alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Waspadai Dampak Lonjakan Pemudik

Pemkab Pusatkan Karantina ODP-PDP di JSG

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendati pemerintah telah mengimbau agar warga perantau tak kembali ke kampung halaman, tapi gelombang kedatangan warga Jember yang bekerja di luar daerah tak bisa dibendung lagi. Termasuk mereka yang bekerja di daerah zona merah virus korona (Covid-19), seperti Bali, Surabaya, dan Jakarta.

Kedatangan para perantau tersebut karena di tempat asal mereka mengadu nasib sudah menerapkan pembatasan aktivitas sosial. Karenanya, mereka tak bisa bekerja dan tak mendapatkan penghasilan lagi. Sebab, rata-rata warga Jember yang merantau di luar daerah itu bekerja di sektor swasta, sektor yang paling terdampak kebijakan pembatasan sosial tersebut.

Titin, warga Kecamatan Sumberbaru yang baru pulang dari tempat kerjanya di Singaraja, Bali, mengaku bahwa di Bali sudah diberlakukan pembatasan sosial. Sehingga dirinya bersama suami sengaja pulang ke kampung halaman karena di perantauan dirinya tak bisa bekerja lagi. “Ternyata tak hanya di Gilimanuk saja kami diperiksa, di Jember juga. Alhamdulillah, setelah dicek oleh petugas, suhu saya normal 36,3 derajat Celsius,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan 35 tahun ini adalah satu dari sekian banyak warga Jember yang pulang dari perantauan. Mereka kembali ke kampung halaman lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya mereka mudik beberapa hari menjelang Lebaran, saat ini bahkan sebelum puasa mereka sudah kembali ke tempat asal. “Bagaimana lagi, kondisinya sudah begini,” tuturnya.

Titin dan para pemudik lainnya harus menjalani screening atau penapisan di pintu masuk Jember yang menghubungkan dengan kabupaten tetangga. Kebijakan pengetatan jalur masuk ini diputuskan oleh Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Jember, awal pekan ini. Jadi, semua orang yang melintasi pintu gerbang masuk ke Jember, baik yang dari arah Banyuwangi, Bondowoso, maupun Lumajang, bakal dilakukan screening.

Penapisan atau screening dengan mengecek suhu tubuh itu bertujuan untuk mendeteksi semua orang yang masuk ke Jember dan memastikan mereka dalam keadaan sehat. Jika suhunya normal tapi berasal dari zona merah, maka orang itu diberi formulir riwayat kesehatan, dicatat, dan diberi tanda. Tanda yang diberikan berupa gelang khusus berwarna. Gelang ini diberikan ke orang yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP).

Mereka mendapatkan gelang berwarna kuning. Tapi bukan berarti orang tersebut sakit, hanya dalam pemantauan selama dua minggu. Tetapi jika ada yang ditemukan suhunya lebih 38° Celcius, maka tidak diizinkan masuk ke Kabupaten Jember. Orang itu pantau melalui proses isolasi yang disiapkan pemerintah, yakni di Jember Sports Garden (JSG).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendati pemerintah telah mengimbau agar warga perantau tak kembali ke kampung halaman, tapi gelombang kedatangan warga Jember yang bekerja di luar daerah tak bisa dibendung lagi. Termasuk mereka yang bekerja di daerah zona merah virus korona (Covid-19), seperti Bali, Surabaya, dan Jakarta.

Kedatangan para perantau tersebut karena di tempat asal mereka mengadu nasib sudah menerapkan pembatasan aktivitas sosial. Karenanya, mereka tak bisa bekerja dan tak mendapatkan penghasilan lagi. Sebab, rata-rata warga Jember yang merantau di luar daerah itu bekerja di sektor swasta, sektor yang paling terdampak kebijakan pembatasan sosial tersebut.

Titin, warga Kecamatan Sumberbaru yang baru pulang dari tempat kerjanya di Singaraja, Bali, mengaku bahwa di Bali sudah diberlakukan pembatasan sosial. Sehingga dirinya bersama suami sengaja pulang ke kampung halaman karena di perantauan dirinya tak bisa bekerja lagi. “Ternyata tak hanya di Gilimanuk saja kami diperiksa, di Jember juga. Alhamdulillah, setelah dicek oleh petugas, suhu saya normal 36,3 derajat Celsius,” ujarnya.

Perempuan 35 tahun ini adalah satu dari sekian banyak warga Jember yang pulang dari perantauan. Mereka kembali ke kampung halaman lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya mereka mudik beberapa hari menjelang Lebaran, saat ini bahkan sebelum puasa mereka sudah kembali ke tempat asal. “Bagaimana lagi, kondisinya sudah begini,” tuturnya.

Titin dan para pemudik lainnya harus menjalani screening atau penapisan di pintu masuk Jember yang menghubungkan dengan kabupaten tetangga. Kebijakan pengetatan jalur masuk ini diputuskan oleh Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Jember, awal pekan ini. Jadi, semua orang yang melintasi pintu gerbang masuk ke Jember, baik yang dari arah Banyuwangi, Bondowoso, maupun Lumajang, bakal dilakukan screening.

Penapisan atau screening dengan mengecek suhu tubuh itu bertujuan untuk mendeteksi semua orang yang masuk ke Jember dan memastikan mereka dalam keadaan sehat. Jika suhunya normal tapi berasal dari zona merah, maka orang itu diberi formulir riwayat kesehatan, dicatat, dan diberi tanda. Tanda yang diberikan berupa gelang khusus berwarna. Gelang ini diberikan ke orang yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP).

Mereka mendapatkan gelang berwarna kuning. Tapi bukan berarti orang tersebut sakit, hanya dalam pemantauan selama dua minggu. Tetapi jika ada yang ditemukan suhunya lebih 38° Celcius, maka tidak diizinkan masuk ke Kabupaten Jember. Orang itu pantau melalui proses isolasi yang disiapkan pemerintah, yakni di Jember Sports Garden (JSG).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendati pemerintah telah mengimbau agar warga perantau tak kembali ke kampung halaman, tapi gelombang kedatangan warga Jember yang bekerja di luar daerah tak bisa dibendung lagi. Termasuk mereka yang bekerja di daerah zona merah virus korona (Covid-19), seperti Bali, Surabaya, dan Jakarta.

Kedatangan para perantau tersebut karena di tempat asal mereka mengadu nasib sudah menerapkan pembatasan aktivitas sosial. Karenanya, mereka tak bisa bekerja dan tak mendapatkan penghasilan lagi. Sebab, rata-rata warga Jember yang merantau di luar daerah itu bekerja di sektor swasta, sektor yang paling terdampak kebijakan pembatasan sosial tersebut.

Titin, warga Kecamatan Sumberbaru yang baru pulang dari tempat kerjanya di Singaraja, Bali, mengaku bahwa di Bali sudah diberlakukan pembatasan sosial. Sehingga dirinya bersama suami sengaja pulang ke kampung halaman karena di perantauan dirinya tak bisa bekerja lagi. “Ternyata tak hanya di Gilimanuk saja kami diperiksa, di Jember juga. Alhamdulillah, setelah dicek oleh petugas, suhu saya normal 36,3 derajat Celsius,” ujarnya.

Perempuan 35 tahun ini adalah satu dari sekian banyak warga Jember yang pulang dari perantauan. Mereka kembali ke kampung halaman lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya mereka mudik beberapa hari menjelang Lebaran, saat ini bahkan sebelum puasa mereka sudah kembali ke tempat asal. “Bagaimana lagi, kondisinya sudah begini,” tuturnya.

Titin dan para pemudik lainnya harus menjalani screening atau penapisan di pintu masuk Jember yang menghubungkan dengan kabupaten tetangga. Kebijakan pengetatan jalur masuk ini diputuskan oleh Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Jember, awal pekan ini. Jadi, semua orang yang melintasi pintu gerbang masuk ke Jember, baik yang dari arah Banyuwangi, Bondowoso, maupun Lumajang, bakal dilakukan screening.

Penapisan atau screening dengan mengecek suhu tubuh itu bertujuan untuk mendeteksi semua orang yang masuk ke Jember dan memastikan mereka dalam keadaan sehat. Jika suhunya normal tapi berasal dari zona merah, maka orang itu diberi formulir riwayat kesehatan, dicatat, dan diberi tanda. Tanda yang diberikan berupa gelang khusus berwarna. Gelang ini diberikan ke orang yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP).

Mereka mendapatkan gelang berwarna kuning. Tapi bukan berarti orang tersebut sakit, hanya dalam pemantauan selama dua minggu. Tetapi jika ada yang ditemukan suhunya lebih 38° Celcius, maka tidak diizinkan masuk ke Kabupaten Jember. Orang itu pantau melalui proses isolasi yang disiapkan pemerintah, yakni di Jember Sports Garden (JSG).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/