alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Keadilan Hukum Belum Sepenuhnya Melindungi Korban

LBH Jentera Perempuan Indonesia banyak menerima pengaduan korban kekerasan di jagat daring. Dari sekian korban, sangat minim yang berani melaporkan ke polisi. Ada yang takut viral dan ada yang khawatir terjerat UU Pornografi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan menjadi salah satu fokus yang digarap LBH Jentera Perempuan Indonesia. Bukan saja yang terjadi di dunia nyata. Akan tetapi, di era 4.0 ini juga banyak insiden yang terjadi di dunia maya. Mulai dari pelecehan seksual, hingga ancaman yang datang dari barisan para mantan.

Namun, para pelaku kekerasan terhadap perempuan seperti berada di atas angin. Betapa tidak, para korban sangat minim yang berani melaporkan kepada polisi. Hal ini pun menjadi kajian mendalam Yamini Soedjai dan para pendamping perempuan di LBH Jentera. Baik yang tinggal di Jember maupun mereka yang ada di luar kabupaten.

Selama setahun terakhir atau sepanjang tahun 2020, Yamini menyebut, ada lebih dari sepuluh kasus yang diadukan ke LBH. Mulai dari orang dengan pelaku yang baru kenal, korban dan pelaku yang pacaran, bahkan korban yang diancam oleh mantan. “Kasus kekerasan perempuan atau pelecehan lebih sulit penanganannya yang disebabkan oleh media sosial. Karena para korban rata-rata takut melapor. Jadi, mereka hanya bisa mengadu,” kata Yamini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sela-sela kesibukannya, Yamini menjelaskan beberapa kasus yang pernah ditangani. Menurutnya, ada korban yang dikirimi foto atau video hanya body shaming atau bahkan video yang tidak senonoh. “Yang melakukan bukan tidak kenal, tetapi adalah orang yang kenal. Bisa temannya, bisa juga pacarnya,” imbuhnya.

Hal yang demikian tidaklah berat. Yamini menyebut, ada beberapa kasus di mana si pelaku melakukan pencurian atau merekam video secara diam-diam. Hal inilah yang terkadang membuat si perempuan ketakutan dan khawatir. “Mereka enggan melapor karena takut tambah menyebar. Akhirnya kami bantu sebisanya. Ini ada juga korban yang mau menuntut,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan menjadi salah satu fokus yang digarap LBH Jentera Perempuan Indonesia. Bukan saja yang terjadi di dunia nyata. Akan tetapi, di era 4.0 ini juga banyak insiden yang terjadi di dunia maya. Mulai dari pelecehan seksual, hingga ancaman yang datang dari barisan para mantan.

Namun, para pelaku kekerasan terhadap perempuan seperti berada di atas angin. Betapa tidak, para korban sangat minim yang berani melaporkan kepada polisi. Hal ini pun menjadi kajian mendalam Yamini Soedjai dan para pendamping perempuan di LBH Jentera. Baik yang tinggal di Jember maupun mereka yang ada di luar kabupaten.

Selama setahun terakhir atau sepanjang tahun 2020, Yamini menyebut, ada lebih dari sepuluh kasus yang diadukan ke LBH. Mulai dari orang dengan pelaku yang baru kenal, korban dan pelaku yang pacaran, bahkan korban yang diancam oleh mantan. “Kasus kekerasan perempuan atau pelecehan lebih sulit penanganannya yang disebabkan oleh media sosial. Karena para korban rata-rata takut melapor. Jadi, mereka hanya bisa mengadu,” kata Yamini.

Di sela-sela kesibukannya, Yamini menjelaskan beberapa kasus yang pernah ditangani. Menurutnya, ada korban yang dikirimi foto atau video hanya body shaming atau bahkan video yang tidak senonoh. “Yang melakukan bukan tidak kenal, tetapi adalah orang yang kenal. Bisa temannya, bisa juga pacarnya,” imbuhnya.

Hal yang demikian tidaklah berat. Yamini menyebut, ada beberapa kasus di mana si pelaku melakukan pencurian atau merekam video secara diam-diam. Hal inilah yang terkadang membuat si perempuan ketakutan dan khawatir. “Mereka enggan melapor karena takut tambah menyebar. Akhirnya kami bantu sebisanya. Ini ada juga korban yang mau menuntut,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan menjadi salah satu fokus yang digarap LBH Jentera Perempuan Indonesia. Bukan saja yang terjadi di dunia nyata. Akan tetapi, di era 4.0 ini juga banyak insiden yang terjadi di dunia maya. Mulai dari pelecehan seksual, hingga ancaman yang datang dari barisan para mantan.

Namun, para pelaku kekerasan terhadap perempuan seperti berada di atas angin. Betapa tidak, para korban sangat minim yang berani melaporkan kepada polisi. Hal ini pun menjadi kajian mendalam Yamini Soedjai dan para pendamping perempuan di LBH Jentera. Baik yang tinggal di Jember maupun mereka yang ada di luar kabupaten.

Selama setahun terakhir atau sepanjang tahun 2020, Yamini menyebut, ada lebih dari sepuluh kasus yang diadukan ke LBH. Mulai dari orang dengan pelaku yang baru kenal, korban dan pelaku yang pacaran, bahkan korban yang diancam oleh mantan. “Kasus kekerasan perempuan atau pelecehan lebih sulit penanganannya yang disebabkan oleh media sosial. Karena para korban rata-rata takut melapor. Jadi, mereka hanya bisa mengadu,” kata Yamini.

Di sela-sela kesibukannya, Yamini menjelaskan beberapa kasus yang pernah ditangani. Menurutnya, ada korban yang dikirimi foto atau video hanya body shaming atau bahkan video yang tidak senonoh. “Yang melakukan bukan tidak kenal, tetapi adalah orang yang kenal. Bisa temannya, bisa juga pacarnya,” imbuhnya.

Hal yang demikian tidaklah berat. Yamini menyebut, ada beberapa kasus di mana si pelaku melakukan pencurian atau merekam video secara diam-diam. Hal inilah yang terkadang membuat si perempuan ketakutan dan khawatir. “Mereka enggan melapor karena takut tambah menyebar. Akhirnya kami bantu sebisanya. Ini ada juga korban yang mau menuntut,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/