alexametrics
21.6 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Kalau Menolak, Viral Mendadak

Tak hanya di dunia nyata, perempuan dan anak juga rentan menjadi korban kekerasan di jagat maya. Pelaku melancarkan beragam modus untuk memperdaya calon korban. Targetnya ada dua. Mendapatkan keuntungan seksual dan finansial. Bagaimana cara menghindarinya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai perempuan pemain game profesional, Bening (bukan nama sebenarnya) kerap mengalami pelecehan seksual di jagat daring. Bahkan, ia mengaku kenyang dengan perbuatan asusila di dunia game yang didominasi laki-laki tersebut. Kata dia, pelecehan seksual itu berupa komentar seksis. “Mau jual paha ya, Mbak?” kata perempuan asal Pakusari itu menirukan ucapan bernada melecehkan tersebut.

Apa yang dialami Bening adalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan berbasis gender di dunia digital. Sebab, sebenarnya masih banyak kasus serupa yang tidak terdeteksi. Apalagi, pada masa pandemi seperti sekarang, banyak orang yang hidupnya beralih ke dunia maya. Biasanya, kekerasan berbasis gender ini berupa serangan terhadap bentuk tubuh, seksualitas, dan identitas gender seseorang yang difasilitasi teknologi digital.

Selain itu, kekerasan daring ini juga disebabkan adanya relasi kuasa yang timpang. Pelaku merasa lebih dominan ketimbang korban. Kencenderungannya, para pelaku ingin memperoleh keuntungan. Baik secara seksual maupun finansial. Bahkan juga keduanya, dengan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan kerugian pada diri korban.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai tujuh orang yang pernah menjadi korban. Tujuh orang tersebut semuanya perempuan yang memiliki rentang usia 14 sampai 23 tahun. Lima perempuan tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan dua sisanya masih duduk di sekolah tingkat pertama (SMP).

Rata-rata, para korban mengaku pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual secara verbal melalui daring. Misalnya, melalui postingan foto yang diunggah pada media sosial (medsos) Instagram. Sementara, dua narasumber yang masih SMP mengaku sering mendapat pesan video pornografi lewat WhatsApp dari beberapa teman yang dikenal melalui Facebook dan Instagram.

Tak hanya kekerasan berbasis verbal, tindakan lain berupa ancaman bahkan penyebaran foto atau video juga pernah dialami oleh para korban. Konten yang disebarkan ada foto dan video pribadi yang mengandung unsur intim dan pornografi.

Contoh kasus adalah penyebaran foto tanpa busana salah seorang narasumber yang masih mahasiswa. Insiden itu terjadi setelah dirinya berkenalan dengan pelaku di Facebook. Lalu melakukan pertemuan hingga terjalin hubungan khusus dan berhubungan seks. Kegiatan seks tersebut didokumentasikan. Lalu menjadi bahan ancaman oleh pelaku untuk melakukan hubungan seksual berikutnya dan permintaan finansial kepada korban.

Sementara, narasumber lainnya mengaku, penyebaran konten foto tanpa busana itu digunakan oleh pacarnya sebagai senjata agar tidak putus. Sang kekasih mengancam akan menyebarkan video seks kepada keluarganya jika dia ingin mengakhiri hubungan itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai perempuan pemain game profesional, Bening (bukan nama sebenarnya) kerap mengalami pelecehan seksual di jagat daring. Bahkan, ia mengaku kenyang dengan perbuatan asusila di dunia game yang didominasi laki-laki tersebut. Kata dia, pelecehan seksual itu berupa komentar seksis. “Mau jual paha ya, Mbak?” kata perempuan asal Pakusari itu menirukan ucapan bernada melecehkan tersebut.

Apa yang dialami Bening adalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan berbasis gender di dunia digital. Sebab, sebenarnya masih banyak kasus serupa yang tidak terdeteksi. Apalagi, pada masa pandemi seperti sekarang, banyak orang yang hidupnya beralih ke dunia maya. Biasanya, kekerasan berbasis gender ini berupa serangan terhadap bentuk tubuh, seksualitas, dan identitas gender seseorang yang difasilitasi teknologi digital.

Selain itu, kekerasan daring ini juga disebabkan adanya relasi kuasa yang timpang. Pelaku merasa lebih dominan ketimbang korban. Kencenderungannya, para pelaku ingin memperoleh keuntungan. Baik secara seksual maupun finansial. Bahkan juga keduanya, dengan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan kerugian pada diri korban.

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai tujuh orang yang pernah menjadi korban. Tujuh orang tersebut semuanya perempuan yang memiliki rentang usia 14 sampai 23 tahun. Lima perempuan tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan dua sisanya masih duduk di sekolah tingkat pertama (SMP).

Rata-rata, para korban mengaku pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual secara verbal melalui daring. Misalnya, melalui postingan foto yang diunggah pada media sosial (medsos) Instagram. Sementara, dua narasumber yang masih SMP mengaku sering mendapat pesan video pornografi lewat WhatsApp dari beberapa teman yang dikenal melalui Facebook dan Instagram.

Tak hanya kekerasan berbasis verbal, tindakan lain berupa ancaman bahkan penyebaran foto atau video juga pernah dialami oleh para korban. Konten yang disebarkan ada foto dan video pribadi yang mengandung unsur intim dan pornografi.

Contoh kasus adalah penyebaran foto tanpa busana salah seorang narasumber yang masih mahasiswa. Insiden itu terjadi setelah dirinya berkenalan dengan pelaku di Facebook. Lalu melakukan pertemuan hingga terjalin hubungan khusus dan berhubungan seks. Kegiatan seks tersebut didokumentasikan. Lalu menjadi bahan ancaman oleh pelaku untuk melakukan hubungan seksual berikutnya dan permintaan finansial kepada korban.

Sementara, narasumber lainnya mengaku, penyebaran konten foto tanpa busana itu digunakan oleh pacarnya sebagai senjata agar tidak putus. Sang kekasih mengancam akan menyebarkan video seks kepada keluarganya jika dia ingin mengakhiri hubungan itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai perempuan pemain game profesional, Bening (bukan nama sebenarnya) kerap mengalami pelecehan seksual di jagat daring. Bahkan, ia mengaku kenyang dengan perbuatan asusila di dunia game yang didominasi laki-laki tersebut. Kata dia, pelecehan seksual itu berupa komentar seksis. “Mau jual paha ya, Mbak?” kata perempuan asal Pakusari itu menirukan ucapan bernada melecehkan tersebut.

Apa yang dialami Bening adalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan berbasis gender di dunia digital. Sebab, sebenarnya masih banyak kasus serupa yang tidak terdeteksi. Apalagi, pada masa pandemi seperti sekarang, banyak orang yang hidupnya beralih ke dunia maya. Biasanya, kekerasan berbasis gender ini berupa serangan terhadap bentuk tubuh, seksualitas, dan identitas gender seseorang yang difasilitasi teknologi digital.

Selain itu, kekerasan daring ini juga disebabkan adanya relasi kuasa yang timpang. Pelaku merasa lebih dominan ketimbang korban. Kencenderungannya, para pelaku ingin memperoleh keuntungan. Baik secara seksual maupun finansial. Bahkan juga keduanya, dengan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan kerugian pada diri korban.

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai tujuh orang yang pernah menjadi korban. Tujuh orang tersebut semuanya perempuan yang memiliki rentang usia 14 sampai 23 tahun. Lima perempuan tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan dua sisanya masih duduk di sekolah tingkat pertama (SMP).

Rata-rata, para korban mengaku pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual secara verbal melalui daring. Misalnya, melalui postingan foto yang diunggah pada media sosial (medsos) Instagram. Sementara, dua narasumber yang masih SMP mengaku sering mendapat pesan video pornografi lewat WhatsApp dari beberapa teman yang dikenal melalui Facebook dan Instagram.

Tak hanya kekerasan berbasis verbal, tindakan lain berupa ancaman bahkan penyebaran foto atau video juga pernah dialami oleh para korban. Konten yang disebarkan ada foto dan video pribadi yang mengandung unsur intim dan pornografi.

Contoh kasus adalah penyebaran foto tanpa busana salah seorang narasumber yang masih mahasiswa. Insiden itu terjadi setelah dirinya berkenalan dengan pelaku di Facebook. Lalu melakukan pertemuan hingga terjalin hubungan khusus dan berhubungan seks. Kegiatan seks tersebut didokumentasikan. Lalu menjadi bahan ancaman oleh pelaku untuk melakukan hubungan seksual berikutnya dan permintaan finansial kepada korban.

Sementara, narasumber lainnya mengaku, penyebaran konten foto tanpa busana itu digunakan oleh pacarnya sebagai senjata agar tidak putus. Sang kekasih mengancam akan menyebarkan video seks kepada keluarganya jika dia ingin mengakhiri hubungan itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/