alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Tosan, Pemuda Awe-Awe di Jalur Gumitir

Pengguna jalan yang kerap melintasi Jalur Gumitir, pasti sering melihat warga yang awe-awe. Di belokan tertajam, ada pria bernama Tosan. Di kalangan sopir truk, namanya cukup terkenal karena suka membantu pengaturan lalin.

Mobile_AP_Rectangle 1

Sopir yang melintas di depan Tosan bukan hanya melempar uang, tetapi ada pula yang memberikan roti, air mineral, keripik singkong, jajanan Lebaran, bahkan rokok. Semua pemberian itu dianggapnya rezeki dari Tuhan. “Ini namanya rezeki. Saya juga tidak memaksa kepada pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Rezeki itu sudah ada yang ngatur dan sudah ada takarannya,” kata Tosan sambil tertawa.

Menurutnya, dia mulai kerja sejak pagi pukul 06.00 hingga sore atau sekitar 18.00. Dalam sehari, dia memperoleh uang sekitar Rp 75-150 ribu. “Puasa sekarang ini jauh beda dengan Ramadan dua tahun sebelumnya,” katanya.

Untuk sekarang ini memang banyak pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Tetapi sekadar lewat saja. Menurutnya, pemudik banyak yang pulang malam hari dibanding siang hari. “Yang pulang siang hari tidak sebanyak yang mudik dua tahun lalu,” ujar pria bertubuh kurus ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dengan kerja seperti itu, Tosan mengaku bisa menghidupi istri dan dua anaknya. “Saya ini modelnya masih belum punya anak. Tetapi, di rumah ada yang menunggu, yakni istri dan dua anak yang masih kecil-kecil,” kata Tosan sambil tertawa.

Dia menyebut, saat puasa dua tahun lalu atau sebelum pandemi, dia bisa membawa uang Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. “Mungkin sekarang ini orang yang mudik dari tempat kerja dan pulang lebih awal pada malam hari. Sehingga siangnya sepi, benar rame di Jalur Gumitir, tetapi warga Kalibaru saja yang lewat untuk pergi ke Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

- Advertisement -

Sopir yang melintas di depan Tosan bukan hanya melempar uang, tetapi ada pula yang memberikan roti, air mineral, keripik singkong, jajanan Lebaran, bahkan rokok. Semua pemberian itu dianggapnya rezeki dari Tuhan. “Ini namanya rezeki. Saya juga tidak memaksa kepada pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Rezeki itu sudah ada yang ngatur dan sudah ada takarannya,” kata Tosan sambil tertawa.

Menurutnya, dia mulai kerja sejak pagi pukul 06.00 hingga sore atau sekitar 18.00. Dalam sehari, dia memperoleh uang sekitar Rp 75-150 ribu. “Puasa sekarang ini jauh beda dengan Ramadan dua tahun sebelumnya,” katanya.

Untuk sekarang ini memang banyak pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Tetapi sekadar lewat saja. Menurutnya, pemudik banyak yang pulang malam hari dibanding siang hari. “Yang pulang siang hari tidak sebanyak yang mudik dua tahun lalu,” ujar pria bertubuh kurus ini.

Dengan kerja seperti itu, Tosan mengaku bisa menghidupi istri dan dua anaknya. “Saya ini modelnya masih belum punya anak. Tetapi, di rumah ada yang menunggu, yakni istri dan dua anak yang masih kecil-kecil,” kata Tosan sambil tertawa.

Dia menyebut, saat puasa dua tahun lalu atau sebelum pandemi, dia bisa membawa uang Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. “Mungkin sekarang ini orang yang mudik dari tempat kerja dan pulang lebih awal pada malam hari. Sehingga siangnya sepi, benar rame di Jalur Gumitir, tetapi warga Kalibaru saja yang lewat untuk pergi ke Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

Sopir yang melintas di depan Tosan bukan hanya melempar uang, tetapi ada pula yang memberikan roti, air mineral, keripik singkong, jajanan Lebaran, bahkan rokok. Semua pemberian itu dianggapnya rezeki dari Tuhan. “Ini namanya rezeki. Saya juga tidak memaksa kepada pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Rezeki itu sudah ada yang ngatur dan sudah ada takarannya,” kata Tosan sambil tertawa.

Menurutnya, dia mulai kerja sejak pagi pukul 06.00 hingga sore atau sekitar 18.00. Dalam sehari, dia memperoleh uang sekitar Rp 75-150 ribu. “Puasa sekarang ini jauh beda dengan Ramadan dua tahun sebelumnya,” katanya.

Untuk sekarang ini memang banyak pengguna jalan yang melintas di Jalur Gumitir. Tetapi sekadar lewat saja. Menurutnya, pemudik banyak yang pulang malam hari dibanding siang hari. “Yang pulang siang hari tidak sebanyak yang mudik dua tahun lalu,” ujar pria bertubuh kurus ini.

Dengan kerja seperti itu, Tosan mengaku bisa menghidupi istri dan dua anaknya. “Saya ini modelnya masih belum punya anak. Tetapi, di rumah ada yang menunggu, yakni istri dan dua anak yang masih kecil-kecil,” kata Tosan sambil tertawa.

Dia menyebut, saat puasa dua tahun lalu atau sebelum pandemi, dia bisa membawa uang Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. “Mungkin sekarang ini orang yang mudik dari tempat kerja dan pulang lebih awal pada malam hari. Sehingga siangnya sepi, benar rame di Jalur Gumitir, tetapi warga Kalibaru saja yang lewat untuk pergi ke Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/