alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Tak Ada PHK di Tengah Pandemi

Kebun Glantangan Butuh Tambahan Pekerja

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pandemi Covid-19, tak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beragam sektor usaha. Namun, lain halnya pada industri perkebunan karet. Seperti yang terjadi di PTPN XII Kebun Glantangan, Kecamatan Tempurejo.

Kebun Glantangan justru membutuhkan tambahan tenaga kerja baru guna mengoptimalkan hasil produksi karet yang kuat bertahan menghadapi wabah Covid-19. Manajer PTPN XII Kebun GlantanganMarahalim Harahap menegaskan bahwa tak ada PHK di Kebun Glantangan. “Malah kami butuh karyawan lagi,” ujarnya, Rabu (3/6) kemarin.

Saat ini, lanjut dia, terdapat sekitar 1.300 pekerja yang tersebar di pabrik pengolahan maupun sebagai penyadap getah karet atau lateks. Sebagian pekerja merupakan warga dari empat desa di sekitar pabrik Glantangan, di antaranya Desa Curahtakir, Desa Pondokrejo, Desa/Kecamatan Tempurejo, dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Sementara, kebutuhan tambahan pekerja mencapai 100 orang. “Terutama untuk yang di pengolahan lateks dan sortir ribbed smoked sheet(RSS),” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masih menurut Marahalim, diharapkan pekerja tambahan diisi oleh angkatan kerja baru itu berusia muda dan produktif. “Pabrik karet boleh jadi industri kuno. Namun, tidak goyah dengan situasi pandemik yang memukul banyak sektor industri modern,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1914 lalu, hingga saat ini Kebun Glantangan masih beroperasi sekitar lima sampai enam generasi. Saat ini, produksi pohon karet menghasilkan getah sedang dalam masa-masa suburnya. Kebun Glantangan menghasilkan sekitar 20-30 ribu liter lateks per hari, dari 896 hektare lahan yang ditanami pohon karet.

Kebun Glantangan PTPN XII juga telah merevitalisasi fasilitas pendukung pabrik produksi karet. Salah satunya adalah dengan memperbarui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, telah terjadi sedimentasi di kolam penampungan limbah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pandemi Covid-19, tak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beragam sektor usaha. Namun, lain halnya pada industri perkebunan karet. Seperti yang terjadi di PTPN XII Kebun Glantangan, Kecamatan Tempurejo.

Kebun Glantangan justru membutuhkan tambahan tenaga kerja baru guna mengoptimalkan hasil produksi karet yang kuat bertahan menghadapi wabah Covid-19. Manajer PTPN XII Kebun GlantanganMarahalim Harahap menegaskan bahwa tak ada PHK di Kebun Glantangan. “Malah kami butuh karyawan lagi,” ujarnya, Rabu (3/6) kemarin.

Saat ini, lanjut dia, terdapat sekitar 1.300 pekerja yang tersebar di pabrik pengolahan maupun sebagai penyadap getah karet atau lateks. Sebagian pekerja merupakan warga dari empat desa di sekitar pabrik Glantangan, di antaranya Desa Curahtakir, Desa Pondokrejo, Desa/Kecamatan Tempurejo, dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Sementara, kebutuhan tambahan pekerja mencapai 100 orang. “Terutama untuk yang di pengolahan lateks dan sortir ribbed smoked sheet(RSS),” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Masih menurut Marahalim, diharapkan pekerja tambahan diisi oleh angkatan kerja baru itu berusia muda dan produktif. “Pabrik karet boleh jadi industri kuno. Namun, tidak goyah dengan situasi pandemik yang memukul banyak sektor industri modern,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1914 lalu, hingga saat ini Kebun Glantangan masih beroperasi sekitar lima sampai enam generasi. Saat ini, produksi pohon karet menghasilkan getah sedang dalam masa-masa suburnya. Kebun Glantangan menghasilkan sekitar 20-30 ribu liter lateks per hari, dari 896 hektare lahan yang ditanami pohon karet.

Kebun Glantangan PTPN XII juga telah merevitalisasi fasilitas pendukung pabrik produksi karet. Salah satunya adalah dengan memperbarui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, telah terjadi sedimentasi di kolam penampungan limbah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pandemi Covid-19, tak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beragam sektor usaha. Namun, lain halnya pada industri perkebunan karet. Seperti yang terjadi di PTPN XII Kebun Glantangan, Kecamatan Tempurejo.

Kebun Glantangan justru membutuhkan tambahan tenaga kerja baru guna mengoptimalkan hasil produksi karet yang kuat bertahan menghadapi wabah Covid-19. Manajer PTPN XII Kebun GlantanganMarahalim Harahap menegaskan bahwa tak ada PHK di Kebun Glantangan. “Malah kami butuh karyawan lagi,” ujarnya, Rabu (3/6) kemarin.

Saat ini, lanjut dia, terdapat sekitar 1.300 pekerja yang tersebar di pabrik pengolahan maupun sebagai penyadap getah karet atau lateks. Sebagian pekerja merupakan warga dari empat desa di sekitar pabrik Glantangan, di antaranya Desa Curahtakir, Desa Pondokrejo, Desa/Kecamatan Tempurejo, dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Sementara, kebutuhan tambahan pekerja mencapai 100 orang. “Terutama untuk yang di pengolahan lateks dan sortir ribbed smoked sheet(RSS),” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Masih menurut Marahalim, diharapkan pekerja tambahan diisi oleh angkatan kerja baru itu berusia muda dan produktif. “Pabrik karet boleh jadi industri kuno. Namun, tidak goyah dengan situasi pandemik yang memukul banyak sektor industri modern,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1914 lalu, hingga saat ini Kebun Glantangan masih beroperasi sekitar lima sampai enam generasi. Saat ini, produksi pohon karet menghasilkan getah sedang dalam masa-masa suburnya. Kebun Glantangan menghasilkan sekitar 20-30 ribu liter lateks per hari, dari 896 hektare lahan yang ditanami pohon karet.

Kebun Glantangan PTPN XII juga telah merevitalisasi fasilitas pendukung pabrik produksi karet. Salah satunya adalah dengan memperbarui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, telah terjadi sedimentasi di kolam penampungan limbah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/