alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Injury Time, E-RDKK Belum Final

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan pupuk yang dialami petani selama beberapa musim kemarin menjadi pukulan telak bagi mereka. Menjelang akhir tahun ini, para pahlawan pangan itu berharap kejadian serupa tak terulang. Sehingga ketersediaan dan penetapan kuota pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan petani.

Menilik ke belakang, salah satu penyebab kelangkaan pupuk ditengarai karena ketidaksesuaian antara data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Dalam RDKK 2020, tercatat ada sebanyak 260.053 petani penerima manfaat dengan alokasi 99.077,06 ton. Sementara dalam E-RDKK hanya terdata 94.867 petani dengan alokasi 52.346 ton. Selisih cukup besar itu dituding menjadi musabab pemangkasan kuota pupuk bersubsidi bagi petani di Jember yang hampir mencapai 50 persen dari kebutuhan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menilai, kelangkaan pupuk bersubsidi beberapa musim lalu perlu jadi catatan bagi pemerintah. Lebih-lebih saat memasuki akhir tahun yang menjadi waktu genting pengajuan kembali alokasi pupuk untuk 2021. “Harapan kami, pengajuan 2021 nanti tidak terlambat lagi, dan E-RDKK yang diusulkan sudah valid dengan jumlah kebutuhan petani,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia juga meminta pemerintah daerah bekerja lebih optimal dalam menuntaskan penyusunan E-RDKK. Sebab, berkaca pada E-RDKK tahun sebelumnya, banyak petani yang tidak masuk data. Hal itu membuat realisasi pupuk jomplang dengan pengajuannya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan pupuk yang dialami petani selama beberapa musim kemarin menjadi pukulan telak bagi mereka. Menjelang akhir tahun ini, para pahlawan pangan itu berharap kejadian serupa tak terulang. Sehingga ketersediaan dan penetapan kuota pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan petani.

Menilik ke belakang, salah satu penyebab kelangkaan pupuk ditengarai karena ketidaksesuaian antara data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Dalam RDKK 2020, tercatat ada sebanyak 260.053 petani penerima manfaat dengan alokasi 99.077,06 ton. Sementara dalam E-RDKK hanya terdata 94.867 petani dengan alokasi 52.346 ton. Selisih cukup besar itu dituding menjadi musabab pemangkasan kuota pupuk bersubsidi bagi petani di Jember yang hampir mencapai 50 persen dari kebutuhan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menilai, kelangkaan pupuk bersubsidi beberapa musim lalu perlu jadi catatan bagi pemerintah. Lebih-lebih saat memasuki akhir tahun yang menjadi waktu genting pengajuan kembali alokasi pupuk untuk 2021. “Harapan kami, pengajuan 2021 nanti tidak terlambat lagi, dan E-RDKK yang diusulkan sudah valid dengan jumlah kebutuhan petani,” katanya.

Dia juga meminta pemerintah daerah bekerja lebih optimal dalam menuntaskan penyusunan E-RDKK. Sebab, berkaca pada E-RDKK tahun sebelumnya, banyak petani yang tidak masuk data. Hal itu membuat realisasi pupuk jomplang dengan pengajuannya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan pupuk yang dialami petani selama beberapa musim kemarin menjadi pukulan telak bagi mereka. Menjelang akhir tahun ini, para pahlawan pangan itu berharap kejadian serupa tak terulang. Sehingga ketersediaan dan penetapan kuota pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan petani.

Menilik ke belakang, salah satu penyebab kelangkaan pupuk ditengarai karena ketidaksesuaian antara data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Dalam RDKK 2020, tercatat ada sebanyak 260.053 petani penerima manfaat dengan alokasi 99.077,06 ton. Sementara dalam E-RDKK hanya terdata 94.867 petani dengan alokasi 52.346 ton. Selisih cukup besar itu dituding menjadi musabab pemangkasan kuota pupuk bersubsidi bagi petani di Jember yang hampir mencapai 50 persen dari kebutuhan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menilai, kelangkaan pupuk bersubsidi beberapa musim lalu perlu jadi catatan bagi pemerintah. Lebih-lebih saat memasuki akhir tahun yang menjadi waktu genting pengajuan kembali alokasi pupuk untuk 2021. “Harapan kami, pengajuan 2021 nanti tidak terlambat lagi, dan E-RDKK yang diusulkan sudah valid dengan jumlah kebutuhan petani,” katanya.

Dia juga meminta pemerintah daerah bekerja lebih optimal dalam menuntaskan penyusunan E-RDKK. Sebab, berkaca pada E-RDKK tahun sebelumnya, banyak petani yang tidak masuk data. Hal itu membuat realisasi pupuk jomplang dengan pengajuannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/