alexametrics
26.5 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Pernah Dianggap Syirik oleh Warga Desa karena Jaga Batu

Fauzan Ali menjadi juru pelihara sejak era 1990-an. Hingga saat ini dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia bertugas merawat benda-benda prasejarah di Bondowoso. Bagaimana sistem kerjanya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Setelah menjadi honorer, Fauzan akhirnya diangkat menjadi PNS tahun 2008 silam. “Kerja jadi jupel ini ya sampingan. Kerja lainnya saya ya serabutan,” kata dia.

Ternyata, awal mula Fauzan ini tak ujug-ujug langsung menjadi jupel. Saudara sepupunya, Achmad Kholiq, dulunya juga berstatus jupel. Lebih dulu ketimbang Fauzan. Tugas jupel pun tak bisa dianggap sebelah mata.

Tak jarang, Fauzan membersihkan sudut-sudut batu itu dengan teliti. Apalagi kalau ada yang sudah ditumbuhi lumut. “Bersihkannya harus pelan-pelan. Jangan sampai struktur batunya juga tergores,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain membersihkan dan melestarikan, Fauzan harus terus memonitoring sebaran batu yang ada. Agar tak hilang dan terhindar dari tangan-tangan jahil. “Dulu ada warga yang dipenjara karena ketahuan mencoret,” ungkap Fauzan.

Selain tugas utama merawat batu, Fauzan juga menjadi pemandu. Apabila ada kunjungan ke wilayahnya, dia memandu dengan mengantarkan sampai bercerita sejarah. Tantangannya, sebaran lokasi batu di Desa Pekauman cukup banyak. Walaupun memang banyak terpusat di PIMB, tapi banyak juga yang berada di halaman rumah warga, tengah sawah, ataupun di tengah perkebunan.

“Setiap tahunnya, kunjungan di bulan tiga sampai bulan enam tidak terima dalam jumlah banyak. Karena waktu tanam tembakau. Saya tidak bisa memandu ke lokasi batu yang di tengah perkebunan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Setelah menjadi honorer, Fauzan akhirnya diangkat menjadi PNS tahun 2008 silam. “Kerja jadi jupel ini ya sampingan. Kerja lainnya saya ya serabutan,” kata dia.

Ternyata, awal mula Fauzan ini tak ujug-ujug langsung menjadi jupel. Saudara sepupunya, Achmad Kholiq, dulunya juga berstatus jupel. Lebih dulu ketimbang Fauzan. Tugas jupel pun tak bisa dianggap sebelah mata.

Tak jarang, Fauzan membersihkan sudut-sudut batu itu dengan teliti. Apalagi kalau ada yang sudah ditumbuhi lumut. “Bersihkannya harus pelan-pelan. Jangan sampai struktur batunya juga tergores,” jelasnya.

Selain membersihkan dan melestarikan, Fauzan harus terus memonitoring sebaran batu yang ada. Agar tak hilang dan terhindar dari tangan-tangan jahil. “Dulu ada warga yang dipenjara karena ketahuan mencoret,” ungkap Fauzan.

Selain tugas utama merawat batu, Fauzan juga menjadi pemandu. Apabila ada kunjungan ke wilayahnya, dia memandu dengan mengantarkan sampai bercerita sejarah. Tantangannya, sebaran lokasi batu di Desa Pekauman cukup banyak. Walaupun memang banyak terpusat di PIMB, tapi banyak juga yang berada di halaman rumah warga, tengah sawah, ataupun di tengah perkebunan.

“Setiap tahunnya, kunjungan di bulan tiga sampai bulan enam tidak terima dalam jumlah banyak. Karena waktu tanam tembakau. Saya tidak bisa memandu ke lokasi batu yang di tengah perkebunan,” pungkasnya.

Setelah menjadi honorer, Fauzan akhirnya diangkat menjadi PNS tahun 2008 silam. “Kerja jadi jupel ini ya sampingan. Kerja lainnya saya ya serabutan,” kata dia.

Ternyata, awal mula Fauzan ini tak ujug-ujug langsung menjadi jupel. Saudara sepupunya, Achmad Kholiq, dulunya juga berstatus jupel. Lebih dulu ketimbang Fauzan. Tugas jupel pun tak bisa dianggap sebelah mata.

Tak jarang, Fauzan membersihkan sudut-sudut batu itu dengan teliti. Apalagi kalau ada yang sudah ditumbuhi lumut. “Bersihkannya harus pelan-pelan. Jangan sampai struktur batunya juga tergores,” jelasnya.

Selain membersihkan dan melestarikan, Fauzan harus terus memonitoring sebaran batu yang ada. Agar tak hilang dan terhindar dari tangan-tangan jahil. “Dulu ada warga yang dipenjara karena ketahuan mencoret,” ungkap Fauzan.

Selain tugas utama merawat batu, Fauzan juga menjadi pemandu. Apabila ada kunjungan ke wilayahnya, dia memandu dengan mengantarkan sampai bercerita sejarah. Tantangannya, sebaran lokasi batu di Desa Pekauman cukup banyak. Walaupun memang banyak terpusat di PIMB, tapi banyak juga yang berada di halaman rumah warga, tengah sawah, ataupun di tengah perkebunan.

“Setiap tahunnya, kunjungan di bulan tiga sampai bulan enam tidak terima dalam jumlah banyak. Karena waktu tanam tembakau. Saya tidak bisa memandu ke lokasi batu yang di tengah perkebunan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/