alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Autodidak, Pernah Garap Satu Pesanan hingga Tiga Bulan

Pada umumnya, maskawin dan hantaran lamaran diberikan pria kepada perempuan. Agar prosesi itu menjadi kenangan tak terlupakan, kemasannya bisa dibikin sedemikian rupa hingga terlihat cantik dan menarik.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, hujan rintik-rintik. Abdul Hamid dan istrinya, Mukminah Fitriyanti, terlihat sedang mengobrol asyik. Meski keduanya tetap berada di rumah selama penanganan Covid-19, tapi mereka tetap produktif. Maklum, keluarga ini sudah beberapa tahun terakhir menggeluti pekerjaan sampingan. Yakni membuat kerajinan tempat hiasan pengantar lamaran dan maskawin pernikahan.

Abdul Hamid yang tinggal di RT 2 RW 13, Lingkungan Pasar, Kelurahan Jember Kidul, menceritakan perjalanan hidup keluarganya. Ada banyak pengalaman sampai dirinya memiliki pekerjaan sampingan yang kini terus digeluti. Dulu, Hamid hanya membuka sebuah bengkel kecil, tapi harus tutup lantaran tak banyak yang menggunakan jasanya.

Hamid pun banting setir menjadi penjual kopi di sebuah lapak, lantai dua Pasar Tanjung. “Sampai sekarang saya masih membuka warung di pasar. Sambil lalu, saya juga membuat kerajinan tempat lamaran dan maskawin. Saya belajar secara otodidak. Tidak kenal internet. Sehingga awalnya hanya membeli buku-buku untuk dipelajari,” kata Hamid, yang kemudian meminta istrinya menyeduh kopi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ayah dua anak itu menyebut, menjadi penghias tempat lamaran dan maskawin berkat berjualan kopi. Sekitar 2005 lalu, dia diminta oleh tetangga lapaknya yang menjual kebutuhan lamaran dan maskawin untuk membikin kemasan hantaran yang artistik. Awalnya, mantan mekanik motor itu pun tak percaya jika dirinya bisa membuat tempat yang diinginkan toko sebelah lapaknya tersebut.

“Saya diminta membuat kerajinan itu. Karena tidak pernah bikin, ya saya bingung. Tetapi, tetangga lapak saya itu tetap minta. Katanya, walaupun jelek akan tetap dibeli. Alhamdulillah, walau pembuatan awal-awal jelek, tetap dibeli juga,” ucapnya.

Melihat adanya bisnis sampingan itu, Hamid benar-benar menekuni pembuatan tempat mahar itu. Di awal-awal, banyak orang tak percaya jika dirinya bisa membuat hal itu menjadi cantik. “Banyak orang mengira yang membuat itu istri saya. Tetapi tidak masalah. Toh, istri saya akhirnya juga membuat. Tetapi, setelah punya anak kecil, sementara berhenti. Jadi, sementara ini hanya saya. Istri ikut menyiapkan bahan-bahannya,” tuturnya.

Berkat ketekunannya, order tempat pengantar lamaran dan maskawin bukan saja dipesan oleh tetangga lapaknya. Kini, Hamid sudah kerap mendapat pesanan dari banyak orang. Bukan saja dari Jember, bahkan dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, hujan rintik-rintik. Abdul Hamid dan istrinya, Mukminah Fitriyanti, terlihat sedang mengobrol asyik. Meski keduanya tetap berada di rumah selama penanganan Covid-19, tapi mereka tetap produktif. Maklum, keluarga ini sudah beberapa tahun terakhir menggeluti pekerjaan sampingan. Yakni membuat kerajinan tempat hiasan pengantar lamaran dan maskawin pernikahan.

Abdul Hamid yang tinggal di RT 2 RW 13, Lingkungan Pasar, Kelurahan Jember Kidul, menceritakan perjalanan hidup keluarganya. Ada banyak pengalaman sampai dirinya memiliki pekerjaan sampingan yang kini terus digeluti. Dulu, Hamid hanya membuka sebuah bengkel kecil, tapi harus tutup lantaran tak banyak yang menggunakan jasanya.

Hamid pun banting setir menjadi penjual kopi di sebuah lapak, lantai dua Pasar Tanjung. “Sampai sekarang saya masih membuka warung di pasar. Sambil lalu, saya juga membuat kerajinan tempat lamaran dan maskawin. Saya belajar secara otodidak. Tidak kenal internet. Sehingga awalnya hanya membeli buku-buku untuk dipelajari,” kata Hamid, yang kemudian meminta istrinya menyeduh kopi.

Ayah dua anak itu menyebut, menjadi penghias tempat lamaran dan maskawin berkat berjualan kopi. Sekitar 2005 lalu, dia diminta oleh tetangga lapaknya yang menjual kebutuhan lamaran dan maskawin untuk membikin kemasan hantaran yang artistik. Awalnya, mantan mekanik motor itu pun tak percaya jika dirinya bisa membuat tempat yang diinginkan toko sebelah lapaknya tersebut.

“Saya diminta membuat kerajinan itu. Karena tidak pernah bikin, ya saya bingung. Tetapi, tetangga lapak saya itu tetap minta. Katanya, walaupun jelek akan tetap dibeli. Alhamdulillah, walau pembuatan awal-awal jelek, tetap dibeli juga,” ucapnya.

Melihat adanya bisnis sampingan itu, Hamid benar-benar menekuni pembuatan tempat mahar itu. Di awal-awal, banyak orang tak percaya jika dirinya bisa membuat hal itu menjadi cantik. “Banyak orang mengira yang membuat itu istri saya. Tetapi tidak masalah. Toh, istri saya akhirnya juga membuat. Tetapi, setelah punya anak kecil, sementara berhenti. Jadi, sementara ini hanya saya. Istri ikut menyiapkan bahan-bahannya,” tuturnya.

Berkat ketekunannya, order tempat pengantar lamaran dan maskawin bukan saja dipesan oleh tetangga lapaknya. Kini, Hamid sudah kerap mendapat pesanan dari banyak orang. Bukan saja dari Jember, bahkan dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, hujan rintik-rintik. Abdul Hamid dan istrinya, Mukminah Fitriyanti, terlihat sedang mengobrol asyik. Meski keduanya tetap berada di rumah selama penanganan Covid-19, tapi mereka tetap produktif. Maklum, keluarga ini sudah beberapa tahun terakhir menggeluti pekerjaan sampingan. Yakni membuat kerajinan tempat hiasan pengantar lamaran dan maskawin pernikahan.

Abdul Hamid yang tinggal di RT 2 RW 13, Lingkungan Pasar, Kelurahan Jember Kidul, menceritakan perjalanan hidup keluarganya. Ada banyak pengalaman sampai dirinya memiliki pekerjaan sampingan yang kini terus digeluti. Dulu, Hamid hanya membuka sebuah bengkel kecil, tapi harus tutup lantaran tak banyak yang menggunakan jasanya.

Hamid pun banting setir menjadi penjual kopi di sebuah lapak, lantai dua Pasar Tanjung. “Sampai sekarang saya masih membuka warung di pasar. Sambil lalu, saya juga membuat kerajinan tempat lamaran dan maskawin. Saya belajar secara otodidak. Tidak kenal internet. Sehingga awalnya hanya membeli buku-buku untuk dipelajari,” kata Hamid, yang kemudian meminta istrinya menyeduh kopi.

Ayah dua anak itu menyebut, menjadi penghias tempat lamaran dan maskawin berkat berjualan kopi. Sekitar 2005 lalu, dia diminta oleh tetangga lapaknya yang menjual kebutuhan lamaran dan maskawin untuk membikin kemasan hantaran yang artistik. Awalnya, mantan mekanik motor itu pun tak percaya jika dirinya bisa membuat tempat yang diinginkan toko sebelah lapaknya tersebut.

“Saya diminta membuat kerajinan itu. Karena tidak pernah bikin, ya saya bingung. Tetapi, tetangga lapak saya itu tetap minta. Katanya, walaupun jelek akan tetap dibeli. Alhamdulillah, walau pembuatan awal-awal jelek, tetap dibeli juga,” ucapnya.

Melihat adanya bisnis sampingan itu, Hamid benar-benar menekuni pembuatan tempat mahar itu. Di awal-awal, banyak orang tak percaya jika dirinya bisa membuat hal itu menjadi cantik. “Banyak orang mengira yang membuat itu istri saya. Tetapi tidak masalah. Toh, istri saya akhirnya juga membuat. Tetapi, setelah punya anak kecil, sementara berhenti. Jadi, sementara ini hanya saya. Istri ikut menyiapkan bahan-bahannya,” tuturnya.

Berkat ketekunannya, order tempat pengantar lamaran dan maskawin bukan saja dipesan oleh tetangga lapaknya. Kini, Hamid sudah kerap mendapat pesanan dari banyak orang. Bukan saja dari Jember, bahkan dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/