alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Wanginya Tak Sampai ke Petani

Sentuh Rp 4 Ribu per Kilogram

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Memasuki bulan Mei hingga September, wajah-wajah manis petani kopi tidak terlihat lagi. Mereka justru bertampang kecut dan suntuk, karena komoditas tanaman perkebunan tak seperti dulu sebelum pandemi korona. Pasalnya, para petani kopi tak bisa menjual komoditas mereka dengan harga yang manusiawi.

Derita itu dirasakan oleh salah satu petani kopi, Mohammad Rizky, dari Silosanen, Kecamatan Silo. Baginya, imbas korona begitu terasa di sektor perkebunan kopi. Memilih bekerja di sektor perkebunan kopi daripada mengadu nasib ke kota, Rizky berharap menjadi salah satu petani muda yang bisa mengubah paradigma petani-petani lokal setempat. Dari awalnya menjual glondongan, menjadi paham sistem jual petik merah. Tapi, kopi petik merah juga tidak ada artinya. “Mengajarkan petani petik merah itu agar kopi yang dihasilkan berkualitas, sehingga harganya bisa naik,” tuturnya.

Sejak korona, harga kopi, khususnya robusta, justru terperosok jatuh. Hanya Rp 4 ribu per kilogram untuk jenis kopi petik merah. Padahal, harga normalnya bisa mencapai Rp 6 ribu per kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penyebabnya, kata dia, pada waktu itu banyak kafe yang tak beroperasi selama pandemi korona. Padahal, kafe termasuk pelanggan kopi rakyat. Kalaupun ada kafe yang telah dibuka, namun tak bisa memberikan peningkatan yang signifikan.

Di sisi lain, para petani kopi saat ini mulai memasuki musim panen kopi. Akibat kondisi ini, banyak petani kopi langsung menjual produk mereka dan tidak disimpan terlebih dahulu, lantaran tidak mempelajari lebih lanjut dari kopi merah. “Kalau punya kopi, mending disimpan saja, jangan buru-buru dijual,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Memasuki bulan Mei hingga September, wajah-wajah manis petani kopi tidak terlihat lagi. Mereka justru bertampang kecut dan suntuk, karena komoditas tanaman perkebunan tak seperti dulu sebelum pandemi korona. Pasalnya, para petani kopi tak bisa menjual komoditas mereka dengan harga yang manusiawi.

Derita itu dirasakan oleh salah satu petani kopi, Mohammad Rizky, dari Silosanen, Kecamatan Silo. Baginya, imbas korona begitu terasa di sektor perkebunan kopi. Memilih bekerja di sektor perkebunan kopi daripada mengadu nasib ke kota, Rizky berharap menjadi salah satu petani muda yang bisa mengubah paradigma petani-petani lokal setempat. Dari awalnya menjual glondongan, menjadi paham sistem jual petik merah. Tapi, kopi petik merah juga tidak ada artinya. “Mengajarkan petani petik merah itu agar kopi yang dihasilkan berkualitas, sehingga harganya bisa naik,” tuturnya.

Sejak korona, harga kopi, khususnya robusta, justru terperosok jatuh. Hanya Rp 4 ribu per kilogram untuk jenis kopi petik merah. Padahal, harga normalnya bisa mencapai Rp 6 ribu per kilogram.

Penyebabnya, kata dia, pada waktu itu banyak kafe yang tak beroperasi selama pandemi korona. Padahal, kafe termasuk pelanggan kopi rakyat. Kalaupun ada kafe yang telah dibuka, namun tak bisa memberikan peningkatan yang signifikan.

Di sisi lain, para petani kopi saat ini mulai memasuki musim panen kopi. Akibat kondisi ini, banyak petani kopi langsung menjual produk mereka dan tidak disimpan terlebih dahulu, lantaran tidak mempelajari lebih lanjut dari kopi merah. “Kalau punya kopi, mending disimpan saja, jangan buru-buru dijual,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Memasuki bulan Mei hingga September, wajah-wajah manis petani kopi tidak terlihat lagi. Mereka justru bertampang kecut dan suntuk, karena komoditas tanaman perkebunan tak seperti dulu sebelum pandemi korona. Pasalnya, para petani kopi tak bisa menjual komoditas mereka dengan harga yang manusiawi.

Derita itu dirasakan oleh salah satu petani kopi, Mohammad Rizky, dari Silosanen, Kecamatan Silo. Baginya, imbas korona begitu terasa di sektor perkebunan kopi. Memilih bekerja di sektor perkebunan kopi daripada mengadu nasib ke kota, Rizky berharap menjadi salah satu petani muda yang bisa mengubah paradigma petani-petani lokal setempat. Dari awalnya menjual glondongan, menjadi paham sistem jual petik merah. Tapi, kopi petik merah juga tidak ada artinya. “Mengajarkan petani petik merah itu agar kopi yang dihasilkan berkualitas, sehingga harganya bisa naik,” tuturnya.

Sejak korona, harga kopi, khususnya robusta, justru terperosok jatuh. Hanya Rp 4 ribu per kilogram untuk jenis kopi petik merah. Padahal, harga normalnya bisa mencapai Rp 6 ribu per kilogram.

Penyebabnya, kata dia, pada waktu itu banyak kafe yang tak beroperasi selama pandemi korona. Padahal, kafe termasuk pelanggan kopi rakyat. Kalaupun ada kafe yang telah dibuka, namun tak bisa memberikan peningkatan yang signifikan.

Di sisi lain, para petani kopi saat ini mulai memasuki musim panen kopi. Akibat kondisi ini, banyak petani kopi langsung menjual produk mereka dan tidak disimpan terlebih dahulu, lantaran tidak mempelajari lebih lanjut dari kopi merah. “Kalau punya kopi, mending disimpan saja, jangan buru-buru dijual,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/