alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Hampir 50 Persen Anak Pernah Sexting

Ortu Harus Paham Aplikasi Digital

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER – Ancaman kejahatan seksual bukan lagi ada di depan mata. Tapi juga di depan layar perangkat telepon cerdas. Bahkan, menurut Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember, sebagian anak-anak yang mulai masuk dunia maya pernah sexting atau obrolan seks melalui aplikasi percakapan juga media sosial (medsos).

Ketua Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember Ulil Albab mengatakan, ada beberapa temuan mengenai penyelewengan kekerasan seksual terhadap anak. Pertama adalah grooming online untuk tujuan seksual. Yaitu sebuah proses menjalin atau hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan internet atau teknologi digital lain. “Umumnya dilakukan dengan berkontak lewat medsos,” jelasnya.

Modusnya, dia mengungkapkan, para pelaku itu termotivasi terhadap ketertarikan seksual, tapi juga ada yang memang ingin mendapatkan keuntungan finansial. “Terkadang, temuannya bekerja secara pribadi dan dengan jaringan tertentu untuk eksploitasi anak,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fase selanjutnya adalah sexting, yaitu proses mendapatkan gambaran visual baik video ataupun foto. Proses ini bisa membuat sendiri atau meneruskan gambar yang kurang pantas untuk anak. Salah satu contohnya adalah gambar telanjang atau setengah telanjang. “Jadi, salah satu modusnya itu bisa masuk lewat seks edukasi,” tuturnya.

Setelah itu, tambah Ulil, mulai berlanjut pada pemerasan seksual atau disebut sextortion. Umumnya, kata dia, pelaku mulai menemui jalan buntu sehingga terjadi pemerasan seksual. “Bisa karena kebutuhan finansial ataupun ada ketertarikan dengan korban,” paparnya. Ancamannya akan membagikan video ataupun foto yang kurang pantas yang telah dibagikan tersebut.

Ulil menuturkan, pihaknya pernah mengisi materi kepada anak-anak yang melek dunia digital dan kerap berselancar lewat medsos. Dia menemukan banyak di antara mereka yang pernah sexting. “Dari 46 responden, 21 di antaranya pernah sexting. Baik bertukar foto tidak pantas ataupun meneruskan foto tidak pantas,” jelasnya. Sementara itu, dari 46 responden tersebut, 26 di antaranya pernah mengunjungi situs dewasa.

Menurut Ulil, agar anak tidak menjadi korban pelecehan seksual, perlu peran orang tua. Dia membagi anak yang usia 2-5 tahun, orang tua harus memahami aplikasi, hingga situs yang kerap dikunjungi oleh anak. “Semisal main Facebook, TikTok, dan lainnya. Orang tua harus paham cara kerjanya dan sekaligus mencoba terlebih dahulu,” paparnya. Dengan demikina, orang tua paham mana situs atau aplikasi yang pantas untuk anak.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER – Ancaman kejahatan seksual bukan lagi ada di depan mata. Tapi juga di depan layar perangkat telepon cerdas. Bahkan, menurut Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember, sebagian anak-anak yang mulai masuk dunia maya pernah sexting atau obrolan seks melalui aplikasi percakapan juga media sosial (medsos).

Ketua Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember Ulil Albab mengatakan, ada beberapa temuan mengenai penyelewengan kekerasan seksual terhadap anak. Pertama adalah grooming online untuk tujuan seksual. Yaitu sebuah proses menjalin atau hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan internet atau teknologi digital lain. “Umumnya dilakukan dengan berkontak lewat medsos,” jelasnya.

Modusnya, dia mengungkapkan, para pelaku itu termotivasi terhadap ketertarikan seksual, tapi juga ada yang memang ingin mendapatkan keuntungan finansial. “Terkadang, temuannya bekerja secara pribadi dan dengan jaringan tertentu untuk eksploitasi anak,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Fase selanjutnya adalah sexting, yaitu proses mendapatkan gambaran visual baik video ataupun foto. Proses ini bisa membuat sendiri atau meneruskan gambar yang kurang pantas untuk anak. Salah satu contohnya adalah gambar telanjang atau setengah telanjang. “Jadi, salah satu modusnya itu bisa masuk lewat seks edukasi,” tuturnya.

Setelah itu, tambah Ulil, mulai berlanjut pada pemerasan seksual atau disebut sextortion. Umumnya, kata dia, pelaku mulai menemui jalan buntu sehingga terjadi pemerasan seksual. “Bisa karena kebutuhan finansial ataupun ada ketertarikan dengan korban,” paparnya. Ancamannya akan membagikan video ataupun foto yang kurang pantas yang telah dibagikan tersebut.

Ulil menuturkan, pihaknya pernah mengisi materi kepada anak-anak yang melek dunia digital dan kerap berselancar lewat medsos. Dia menemukan banyak di antara mereka yang pernah sexting. “Dari 46 responden, 21 di antaranya pernah sexting. Baik bertukar foto tidak pantas ataupun meneruskan foto tidak pantas,” jelasnya. Sementara itu, dari 46 responden tersebut, 26 di antaranya pernah mengunjungi situs dewasa.

Menurut Ulil, agar anak tidak menjadi korban pelecehan seksual, perlu peran orang tua. Dia membagi anak yang usia 2-5 tahun, orang tua harus memahami aplikasi, hingga situs yang kerap dikunjungi oleh anak. “Semisal main Facebook, TikTok, dan lainnya. Orang tua harus paham cara kerjanya dan sekaligus mencoba terlebih dahulu,” paparnya. Dengan demikina, orang tua paham mana situs atau aplikasi yang pantas untuk anak.

JEMBER, RADARJEMBER – Ancaman kejahatan seksual bukan lagi ada di depan mata. Tapi juga di depan layar perangkat telepon cerdas. Bahkan, menurut Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember, sebagian anak-anak yang mulai masuk dunia maya pernah sexting atau obrolan seks melalui aplikasi percakapan juga media sosial (medsos).

Ketua Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (RTIK) Jember Ulil Albab mengatakan, ada beberapa temuan mengenai penyelewengan kekerasan seksual terhadap anak. Pertama adalah grooming online untuk tujuan seksual. Yaitu sebuah proses menjalin atau hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan internet atau teknologi digital lain. “Umumnya dilakukan dengan berkontak lewat medsos,” jelasnya.

Modusnya, dia mengungkapkan, para pelaku itu termotivasi terhadap ketertarikan seksual, tapi juga ada yang memang ingin mendapatkan keuntungan finansial. “Terkadang, temuannya bekerja secara pribadi dan dengan jaringan tertentu untuk eksploitasi anak,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Fase selanjutnya adalah sexting, yaitu proses mendapatkan gambaran visual baik video ataupun foto. Proses ini bisa membuat sendiri atau meneruskan gambar yang kurang pantas untuk anak. Salah satu contohnya adalah gambar telanjang atau setengah telanjang. “Jadi, salah satu modusnya itu bisa masuk lewat seks edukasi,” tuturnya.

Setelah itu, tambah Ulil, mulai berlanjut pada pemerasan seksual atau disebut sextortion. Umumnya, kata dia, pelaku mulai menemui jalan buntu sehingga terjadi pemerasan seksual. “Bisa karena kebutuhan finansial ataupun ada ketertarikan dengan korban,” paparnya. Ancamannya akan membagikan video ataupun foto yang kurang pantas yang telah dibagikan tersebut.

Ulil menuturkan, pihaknya pernah mengisi materi kepada anak-anak yang melek dunia digital dan kerap berselancar lewat medsos. Dia menemukan banyak di antara mereka yang pernah sexting. “Dari 46 responden, 21 di antaranya pernah sexting. Baik bertukar foto tidak pantas ataupun meneruskan foto tidak pantas,” jelasnya. Sementara itu, dari 46 responden tersebut, 26 di antaranya pernah mengunjungi situs dewasa.

Menurut Ulil, agar anak tidak menjadi korban pelecehan seksual, perlu peran orang tua. Dia membagi anak yang usia 2-5 tahun, orang tua harus memahami aplikasi, hingga situs yang kerap dikunjungi oleh anak. “Semisal main Facebook, TikTok, dan lainnya. Orang tua harus paham cara kerjanya dan sekaligus mencoba terlebih dahulu,” paparnya. Dengan demikina, orang tua paham mana situs atau aplikasi yang pantas untuk anak.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/