alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ribuan Anak di Jember Butuh Perlindungan Karena ini

Kekerasan Anak Butuh Perhatian Serius Sepanjang Januari-Oktober Tembus 135 Kasus

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Sejak Januari hingga Oktober kemarin, kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Jember tak kunjung reda. Selama sepuluh bulan terakhir, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), tercatat sebanyak 135 kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak di Kabupaten Jember.

Dalam data tersebut, kekerasan pada anak didominasi oleh kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Selama Oktober saja, contohnya, ada tujuh kasus kekerasan psikis dan lima kasus kekerasan seksual.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Pemkab Jember Joko Sutriswanto menjelaskan, tingginya kasus kekerasan tersebut merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang sempat memuncak pada pertengahan tahun ini. Kemudian, bisa juga karena masyarakat mulai menyadari pentingnya melaporkan kekerasan yang dialami anaknya kepada pemerintah daerah. Karenanya, laporan yang masuk cukup banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Joko, banyaknya kekerasan psikis pada anak karena korban perceraian kedua orang tuanya. Perceraian itu disebabkan masalah ekonomi keluarga yang terus menurun. Sementara itu, untuk kasus kekerasan seksual pada anak, banyak diakibatkan karena hubungan percintaan anak di bawah umur.

Dia menerangkan, jika dibandingkan dengan awal tahun, selama Januari itu banyak sekali kasusnya. Namun, perlahan-lahan mulai mereda. “Selain karena pandemi, banyaknya pelaporan ini juga karena masyarakat mulai banyak yang tahu bahwa jika mereka mengalami kekerasan bisa lapor kepada kami,” tuturnya.

Selain kasus kekerasan kepada anak, DP3AKB juga menerima laporan kekerasan terhadap perempuan. Namun, jika dibandingkan, kasus kekerasan pada anak jauh lebih tinggi. Kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat ada 63 kasus yang didominasi oleh kekerasan psikis. Jika dihitung, angkanya tak sampai separuh dari kasus kekerasan terhadap anak.

Bulan lalu, Joko mengungkapkan, pihaknya bersama beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Jember sempat menggelar sosialisasi dan pencegahan pernikahan dini, penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo. Dalam program yang disebut Sehari Ngantor di Desa itu, ada salah satu warga yang langsung melaporkan tindakan kekerasan seksual yang terjadi pada anaknya.

“Kami mendapat laporan seketika itu. Dan kalau misalnya kami tidak ngantor di desa, mungkin dia tidak akan melaporkan. Mulai saat itu, kami sekalian memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat untuk laporan jika mengalami kekerasan,” ungkapnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Sejak Januari hingga Oktober kemarin, kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Jember tak kunjung reda. Selama sepuluh bulan terakhir, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), tercatat sebanyak 135 kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak di Kabupaten Jember.

Dalam data tersebut, kekerasan pada anak didominasi oleh kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Selama Oktober saja, contohnya, ada tujuh kasus kekerasan psikis dan lima kasus kekerasan seksual.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Pemkab Jember Joko Sutriswanto menjelaskan, tingginya kasus kekerasan tersebut merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang sempat memuncak pada pertengahan tahun ini. Kemudian, bisa juga karena masyarakat mulai menyadari pentingnya melaporkan kekerasan yang dialami anaknya kepada pemerintah daerah. Karenanya, laporan yang masuk cukup banyak.

Menurut Joko, banyaknya kekerasan psikis pada anak karena korban perceraian kedua orang tuanya. Perceraian itu disebabkan masalah ekonomi keluarga yang terus menurun. Sementara itu, untuk kasus kekerasan seksual pada anak, banyak diakibatkan karena hubungan percintaan anak di bawah umur.

Dia menerangkan, jika dibandingkan dengan awal tahun, selama Januari itu banyak sekali kasusnya. Namun, perlahan-lahan mulai mereda. “Selain karena pandemi, banyaknya pelaporan ini juga karena masyarakat mulai banyak yang tahu bahwa jika mereka mengalami kekerasan bisa lapor kepada kami,” tuturnya.

Selain kasus kekerasan kepada anak, DP3AKB juga menerima laporan kekerasan terhadap perempuan. Namun, jika dibandingkan, kasus kekerasan pada anak jauh lebih tinggi. Kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat ada 63 kasus yang didominasi oleh kekerasan psikis. Jika dihitung, angkanya tak sampai separuh dari kasus kekerasan terhadap anak.

Bulan lalu, Joko mengungkapkan, pihaknya bersama beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Jember sempat menggelar sosialisasi dan pencegahan pernikahan dini, penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo. Dalam program yang disebut Sehari Ngantor di Desa itu, ada salah satu warga yang langsung melaporkan tindakan kekerasan seksual yang terjadi pada anaknya.

“Kami mendapat laporan seketika itu. Dan kalau misalnya kami tidak ngantor di desa, mungkin dia tidak akan melaporkan. Mulai saat itu, kami sekalian memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat untuk laporan jika mengalami kekerasan,” ungkapnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Sejak Januari hingga Oktober kemarin, kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Jember tak kunjung reda. Selama sepuluh bulan terakhir, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), tercatat sebanyak 135 kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak di Kabupaten Jember.

Dalam data tersebut, kekerasan pada anak didominasi oleh kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Selama Oktober saja, contohnya, ada tujuh kasus kekerasan psikis dan lima kasus kekerasan seksual.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Pemkab Jember Joko Sutriswanto menjelaskan, tingginya kasus kekerasan tersebut merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang sempat memuncak pada pertengahan tahun ini. Kemudian, bisa juga karena masyarakat mulai menyadari pentingnya melaporkan kekerasan yang dialami anaknya kepada pemerintah daerah. Karenanya, laporan yang masuk cukup banyak.

Menurut Joko, banyaknya kekerasan psikis pada anak karena korban perceraian kedua orang tuanya. Perceraian itu disebabkan masalah ekonomi keluarga yang terus menurun. Sementara itu, untuk kasus kekerasan seksual pada anak, banyak diakibatkan karena hubungan percintaan anak di bawah umur.

Dia menerangkan, jika dibandingkan dengan awal tahun, selama Januari itu banyak sekali kasusnya. Namun, perlahan-lahan mulai mereda. “Selain karena pandemi, banyaknya pelaporan ini juga karena masyarakat mulai banyak yang tahu bahwa jika mereka mengalami kekerasan bisa lapor kepada kami,” tuturnya.

Selain kasus kekerasan kepada anak, DP3AKB juga menerima laporan kekerasan terhadap perempuan. Namun, jika dibandingkan, kasus kekerasan pada anak jauh lebih tinggi. Kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat ada 63 kasus yang didominasi oleh kekerasan psikis. Jika dihitung, angkanya tak sampai separuh dari kasus kekerasan terhadap anak.

Bulan lalu, Joko mengungkapkan, pihaknya bersama beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Jember sempat menggelar sosialisasi dan pencegahan pernikahan dini, penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo. Dalam program yang disebut Sehari Ngantor di Desa itu, ada salah satu warga yang langsung melaporkan tindakan kekerasan seksual yang terjadi pada anaknya.

“Kami mendapat laporan seketika itu. Dan kalau misalnya kami tidak ngantor di desa, mungkin dia tidak akan melaporkan. Mulai saat itu, kami sekalian memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat untuk laporan jika mengalami kekerasan,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/