alexametrics
30.9 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Jember dan Lumajang Bersaing

Bondowoso Lepas Venue Paralayang Porprov

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Paralayang menjadi salah satu kejuaraan olahraga yang mampu menghidupkan destinasi wisata. Olahraga dirgantara tersebut juga jadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI pada 2022 mendatang. Tuan rumah pelaksanaan kejuaraan paralayang di Porprov hanya bersaing antara Lumajang dan Jember. Sebab, Bondowoso memutuskan tidak mengambil venue paralayang.

Dari empat daerah, yaitu Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo, yang memiliki lokasi take off dan landing paralayang, Jember dan Bondowoso terlebih dahulu memiliki dan telah menggelar event. Jember di Mandigu, dan Bondowoso di Bukit Megasari. Kepada Jawa Pos Radar Jember, Pengurus Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Wahyudi Widodo mengatakan, Bondowoso tidak turut ambil tempat pada cabor paralayang di Porprov nanti.

Absennya Bondowoso sebagai tuan rumah tersebut, kata Wahyudi, bukan berarti Puncak Megasari yang berada di Kecamatan Ijen itu tidak siap. Menurut dia, Puncak Megasari lebih cocok untuk kompetisi paralayang yang lebih profesional lagi, karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih, sehingga tidak cocok untuk pemula. “Masih aktif paralayang di Megasari. Bule dari Bali ke Bondowoso mulai ada tujuan untuk paralayang. Karena di Megasari mampu melihat dua gunung merapi sekaligus, Ijen dan Raung,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih dari itu, kata dia, Bondowoso juga ingin memberikan kesempatan untuk daerah lain. Sebab, berbicara paralayang, tidak sekadar olahraga, tapi bagaimana mampu menghidupkan wisata sebuah daerah.

Sementara itu, Ketua FASI Jember Mahmud Rizal mengatakan, bila Bondowoso tidak ambil bagian untuk tuan rumah di cabor paralayang, maka kemungkinan yang jadi tuan rumah adalah Jember atau Lumajang. Sebab, kabarnya Lumajang juga mempersiapkan diri untuk membangun venue paralayang.

Sementara itu, bagaimana Bukit Mandigu yang berada di Mumbulsari? Rizal menjelaskan, lokasi paralayang tersebut kini mulai tidak dipakai lagi dan terdapat tempat baru. Menurut dia, ada beberapa hal mengapa Mandigu tidak dipakai lagi. Salah satunya karena lokasi landing atau pendaratan telah berubah, tidak seperti dulu lagi. “Sekarang ada bangunan di lokasi landing,” jelasnya.

Walau begitu, FASI Jember masih memiliki lokasi yang cocok untuk mengembangkan paralayang. Lokasinya berada di Desa Tamansari dan Tanjung Rejo, Kecamatan Wuluhan. “Lokasinya bernama Manggar Babatan, take off masuk Desa Tamansari dan landing di Desa Tanjung Rejo,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Paralayang menjadi salah satu kejuaraan olahraga yang mampu menghidupkan destinasi wisata. Olahraga dirgantara tersebut juga jadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI pada 2022 mendatang. Tuan rumah pelaksanaan kejuaraan paralayang di Porprov hanya bersaing antara Lumajang dan Jember. Sebab, Bondowoso memutuskan tidak mengambil venue paralayang.

Dari empat daerah, yaitu Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo, yang memiliki lokasi take off dan landing paralayang, Jember dan Bondowoso terlebih dahulu memiliki dan telah menggelar event. Jember di Mandigu, dan Bondowoso di Bukit Megasari. Kepada Jawa Pos Radar Jember, Pengurus Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Wahyudi Widodo mengatakan, Bondowoso tidak turut ambil tempat pada cabor paralayang di Porprov nanti.

Absennya Bondowoso sebagai tuan rumah tersebut, kata Wahyudi, bukan berarti Puncak Megasari yang berada di Kecamatan Ijen itu tidak siap. Menurut dia, Puncak Megasari lebih cocok untuk kompetisi paralayang yang lebih profesional lagi, karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih, sehingga tidak cocok untuk pemula. “Masih aktif paralayang di Megasari. Bule dari Bali ke Bondowoso mulai ada tujuan untuk paralayang. Karena di Megasari mampu melihat dua gunung merapi sekaligus, Ijen dan Raung,” jelasnya.

Lebih dari itu, kata dia, Bondowoso juga ingin memberikan kesempatan untuk daerah lain. Sebab, berbicara paralayang, tidak sekadar olahraga, tapi bagaimana mampu menghidupkan wisata sebuah daerah.

Sementara itu, Ketua FASI Jember Mahmud Rizal mengatakan, bila Bondowoso tidak ambil bagian untuk tuan rumah di cabor paralayang, maka kemungkinan yang jadi tuan rumah adalah Jember atau Lumajang. Sebab, kabarnya Lumajang juga mempersiapkan diri untuk membangun venue paralayang.

Sementara itu, bagaimana Bukit Mandigu yang berada di Mumbulsari? Rizal menjelaskan, lokasi paralayang tersebut kini mulai tidak dipakai lagi dan terdapat tempat baru. Menurut dia, ada beberapa hal mengapa Mandigu tidak dipakai lagi. Salah satunya karena lokasi landing atau pendaratan telah berubah, tidak seperti dulu lagi. “Sekarang ada bangunan di lokasi landing,” jelasnya.

Walau begitu, FASI Jember masih memiliki lokasi yang cocok untuk mengembangkan paralayang. Lokasinya berada di Desa Tamansari dan Tanjung Rejo, Kecamatan Wuluhan. “Lokasinya bernama Manggar Babatan, take off masuk Desa Tamansari dan landing di Desa Tanjung Rejo,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Paralayang menjadi salah satu kejuaraan olahraga yang mampu menghidupkan destinasi wisata. Olahraga dirgantara tersebut juga jadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI pada 2022 mendatang. Tuan rumah pelaksanaan kejuaraan paralayang di Porprov hanya bersaing antara Lumajang dan Jember. Sebab, Bondowoso memutuskan tidak mengambil venue paralayang.

Dari empat daerah, yaitu Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo, yang memiliki lokasi take off dan landing paralayang, Jember dan Bondowoso terlebih dahulu memiliki dan telah menggelar event. Jember di Mandigu, dan Bondowoso di Bukit Megasari. Kepada Jawa Pos Radar Jember, Pengurus Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Wahyudi Widodo mengatakan, Bondowoso tidak turut ambil tempat pada cabor paralayang di Porprov nanti.

Absennya Bondowoso sebagai tuan rumah tersebut, kata Wahyudi, bukan berarti Puncak Megasari yang berada di Kecamatan Ijen itu tidak siap. Menurut dia, Puncak Megasari lebih cocok untuk kompetisi paralayang yang lebih profesional lagi, karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih, sehingga tidak cocok untuk pemula. “Masih aktif paralayang di Megasari. Bule dari Bali ke Bondowoso mulai ada tujuan untuk paralayang. Karena di Megasari mampu melihat dua gunung merapi sekaligus, Ijen dan Raung,” jelasnya.

Lebih dari itu, kata dia, Bondowoso juga ingin memberikan kesempatan untuk daerah lain. Sebab, berbicara paralayang, tidak sekadar olahraga, tapi bagaimana mampu menghidupkan wisata sebuah daerah.

Sementara itu, Ketua FASI Jember Mahmud Rizal mengatakan, bila Bondowoso tidak ambil bagian untuk tuan rumah di cabor paralayang, maka kemungkinan yang jadi tuan rumah adalah Jember atau Lumajang. Sebab, kabarnya Lumajang juga mempersiapkan diri untuk membangun venue paralayang.

Sementara itu, bagaimana Bukit Mandigu yang berada di Mumbulsari? Rizal menjelaskan, lokasi paralayang tersebut kini mulai tidak dipakai lagi dan terdapat tempat baru. Menurut dia, ada beberapa hal mengapa Mandigu tidak dipakai lagi. Salah satunya karena lokasi landing atau pendaratan telah berubah, tidak seperti dulu lagi. “Sekarang ada bangunan di lokasi landing,” jelasnya.

Walau begitu, FASI Jember masih memiliki lokasi yang cocok untuk mengembangkan paralayang. Lokasinya berada di Desa Tamansari dan Tanjung Rejo, Kecamatan Wuluhan. “Lokasinya bernama Manggar Babatan, take off masuk Desa Tamansari dan landing di Desa Tanjung Rejo,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/