuk menjadi seorang wartawan. “Saya berapa lama menjadi konsumen, lalu saya bercita-cita untuk menciptakan tulisan yang bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Minimal se-Jawa Timur,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu.

Cita-citanya menjadi seorang wartawan dimulai ketika Jannah menempuh pendidikan tinggi, tepatnya sejak semester satu. Kala itu, dia mencoba mengikuti lomba penulisan feature di kampusnya. Jannah menyoroti tentang tergerusnya musala di Tunjungan Plaza Surabaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bermodalkan kegelisahan dan kekhawatiran inilah, Jannah percaya bahwa dirinya bisa menciptakan feature. “Dari situlah starting point keyakinan saya, bahwa saya mampu menulis,” kenang wanita yang tinggal di Mangli itu.

Dari situ, tawaran menjadi reporter pun datang. Salah satunya dari Ara Aita, sebuah majalah fakultas di kampusnya. Tanpa pikir panjang, Jannah pun mengiyakan tawaran seniornya untuk bergabung menjadi reporter di majalah tersebut.

Kala itu, Jannah ditantang oleh seniornya untuk membuat liputan khusus yang memuat tentang pimpinan Yayasan Al Muthahhari, Jalaludin Rakhmat, di Bandung. Bermodalkan kenekatan dan ongkos terbatas, Jannah bertolak ke Bandung untuk mengikuti seminar di UIN Sunan Gunung Djati. Sekaligus mencari kesempatan untuk bertemu dan wawancara dengan Jalaludin Rakhmat. “Saya melakukan peliputan khusus tentang komunikasi Islam. Akhirnya menjadi laporan utama,” lanjutnya.

Karirnya di dunia jurnalistik semakin moncer. Jannah menjadi satu-satunya perempuan berhijab yang diterima magang menjadi reporter di Tabloid Nyata di Jakarta. Kala itu, Jannah masih semester 3. Dalam kurun waktu dua pekan, Jannah mendapat penugasan untuk melakukan wawancara mendalam dengan Menteri Pendidikan saat itu, Prof Wardiman.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak kecil, Siti Raudlatul Jannah hidup di tengah lingkungan yang agamis. Orang tuanya adalah pendidik di SD Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Tak heran jika ayahnya, Muhammad Hazin Faqih, menanamkan pada Jannah bahwa perempuan wajib menjadi pintar dan berpendidikan. Sebab, modal cantik saja tidak cukup untuk melahirkan kehidupan yang bermutu. Tidak bisa melahirkan generasi yang cerdas di masa depan. Dengan itu, Jannah bertekad untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Selain itu, orang tua Jannah sejak kecil mendekatkannya dengan aktivitas literasi. Hingga Jannah pun memiliki kegemaran membaca. Kegemaran inilah yang memotivasi Jannah untuk menjadi seorang wartawan. “Saya berapa lama menjadi konsumen, lalu saya bercita-cita untuk menciptakan tulisan yang bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Minimal se-Jawa Timur,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu.

Cita-citanya menjadi seorang wartawan dimulai ketika Jannah menempuh pendidikan tinggi, tepatnya sejak semester satu. Kala itu, dia mencoba mengikuti lomba penulisan feature di kampusnya. Jannah menyoroti tentang tergerusnya musala di Tunjungan Plaza Surabaya.

Bermodalkan kegelisahan dan kekhawatiran inilah, Jannah percaya bahwa dirinya bisa menciptakan feature. “Dari situlah starting point keyakinan saya, bahwa saya mampu menulis,” kenang wanita yang tinggal di Mangli itu.

Dari situ, tawaran menjadi reporter pun datang. Salah satunya dari Ara Aita, sebuah majalah fakultas di kampusnya. Tanpa pikir panjang, Jannah pun mengiyakan tawaran seniornya untuk bergabung menjadi reporter di majalah tersebut.

Kala itu, Jannah ditantang oleh seniornya untuk membuat liputan khusus yang memuat tentang pimpinan Yayasan Al Muthahhari, Jalaludin Rakhmat, di Bandung. Bermodalkan kenekatan dan ongkos terbatas, Jannah bertolak ke Bandung untuk mengikuti seminar di UIN Sunan Gunung Djati. Sekaligus mencari kesempatan untuk bertemu dan wawancara dengan Jalaludin Rakhmat. “Saya melakukan peliputan khusus tentang komunikasi Islam. Akhirnya menjadi laporan utama,” lanjutnya.

Karirnya di dunia jurnalistik semakin moncer. Jannah menjadi satu-satunya perempuan berhijab yang diterima magang menjadi reporter di Tabloid Nyata di Jakarta. Kala itu, Jannah masih semester 3. Dalam kurun waktu dua pekan, Jannah mendapat penugasan untuk melakukan wawancara mendalam dengan Menteri Pendidikan saat itu, Prof Wardiman.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak kecil, Siti Raudlatul Jannah hidup di tengah lingkungan yang agamis. Orang tuanya adalah pendidik di SD Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Tak heran jika ayahnya, Muhammad Hazin Faqih, menanamkan pada Jannah bahwa perempuan wajib menjadi pintar dan berpendidikan. Sebab, modal cantik saja tidak cukup untuk melahirkan kehidupan yang bermutu. Tidak bisa melahirkan generasi yang cerdas di masa depan. Dengan itu, Jannah bertekad untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Selain itu, orang tua Jannah sejak kecil mendekatkannya dengan aktivitas literasi. Hingga Jannah pun memiliki kegemaran membaca. Kegemaran inilah yang memotivasi Jannah untuk menjadi seorang wartawan. “Saya berapa lama menjadi konsumen, lalu saya bercita-cita untuk menciptakan tulisan yang bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Minimal se-Jawa Timur,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu.

Cita-citanya menjadi seorang wartawan dimulai ketika Jannah menempuh pendidikan tinggi, tepatnya sejak semester satu. Kala itu, dia mencoba mengikuti lomba penulisan feature di kampusnya. Jannah menyoroti tentang tergerusnya musala di Tunjungan Plaza Surabaya.

Bermodalkan kegelisahan dan kekhawatiran inilah, Jannah percaya bahwa dirinya bisa menciptakan feature. “Dari situlah starting point keyakinan saya, bahwa saya mampu menulis,” kenang wanita yang tinggal di Mangli itu.

Dari situ, tawaran menjadi reporter pun datang. Salah satunya dari Ara Aita, sebuah majalah fakultas di kampusnya. Tanpa pikir panjang, Jannah pun mengiyakan tawaran seniornya untuk bergabung menjadi reporter di majalah tersebut.

Kala itu, Jannah ditantang oleh seniornya untuk membuat liputan khusus yang memuat tentang pimpinan Yayasan Al Muthahhari, Jalaludin Rakhmat, di Bandung. Bermodalkan kenekatan dan ongkos terbatas, Jannah bertolak ke Bandung untuk mengikuti seminar di UIN Sunan Gunung Djati. Sekaligus mencari kesempatan untuk bertemu dan wawancara dengan Jalaludin Rakhmat. “Saya melakukan peliputan khusus tentang komunikasi Islam. Akhirnya menjadi laporan utama,” lanjutnya.

Karirnya di dunia jurnalistik semakin moncer. Jannah menjadi satu-satunya perempuan berhijab yang diterima magang menjadi reporter di Tabloid Nyata di Jakarta. Kala itu, Jannah masih semester 3. Dalam kurun waktu dua pekan, Jannah mendapat penugasan untuk melakukan wawancara mendalam dengan Menteri Pendidikan saat itu, Prof Wardiman.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/