alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Pernah Dianggap Syirik oleh Warga Desa karena Jaga Batu

Fauzan Ali menjadi juru pelihara sejak era 1990-an. Hingga saat ini dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia bertugas merawat benda-benda prasejarah di Bondowoso. Bagaimana sistem kerjanya?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ratusan batu prasejarah jenis batu kenong yang ada di Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, harus dijaga benar. Benda prasejarah itu memiliki sejarah panjang. Dengan begitu, harus ada seseorang yang merawatnya sehari-hari.

Untuk menjaganya, pemerintah daerah mengangkat seorang juru pelihara (jupel). Tugasnya menjaga benda cagar budaya yang ada di Bondowoso. Ada 62 Jupel yang bertugas. Di antaranya bahkan sudah diangkat menjadi PNS. Ada 16 orang berstatus PNS, sisanya adalah tenaga honorer.

Salah satu yang berstatus PNS adalah Fauzan Ali. Dia adalah jupel Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan. Fauzan sudah menjadi jupel sejak tahun 1990 silam. Di Desa Pekauman sendiri ada 168 benda batu. Mulai dari jenis arca, dolmen, kenong, dan sarkofagus. Pria yang tahun ini berusia 47 tahun itu awal bekerja berstatus jupel honorer. “Saya jadi juru pelihara waktu SMA kelas 2. Dulu karena saking banyaknya benda cagar budaya, diminta pemerintah menjaga, merawat, dan membersihkannya,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang sudah memiliki tiga orang anak ini bermula dari sukarela. “Akhirnya dulu oleh pemkab diusulkan jadi tenaga honorer,” imbuhnya.

Fauzan bertugas merawat benda-benda cagar budaya di Desa Pekauman, termasuk di dalam Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB). Fauzan pun bercerita pada tahun 1990-an silam mengenai benda cagar budaya itu. “Dulu banyak yang dicuri. Tapi sejak tahun 2000-an ke atas mulai tidak ada. Aman,” kenangnya.

Ada cerita unik dalam perjalanannya. Fauzan pernah dicap buruk oleh warga sekitar. Dia pernah mendapat stempel menjadi orang syirik. “Karena merawat batu, jadi dulu saya dianggap syirik awal-awal saya jadi jupel. Tapi, lama-kelamaan warga akhirnya paham juga,” bebernya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ratusan batu prasejarah jenis batu kenong yang ada di Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, harus dijaga benar. Benda prasejarah itu memiliki sejarah panjang. Dengan begitu, harus ada seseorang yang merawatnya sehari-hari.

Untuk menjaganya, pemerintah daerah mengangkat seorang juru pelihara (jupel). Tugasnya menjaga benda cagar budaya yang ada di Bondowoso. Ada 62 Jupel yang bertugas. Di antaranya bahkan sudah diangkat menjadi PNS. Ada 16 orang berstatus PNS, sisanya adalah tenaga honorer.

Salah satu yang berstatus PNS adalah Fauzan Ali. Dia adalah jupel Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan. Fauzan sudah menjadi jupel sejak tahun 1990 silam. Di Desa Pekauman sendiri ada 168 benda batu. Mulai dari jenis arca, dolmen, kenong, dan sarkofagus. Pria yang tahun ini berusia 47 tahun itu awal bekerja berstatus jupel honorer. “Saya jadi juru pelihara waktu SMA kelas 2. Dulu karena saking banyaknya benda cagar budaya, diminta pemerintah menjaga, merawat, dan membersihkannya,” tuturnya.

Pria yang sudah memiliki tiga orang anak ini bermula dari sukarela. “Akhirnya dulu oleh pemkab diusulkan jadi tenaga honorer,” imbuhnya.

Fauzan bertugas merawat benda-benda cagar budaya di Desa Pekauman, termasuk di dalam Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB). Fauzan pun bercerita pada tahun 1990-an silam mengenai benda cagar budaya itu. “Dulu banyak yang dicuri. Tapi sejak tahun 2000-an ke atas mulai tidak ada. Aman,” kenangnya.

Ada cerita unik dalam perjalanannya. Fauzan pernah dicap buruk oleh warga sekitar. Dia pernah mendapat stempel menjadi orang syirik. “Karena merawat batu, jadi dulu saya dianggap syirik awal-awal saya jadi jupel. Tapi, lama-kelamaan warga akhirnya paham juga,” bebernya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ratusan batu prasejarah jenis batu kenong yang ada di Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, harus dijaga benar. Benda prasejarah itu memiliki sejarah panjang. Dengan begitu, harus ada seseorang yang merawatnya sehari-hari.

Untuk menjaganya, pemerintah daerah mengangkat seorang juru pelihara (jupel). Tugasnya menjaga benda cagar budaya yang ada di Bondowoso. Ada 62 Jupel yang bertugas. Di antaranya bahkan sudah diangkat menjadi PNS. Ada 16 orang berstatus PNS, sisanya adalah tenaga honorer.

Salah satu yang berstatus PNS adalah Fauzan Ali. Dia adalah jupel Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan. Fauzan sudah menjadi jupel sejak tahun 1990 silam. Di Desa Pekauman sendiri ada 168 benda batu. Mulai dari jenis arca, dolmen, kenong, dan sarkofagus. Pria yang tahun ini berusia 47 tahun itu awal bekerja berstatus jupel honorer. “Saya jadi juru pelihara waktu SMA kelas 2. Dulu karena saking banyaknya benda cagar budaya, diminta pemerintah menjaga, merawat, dan membersihkannya,” tuturnya.

Pria yang sudah memiliki tiga orang anak ini bermula dari sukarela. “Akhirnya dulu oleh pemkab diusulkan jadi tenaga honorer,” imbuhnya.

Fauzan bertugas merawat benda-benda cagar budaya di Desa Pekauman, termasuk di dalam Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB). Fauzan pun bercerita pada tahun 1990-an silam mengenai benda cagar budaya itu. “Dulu banyak yang dicuri. Tapi sejak tahun 2000-an ke atas mulai tidak ada. Aman,” kenangnya.

Ada cerita unik dalam perjalanannya. Fauzan pernah dicap buruk oleh warga sekitar. Dia pernah mendapat stempel menjadi orang syirik. “Karena merawat batu, jadi dulu saya dianggap syirik awal-awal saya jadi jupel. Tapi, lama-kelamaan warga akhirnya paham juga,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/