alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Miris, Siswa di Jember Pergi Ke Sungai untuk Buang Air, ini Kata Sekolah

“Jadi, kemarin kami beri pemahaman kepada semua lembaga bahwa toilet itu kebutuhan. Jangan sampai kebutuhan akan toilet dihilangkan karena tidak ada yang menggunakan.” Endang Sulistyowati - Kabid SD Dispendik Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Persoalan sanitasi di sekolah, utamanya tingkat SD, masih belum rampung. Masih banyak lembaga pendidikan jenjang dasar di wilayah pinggiran yang belum memiliki toilet layak. Bahkan, masih ada yang menggunakan sungai sebagai toilet darurat.

Fadilah, siswa SDN Mayang 03, Kecamatan Mayang, mengaku, selama ini rekan-rekannya di sekolah memilih pergi ke sungai atau pulang ke rumah ketika hendak buang air. “Kalau lagi antre, teman-temanku ada yang ke sungai. Kalau saya pulang ke rumah karena dekat,” ungkapnya.

Merespons hal itu, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Endang Sulistyowati menjelaskan, hambatan pemenuhan sanitasi layak di SD di antaranya karena minimnya kesadaran sumber daya manusia (SDM) di lingkungan sekolah. Khususnya sekolah yang berada di kawasan pinggiran. “Mereka mengandalkan sungai daripada toilet. Tapi, sebenarnya mereka punya toilet,” ungkap Endang, baru-baru ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengakui, ketersediaan toilet yang sesuai standar nasional memang masih didominasi oleh SD di kota. Sekitar 70 persen SD di kota sudah sesuai standar. Perbandingannya 1:50 untuk toilet putra dan 1:40 untuk toilet putri.

Endang mengatakan, selain pemahaman penggunaan toilet daripada sungai, yang paling penting adalah edukasi dalam pengisian angket Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan ketersediaan toilet di sekolahnya. Sebab, data ini yang akan menjadi acuan pemerintah dalam penyediaan sanitasi layak. “Jadi, kemarin kami beri pemahaman kepada semua lembaga bahwa toilet itu kebutuhan. Jangan sampai kebutuhan akan toilet dihilangkan karena tidak ada yang menggunakan,” imbuh Endang.

Dia juga menjelaskan, selama tahun 2021, terdapat empat sekolah dari 1.036 SD yang mendapat dana bantuan operasional sekolah (BOS) reguler, yang di dalamnya juga dialokasikan untuk keperluan sanitasi. Keempat SD itu adalah SD Ajung 03 Kecamatan Ajung, SD Padomasan 06 Kecamatan Jombang, SD Karangsono 04 Kecamatan Bangsalsari, dan SD Dukuhdempok 02 Kecamatan Wuluhan. Pemerintah pusat yang menentukan pemilihan sekolah-sekolah ini, berdasarkan data dalam Dapodik yang telah terinput.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Persoalan sanitasi di sekolah, utamanya tingkat SD, masih belum rampung. Masih banyak lembaga pendidikan jenjang dasar di wilayah pinggiran yang belum memiliki toilet layak. Bahkan, masih ada yang menggunakan sungai sebagai toilet darurat.

Fadilah, siswa SDN Mayang 03, Kecamatan Mayang, mengaku, selama ini rekan-rekannya di sekolah memilih pergi ke sungai atau pulang ke rumah ketika hendak buang air. “Kalau lagi antre, teman-temanku ada yang ke sungai. Kalau saya pulang ke rumah karena dekat,” ungkapnya.

Merespons hal itu, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Endang Sulistyowati menjelaskan, hambatan pemenuhan sanitasi layak di SD di antaranya karena minimnya kesadaran sumber daya manusia (SDM) di lingkungan sekolah. Khususnya sekolah yang berada di kawasan pinggiran. “Mereka mengandalkan sungai daripada toilet. Tapi, sebenarnya mereka punya toilet,” ungkap Endang, baru-baru ini.

Dia mengakui, ketersediaan toilet yang sesuai standar nasional memang masih didominasi oleh SD di kota. Sekitar 70 persen SD di kota sudah sesuai standar. Perbandingannya 1:50 untuk toilet putra dan 1:40 untuk toilet putri.

Endang mengatakan, selain pemahaman penggunaan toilet daripada sungai, yang paling penting adalah edukasi dalam pengisian angket Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan ketersediaan toilet di sekolahnya. Sebab, data ini yang akan menjadi acuan pemerintah dalam penyediaan sanitasi layak. “Jadi, kemarin kami beri pemahaman kepada semua lembaga bahwa toilet itu kebutuhan. Jangan sampai kebutuhan akan toilet dihilangkan karena tidak ada yang menggunakan,” imbuh Endang.

Dia juga menjelaskan, selama tahun 2021, terdapat empat sekolah dari 1.036 SD yang mendapat dana bantuan operasional sekolah (BOS) reguler, yang di dalamnya juga dialokasikan untuk keperluan sanitasi. Keempat SD itu adalah SD Ajung 03 Kecamatan Ajung, SD Padomasan 06 Kecamatan Jombang, SD Karangsono 04 Kecamatan Bangsalsari, dan SD Dukuhdempok 02 Kecamatan Wuluhan. Pemerintah pusat yang menentukan pemilihan sekolah-sekolah ini, berdasarkan data dalam Dapodik yang telah terinput.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Persoalan sanitasi di sekolah, utamanya tingkat SD, masih belum rampung. Masih banyak lembaga pendidikan jenjang dasar di wilayah pinggiran yang belum memiliki toilet layak. Bahkan, masih ada yang menggunakan sungai sebagai toilet darurat.

Fadilah, siswa SDN Mayang 03, Kecamatan Mayang, mengaku, selama ini rekan-rekannya di sekolah memilih pergi ke sungai atau pulang ke rumah ketika hendak buang air. “Kalau lagi antre, teman-temanku ada yang ke sungai. Kalau saya pulang ke rumah karena dekat,” ungkapnya.

Merespons hal itu, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Endang Sulistyowati menjelaskan, hambatan pemenuhan sanitasi layak di SD di antaranya karena minimnya kesadaran sumber daya manusia (SDM) di lingkungan sekolah. Khususnya sekolah yang berada di kawasan pinggiran. “Mereka mengandalkan sungai daripada toilet. Tapi, sebenarnya mereka punya toilet,” ungkap Endang, baru-baru ini.

Dia mengakui, ketersediaan toilet yang sesuai standar nasional memang masih didominasi oleh SD di kota. Sekitar 70 persen SD di kota sudah sesuai standar. Perbandingannya 1:50 untuk toilet putra dan 1:40 untuk toilet putri.

Endang mengatakan, selain pemahaman penggunaan toilet daripada sungai, yang paling penting adalah edukasi dalam pengisian angket Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan ketersediaan toilet di sekolahnya. Sebab, data ini yang akan menjadi acuan pemerintah dalam penyediaan sanitasi layak. “Jadi, kemarin kami beri pemahaman kepada semua lembaga bahwa toilet itu kebutuhan. Jangan sampai kebutuhan akan toilet dihilangkan karena tidak ada yang menggunakan,” imbuh Endang.

Dia juga menjelaskan, selama tahun 2021, terdapat empat sekolah dari 1.036 SD yang mendapat dana bantuan operasional sekolah (BOS) reguler, yang di dalamnya juga dialokasikan untuk keperluan sanitasi. Keempat SD itu adalah SD Ajung 03 Kecamatan Ajung, SD Padomasan 06 Kecamatan Jombang, SD Karangsono 04 Kecamatan Bangsalsari, dan SD Dukuhdempok 02 Kecamatan Wuluhan. Pemerintah pusat yang menentukan pemilihan sekolah-sekolah ini, berdasarkan data dalam Dapodik yang telah terinput.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/