alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Kerap Jawara Lomba Tarik Suara Antarkecamatan

Butuh hiburan, beginilah setidaknya kondisi psikis masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Apalagi yang hobinya karaoke, tentu tidak bisa lagi karena tempat hiburan karaoke telah ditutup sementara. Namun tak perlu cemas, ada solusinya seperti yang dikerjakan setiap hari oleh Sunito, sang pengamen karaoke.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan musik dangdut Banyuwangian terdengar sayup-sayup. Lama-kelamaan semakin mendekat dan nyaring. Perlahan, kata demi kata dalam liriknya mulai dikenali. Lagu Kanggo Riko yang dipopulerkan oleh Demi tersebut sontak membuat warga di perkampungan padat penduduk depan Pasar Kepatihan yang awalnya sepi, menjadi ceria.

Pengamen karaoke yang membawa sound system mini tersebut membuat Sugiati, warga setempat, terhibur. Dia tidak sekadar memberi uang sebagai apresiasi kepada sang pengamen, tapi juga ikut larut berkaraoke. Karaoke jalanan di perkampungan juga mengundang perhatian tetangga. Subaida pun turut ikut berkaraoke. “Ojok lagu sing sedih ngunu lho, Pak (jangan lagu yang sedih begitu Pak, Red). Yang ceria, dangdut Banyuwangian,” kata Sugiati kepada pengamen karaoke itu.

Karaoke di gang sempit depan rumah sambil menggoyangkan badan membuat Sugiati dan Subaida terhibur. Bahkan, sejumlah anak juga larut dalam keasyikan siang itu. Satu dua tiga lagu selesai, kedua ibu rumah tangga itu mulai mengeluarkan lembar Rp 5 ribu sebagai jasa pengamen yang telah menghibur mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengamen karaoke itu bernama Sunito. Dengan mengenakan topi, suara merdu Sunito saat mengamen pas dengan nada musiknya. Saat ditanya bagaimana suaranya bisa semerdu itu, Sunito hanya tersenyum malu.

Namun, bila ditelisik lebih lanjut, nyatanya Sunito tidak sekadar pengamen biasa. Tapi pengamen yang ingin memuaskan telinga para pendengar. Di kampung halamannya di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Sunito tidak hanya berprofesi sebagai pengamen. Dia juga lihai dalam tarik suara. Setiap ada lomba nyanyi agustusan, Sunito kerap kali menyabet juara tingkat kecamatan. “Kalau ada lomba di kecamatan lain seperti di Maesan, Bondowoso, ataupun Kalisat, ya ikut. Terakhir di Maesan memang juara 1,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan musik dangdut Banyuwangian terdengar sayup-sayup. Lama-kelamaan semakin mendekat dan nyaring. Perlahan, kata demi kata dalam liriknya mulai dikenali. Lagu Kanggo Riko yang dipopulerkan oleh Demi tersebut sontak membuat warga di perkampungan padat penduduk depan Pasar Kepatihan yang awalnya sepi, menjadi ceria.

Pengamen karaoke yang membawa sound system mini tersebut membuat Sugiati, warga setempat, terhibur. Dia tidak sekadar memberi uang sebagai apresiasi kepada sang pengamen, tapi juga ikut larut berkaraoke. Karaoke jalanan di perkampungan juga mengundang perhatian tetangga. Subaida pun turut ikut berkaraoke. “Ojok lagu sing sedih ngunu lho, Pak (jangan lagu yang sedih begitu Pak, Red). Yang ceria, dangdut Banyuwangian,” kata Sugiati kepada pengamen karaoke itu.

Karaoke di gang sempit depan rumah sambil menggoyangkan badan membuat Sugiati dan Subaida terhibur. Bahkan, sejumlah anak juga larut dalam keasyikan siang itu. Satu dua tiga lagu selesai, kedua ibu rumah tangga itu mulai mengeluarkan lembar Rp 5 ribu sebagai jasa pengamen yang telah menghibur mereka.

Pengamen karaoke itu bernama Sunito. Dengan mengenakan topi, suara merdu Sunito saat mengamen pas dengan nada musiknya. Saat ditanya bagaimana suaranya bisa semerdu itu, Sunito hanya tersenyum malu.

Namun, bila ditelisik lebih lanjut, nyatanya Sunito tidak sekadar pengamen biasa. Tapi pengamen yang ingin memuaskan telinga para pendengar. Di kampung halamannya di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Sunito tidak hanya berprofesi sebagai pengamen. Dia juga lihai dalam tarik suara. Setiap ada lomba nyanyi agustusan, Sunito kerap kali menyabet juara tingkat kecamatan. “Kalau ada lomba di kecamatan lain seperti di Maesan, Bondowoso, ataupun Kalisat, ya ikut. Terakhir di Maesan memang juara 1,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan musik dangdut Banyuwangian terdengar sayup-sayup. Lama-kelamaan semakin mendekat dan nyaring. Perlahan, kata demi kata dalam liriknya mulai dikenali. Lagu Kanggo Riko yang dipopulerkan oleh Demi tersebut sontak membuat warga di perkampungan padat penduduk depan Pasar Kepatihan yang awalnya sepi, menjadi ceria.

Pengamen karaoke yang membawa sound system mini tersebut membuat Sugiati, warga setempat, terhibur. Dia tidak sekadar memberi uang sebagai apresiasi kepada sang pengamen, tapi juga ikut larut berkaraoke. Karaoke jalanan di perkampungan juga mengundang perhatian tetangga. Subaida pun turut ikut berkaraoke. “Ojok lagu sing sedih ngunu lho, Pak (jangan lagu yang sedih begitu Pak, Red). Yang ceria, dangdut Banyuwangian,” kata Sugiati kepada pengamen karaoke itu.

Karaoke di gang sempit depan rumah sambil menggoyangkan badan membuat Sugiati dan Subaida terhibur. Bahkan, sejumlah anak juga larut dalam keasyikan siang itu. Satu dua tiga lagu selesai, kedua ibu rumah tangga itu mulai mengeluarkan lembar Rp 5 ribu sebagai jasa pengamen yang telah menghibur mereka.

Pengamen karaoke itu bernama Sunito. Dengan mengenakan topi, suara merdu Sunito saat mengamen pas dengan nada musiknya. Saat ditanya bagaimana suaranya bisa semerdu itu, Sunito hanya tersenyum malu.

Namun, bila ditelisik lebih lanjut, nyatanya Sunito tidak sekadar pengamen biasa. Tapi pengamen yang ingin memuaskan telinga para pendengar. Di kampung halamannya di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Sunito tidak hanya berprofesi sebagai pengamen. Dia juga lihai dalam tarik suara. Setiap ada lomba nyanyi agustusan, Sunito kerap kali menyabet juara tingkat kecamatan. “Kalau ada lomba di kecamatan lain seperti di Maesan, Bondowoso, ataupun Kalisat, ya ikut. Terakhir di Maesan memang juara 1,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/