alexametrics
22.9 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Andika Raju, Penyiar Muslim Radio Komunitas Kristiani

Pemuda muslim, Andika Raju, mampu menunjukkan sikap toleransi melalui broadcasting radio di tengah komunitas kristiani. Dia menjadi inspirasi karena bisa menyalurkan hobi sekaligus mempererat silaturahmi antarumat beragama.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang penyiar, cuap-cuap menjadi hal yang biasa dilakukan oleh Andika Raju saat mengudara atau on air. Hal itu harus dilakukan untuk menyapa para pendengar. Baginya, menjadi seorang announcer atau penyiar adalah pengalaman yang sangat berharga.

BACA JUGA : Jang Nara Akan Menikah dengan Non Selebriti

Pemuda muslim ini mengaku, menjadi penyiar radio merupakan pengalaman pertamannya, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) di Lumajang. Sebelum menjadi penyiar, Raju sempat menjadi entrepreneur muda. Dia berbeda dengan teman sebayanya sesama muslim.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keuletan dan kemandirian dalam diri di pesantren dulu memotivasinya untuk melanjutkan kuliah pada jurusan bisnis syariah. Selain itu, dia pun menyukai dunia broadcasting. Nah, saat itulah Raju memiliki teman nonmuslim yang membawanya menjadi salah satu penyiar di Radio Sayup. Radio Sayup yakni radio komunitas milik Gereja Katolik Santo Yusup Jember.

Menjadi penyiar di salah satu radio komunitas Katolik di Jember menjadi tantangan tersendiri baginya. Perasaan canggung juga terus ada dalam hatinya. Bagaimana tidak, dia adalah satu-satunya penyiar muslim yang bekerja di radio komunitas kristiani. Bekerja dalam lingkup yang mayoritas adalah non muslim. Namun, semakin hari, dirinya semakin terbiasa dengan suasana kekeluargaan dalam gereja.

“Awalnya canggung juga. Mungkin banyak yang tidak tahu saya muslim. Tapi, saya tidak mungkin menutupi jati diri iman saya. Lama-kelamaan mulai terbiasa dan semuanya berjalan dengan baik. Semua menerima dan tidak jarang pendengar yang Katolik ikut menyapa saya dengan mengucapkan assalamualaikum,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang penyiar, cuap-cuap menjadi hal yang biasa dilakukan oleh Andika Raju saat mengudara atau on air. Hal itu harus dilakukan untuk menyapa para pendengar. Baginya, menjadi seorang announcer atau penyiar adalah pengalaman yang sangat berharga.

BACA JUGA : Jang Nara Akan Menikah dengan Non Selebriti

Pemuda muslim ini mengaku, menjadi penyiar radio merupakan pengalaman pertamannya, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) di Lumajang. Sebelum menjadi penyiar, Raju sempat menjadi entrepreneur muda. Dia berbeda dengan teman sebayanya sesama muslim.

Keuletan dan kemandirian dalam diri di pesantren dulu memotivasinya untuk melanjutkan kuliah pada jurusan bisnis syariah. Selain itu, dia pun menyukai dunia broadcasting. Nah, saat itulah Raju memiliki teman nonmuslim yang membawanya menjadi salah satu penyiar di Radio Sayup. Radio Sayup yakni radio komunitas milik Gereja Katolik Santo Yusup Jember.

Menjadi penyiar di salah satu radio komunitas Katolik di Jember menjadi tantangan tersendiri baginya. Perasaan canggung juga terus ada dalam hatinya. Bagaimana tidak, dia adalah satu-satunya penyiar muslim yang bekerja di radio komunitas kristiani. Bekerja dalam lingkup yang mayoritas adalah non muslim. Namun, semakin hari, dirinya semakin terbiasa dengan suasana kekeluargaan dalam gereja.

“Awalnya canggung juga. Mungkin banyak yang tidak tahu saya muslim. Tapi, saya tidak mungkin menutupi jati diri iman saya. Lama-kelamaan mulai terbiasa dan semuanya berjalan dengan baik. Semua menerima dan tidak jarang pendengar yang Katolik ikut menyapa saya dengan mengucapkan assalamualaikum,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang penyiar, cuap-cuap menjadi hal yang biasa dilakukan oleh Andika Raju saat mengudara atau on air. Hal itu harus dilakukan untuk menyapa para pendengar. Baginya, menjadi seorang announcer atau penyiar adalah pengalaman yang sangat berharga.

BACA JUGA : Jang Nara Akan Menikah dengan Non Selebriti

Pemuda muslim ini mengaku, menjadi penyiar radio merupakan pengalaman pertamannya, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) di Lumajang. Sebelum menjadi penyiar, Raju sempat menjadi entrepreneur muda. Dia berbeda dengan teman sebayanya sesama muslim.

Keuletan dan kemandirian dalam diri di pesantren dulu memotivasinya untuk melanjutkan kuliah pada jurusan bisnis syariah. Selain itu, dia pun menyukai dunia broadcasting. Nah, saat itulah Raju memiliki teman nonmuslim yang membawanya menjadi salah satu penyiar di Radio Sayup. Radio Sayup yakni radio komunitas milik Gereja Katolik Santo Yusup Jember.

Menjadi penyiar di salah satu radio komunitas Katolik di Jember menjadi tantangan tersendiri baginya. Perasaan canggung juga terus ada dalam hatinya. Bagaimana tidak, dia adalah satu-satunya penyiar muslim yang bekerja di radio komunitas kristiani. Bekerja dalam lingkup yang mayoritas adalah non muslim. Namun, semakin hari, dirinya semakin terbiasa dengan suasana kekeluargaan dalam gereja.

“Awalnya canggung juga. Mungkin banyak yang tidak tahu saya muslim. Tapi, saya tidak mungkin menutupi jati diri iman saya. Lama-kelamaan mulai terbiasa dan semuanya berjalan dengan baik. Semua menerima dan tidak jarang pendengar yang Katolik ikut menyapa saya dengan mengucapkan assalamualaikum,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/