alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Satu Dekade Asuh Santri Sendirian, Wasiat Abah Jadi Pegangan

Liliek Istiqomah, Perempuan Tangguh di Balik Ponpes Al Jauhar Pengasuh pondok pesantren (ponpes) identik dengan sosok laki-laki. Nyatanya, tidak selalu demikian. Salah satunya adalah Nyai Liliek Istiqomah, pengasuh Ponpes Al-Jauhar di Jalan Nias III, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Selama satu dekade terakhir, ia mengasuh pesantren mahasiswa itu sendirian.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Liliek Istiqomah baru selesai melaksanakan salat Asar. Bekas air wudu masih tampak bersarang di pelupuk matanya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemuinya, kemarin (3/3). Ia bergegas. Tangannya sibuk merapikan tali masker tepat di kedua telinganya. Ya, perempuan tangguh ini adalah Pengasuh Ponpes Al-Jauhar, tempat di mana para mahasiswa berbagai kampus di Jember memperdalam ilmu agama.

Sosok Nyai Lilik, begitu ia disapa, kontan meruntuhkan anggapan masyarakat selama ini yang telanjur berpandangan patriarki. Bahwa pengasuh ponpes yang santrinya laki-laki, harus dipimpin oleh seorang pria. Lalu, bagaimana sepak terjang Nyai Lilik?

Kepada Jawa Pos Radar Jember, wanita kelahiran Mei 1949 tersebut mengaku tidak menyangka bahwa dirinya bakal menjadi pengasuh ponpes. Dulu, dia bercerita, tanah yang dibangun pondok itu dibeli oleh KH Shodiq Mahmud, mendiang abahnya, pada 1990 silam. Lalu, mulai beroperasi sebagai Ponpes Al-Jauhar setahun berikutnya, sejak 1991.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Wasiat pemilik tanah sebelum dibeli dulu, ingin tanahnya dibeli oleh seorang kiai yang paham pendidikan. Jadi pas. Karena abah adalah salah seorang dosen di Fakultas Hukum Unej,” katanya.

Dibantu oleh KH Sahilun A Nasir, almarhum suami Nyai Lilik, dan para pengurus lain, ponpes pun mulai menerima santri. Namun, di tengah perjalanan, dia ditinggal sang abah dan suaminya. “Abah meninggal pada 1998, sedangkan suami saya menyusul pada 2011,” terangnya. Mulai saat itu, dia harus menjadi pengasuh pondok yang dihuni oleh santri laki-laki sendirian.

“Sebenarnya, saya punya anak yang sudah mempunyai keluarga kecil di Magelang,” terang wanita yang juga pernah menjadi pengajar di Fakultas Hukum Unej itu. Namun, dia mengaku tidak tega dan enggan memaksa anaknya menjadi pengasuh pondok, meneruskan abah dan suaminya. Jadi, dia yang turun tangan sendiri untuk melanjutkan semangat abah dan suaminya dalam membangun karakter para santri.

Kali pertama menjadi pengasuh merupakan hal yang sulit baginya. Mengingat, dia tinggal sendirian dan harus menjadi pengasuh untuk ratusan santri. Bahkan, hingga kini ada yang masih sulit dia lakukan. Yakni, saat membangunkan anak-anak untuk salat Subuh.

Sebabnya, kata Nyai Lilik, mereka harus bangun sebelum waktu Subuh untuk azan dan lainnya. Karena itu, mau tidak mau dirinya harus berkeliling 25 kamar untuk membangunkan para santri sambil mengetuk kamar mereka masing-masing. “Hanya itu saja sih yang kerepotan. Sedangkan yang lain saya enjoy,” candanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Liliek Istiqomah baru selesai melaksanakan salat Asar. Bekas air wudu masih tampak bersarang di pelupuk matanya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemuinya, kemarin (3/3). Ia bergegas. Tangannya sibuk merapikan tali masker tepat di kedua telinganya. Ya, perempuan tangguh ini adalah Pengasuh Ponpes Al-Jauhar, tempat di mana para mahasiswa berbagai kampus di Jember memperdalam ilmu agama.

Sosok Nyai Lilik, begitu ia disapa, kontan meruntuhkan anggapan masyarakat selama ini yang telanjur berpandangan patriarki. Bahwa pengasuh ponpes yang santrinya laki-laki, harus dipimpin oleh seorang pria. Lalu, bagaimana sepak terjang Nyai Lilik?

Kepada Jawa Pos Radar Jember, wanita kelahiran Mei 1949 tersebut mengaku tidak menyangka bahwa dirinya bakal menjadi pengasuh ponpes. Dulu, dia bercerita, tanah yang dibangun pondok itu dibeli oleh KH Shodiq Mahmud, mendiang abahnya, pada 1990 silam. Lalu, mulai beroperasi sebagai Ponpes Al-Jauhar setahun berikutnya, sejak 1991.

“Wasiat pemilik tanah sebelum dibeli dulu, ingin tanahnya dibeli oleh seorang kiai yang paham pendidikan. Jadi pas. Karena abah adalah salah seorang dosen di Fakultas Hukum Unej,” katanya.

Dibantu oleh KH Sahilun A Nasir, almarhum suami Nyai Lilik, dan para pengurus lain, ponpes pun mulai menerima santri. Namun, di tengah perjalanan, dia ditinggal sang abah dan suaminya. “Abah meninggal pada 1998, sedangkan suami saya menyusul pada 2011,” terangnya. Mulai saat itu, dia harus menjadi pengasuh pondok yang dihuni oleh santri laki-laki sendirian.

“Sebenarnya, saya punya anak yang sudah mempunyai keluarga kecil di Magelang,” terang wanita yang juga pernah menjadi pengajar di Fakultas Hukum Unej itu. Namun, dia mengaku tidak tega dan enggan memaksa anaknya menjadi pengasuh pondok, meneruskan abah dan suaminya. Jadi, dia yang turun tangan sendiri untuk melanjutkan semangat abah dan suaminya dalam membangun karakter para santri.

Kali pertama menjadi pengasuh merupakan hal yang sulit baginya. Mengingat, dia tinggal sendirian dan harus menjadi pengasuh untuk ratusan santri. Bahkan, hingga kini ada yang masih sulit dia lakukan. Yakni, saat membangunkan anak-anak untuk salat Subuh.

Sebabnya, kata Nyai Lilik, mereka harus bangun sebelum waktu Subuh untuk azan dan lainnya. Karena itu, mau tidak mau dirinya harus berkeliling 25 kamar untuk membangunkan para santri sambil mengetuk kamar mereka masing-masing. “Hanya itu saja sih yang kerepotan. Sedangkan yang lain saya enjoy,” candanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Liliek Istiqomah baru selesai melaksanakan salat Asar. Bekas air wudu masih tampak bersarang di pelupuk matanya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemuinya, kemarin (3/3). Ia bergegas. Tangannya sibuk merapikan tali masker tepat di kedua telinganya. Ya, perempuan tangguh ini adalah Pengasuh Ponpes Al-Jauhar, tempat di mana para mahasiswa berbagai kampus di Jember memperdalam ilmu agama.

Sosok Nyai Lilik, begitu ia disapa, kontan meruntuhkan anggapan masyarakat selama ini yang telanjur berpandangan patriarki. Bahwa pengasuh ponpes yang santrinya laki-laki, harus dipimpin oleh seorang pria. Lalu, bagaimana sepak terjang Nyai Lilik?

Kepada Jawa Pos Radar Jember, wanita kelahiran Mei 1949 tersebut mengaku tidak menyangka bahwa dirinya bakal menjadi pengasuh ponpes. Dulu, dia bercerita, tanah yang dibangun pondok itu dibeli oleh KH Shodiq Mahmud, mendiang abahnya, pada 1990 silam. Lalu, mulai beroperasi sebagai Ponpes Al-Jauhar setahun berikutnya, sejak 1991.

“Wasiat pemilik tanah sebelum dibeli dulu, ingin tanahnya dibeli oleh seorang kiai yang paham pendidikan. Jadi pas. Karena abah adalah salah seorang dosen di Fakultas Hukum Unej,” katanya.

Dibantu oleh KH Sahilun A Nasir, almarhum suami Nyai Lilik, dan para pengurus lain, ponpes pun mulai menerima santri. Namun, di tengah perjalanan, dia ditinggal sang abah dan suaminya. “Abah meninggal pada 1998, sedangkan suami saya menyusul pada 2011,” terangnya. Mulai saat itu, dia harus menjadi pengasuh pondok yang dihuni oleh santri laki-laki sendirian.

“Sebenarnya, saya punya anak yang sudah mempunyai keluarga kecil di Magelang,” terang wanita yang juga pernah menjadi pengajar di Fakultas Hukum Unej itu. Namun, dia mengaku tidak tega dan enggan memaksa anaknya menjadi pengasuh pondok, meneruskan abah dan suaminya. Jadi, dia yang turun tangan sendiri untuk melanjutkan semangat abah dan suaminya dalam membangun karakter para santri.

Kali pertama menjadi pengasuh merupakan hal yang sulit baginya. Mengingat, dia tinggal sendirian dan harus menjadi pengasuh untuk ratusan santri. Bahkan, hingga kini ada yang masih sulit dia lakukan. Yakni, saat membangunkan anak-anak untuk salat Subuh.

Sebabnya, kata Nyai Lilik, mereka harus bangun sebelum waktu Subuh untuk azan dan lainnya. Karena itu, mau tidak mau dirinya harus berkeliling 25 kamar untuk membangunkan para santri sambil mengetuk kamar mereka masing-masing. “Hanya itu saja sih yang kerepotan. Sedangkan yang lain saya enjoy,” candanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/