alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Sumpah Profesi Jadi Prinsip, Ingin Warga Lebih Sadar

Berkumpul dengan keluarga merupakan dambaan setiap orang. Khususnya pada saat weekend. Sayang, tak semua orang dapat merealisasikan hal tersebut. Mengingat, pandemi korona belum mereda. Salah satunya adalah tenaga medis.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi detak jam dinding terdengar lebih kencang pada saat itu. Sementara, suara lalu lalang kendaraan hanya terdengar sekali dua kali, lalu detak jam kembali mendominasi. Maklum, hanya ada sesosok perawat yang sedang bertugas malam itu. Rizal namanya.

Meski sedang berjaga, pakaian yang dia pakai tergolong lengkap. Sarung tangan medis, masker bedah, baju jaga, barascoat nonsteril (APD), dan face shield memantapkan perannya sebagai perawat di RSD dr H Koesnadi, Jalan Pierre Tendean Nomor 3, Desa Kotakulon, Kelurahan Badean, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.

“Kebetulan, saya dinas malam hari ini (Jumat, Red). Jadi, saya wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) level 2,” tutur Rizal Try Wahyuono. Hal itu bertujuan untuk melindungi dirinya dari Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Meski tidak menangani pasien secara langsung, saya mesti waspada,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, itu mengaku resah lantaran takut tertular wabah korona. Sebab, petugas medis rentan terpapar virus.

“Apalagi, kalau ada pasien yang tidak jujur seperti beberapa waktu lalu. Ada gejala, tapi takut mengungkapkan,” jelasnya. Untungnya, petugas medis sigap dan langsung mengurus pasien tersebut.

“Selain itu, menjadi petugas medis tak bisa seenaknya pulang ke rumah,” ujar perawat yang berjaga di ruang penyakit dalam dan paru tersebut. Sebab, semua petugas medis itu merupakan orang dalam risiko alias ODR. “Pulang malah berpotensi membawa virus,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi detak jam dinding terdengar lebih kencang pada saat itu. Sementara, suara lalu lalang kendaraan hanya terdengar sekali dua kali, lalu detak jam kembali mendominasi. Maklum, hanya ada sesosok perawat yang sedang bertugas malam itu. Rizal namanya.

Meski sedang berjaga, pakaian yang dia pakai tergolong lengkap. Sarung tangan medis, masker bedah, baju jaga, barascoat nonsteril (APD), dan face shield memantapkan perannya sebagai perawat di RSD dr H Koesnadi, Jalan Pierre Tendean Nomor 3, Desa Kotakulon, Kelurahan Badean, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.

“Kebetulan, saya dinas malam hari ini (Jumat, Red). Jadi, saya wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) level 2,” tutur Rizal Try Wahyuono. Hal itu bertujuan untuk melindungi dirinya dari Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Meski tidak menangani pasien secara langsung, saya mesti waspada,” ungkapnya.

Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, itu mengaku resah lantaran takut tertular wabah korona. Sebab, petugas medis rentan terpapar virus.

“Apalagi, kalau ada pasien yang tidak jujur seperti beberapa waktu lalu. Ada gejala, tapi takut mengungkapkan,” jelasnya. Untungnya, petugas medis sigap dan langsung mengurus pasien tersebut.

“Selain itu, menjadi petugas medis tak bisa seenaknya pulang ke rumah,” ujar perawat yang berjaga di ruang penyakit dalam dan paru tersebut. Sebab, semua petugas medis itu merupakan orang dalam risiko alias ODR. “Pulang malah berpotensi membawa virus,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi detak jam dinding terdengar lebih kencang pada saat itu. Sementara, suara lalu lalang kendaraan hanya terdengar sekali dua kali, lalu detak jam kembali mendominasi. Maklum, hanya ada sesosok perawat yang sedang bertugas malam itu. Rizal namanya.

Meski sedang berjaga, pakaian yang dia pakai tergolong lengkap. Sarung tangan medis, masker bedah, baju jaga, barascoat nonsteril (APD), dan face shield memantapkan perannya sebagai perawat di RSD dr H Koesnadi, Jalan Pierre Tendean Nomor 3, Desa Kotakulon, Kelurahan Badean, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.

“Kebetulan, saya dinas malam hari ini (Jumat, Red). Jadi, saya wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) level 2,” tutur Rizal Try Wahyuono. Hal itu bertujuan untuk melindungi dirinya dari Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Meski tidak menangani pasien secara langsung, saya mesti waspada,” ungkapnya.

Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, itu mengaku resah lantaran takut tertular wabah korona. Sebab, petugas medis rentan terpapar virus.

“Apalagi, kalau ada pasien yang tidak jujur seperti beberapa waktu lalu. Ada gejala, tapi takut mengungkapkan,” jelasnya. Untungnya, petugas medis sigap dan langsung mengurus pasien tersebut.

“Selain itu, menjadi petugas medis tak bisa seenaknya pulang ke rumah,” ujar perawat yang berjaga di ruang penyakit dalam dan paru tersebut. Sebab, semua petugas medis itu merupakan orang dalam risiko alias ODR. “Pulang malah berpotensi membawa virus,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/