alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Lahan Pertanian Kian Menyusut

Ancam Produksi Tanaman Pangan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan pertanian di Jember, utamanya untuk tanaman padi, semakin berkurang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, selama empat tahun sejak 2016 sampai 2019, pengurangan lahan tanaman pangan itu mencapai 8.834 hektare. Diprediksi, setiap tahun luasan lahan tersebut akan terus menyusut. Ini seiring meningkatnya permukiman dan kawasan hunian di Kabupaten Jember.

Data Jember dalam angka yang dirilis BPS, penyusutan signifikan terjadi antara 2017 hingga 2019. Setiap tahun, luasan panen padi berkurang sampai ribuan hektare. Dari 2017 ke 2018, misalnya, penyusutannya seluas 1.710 hektare. Bahkan setahun berikutnya, pada 2018-2019, terjadi pengurangan yang sangat drastis mencapai luasan 7.022 hektare.

Berdasarkan data yang sama, tiga kecamatan kota menjadi kawasan penyumbang terbesar. Bahkan, untuk Kecamatan Sumbersari, dalam kurun waktu yang sama antara 2016-2019, pengurangannya mencapai 1.188 hektare. Disusul Patrang mencapai 404 hektare dan Kaliwates 365 hektare. Ekspansi perumahan ditengarai menjadi musabab tingginya penyusutan itu, karena ada alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan hunian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Melihat kondisi ini, pemerintah daerah dituntut bertindak cepat dengan membuat regulasi yang mengatur tentang lahan pertanian abadi. Namun, belum adanya peraturan daerah (perda) tentang rencana detail tata ruang (RDTR) yang menjadi tindak lanjut perda rencana tata ruang wilayah (RTRW), disebut menjadi penyebab tak terbendungnya alih fungsi lahan tersebut. Jika hal itu terus dibiarkan, maka penyusutan lahan itu bakal mengancam produksi tanaman pangan hingga berdampak terhadap ketahanan pangan daerah.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, sejauh ini ketersediaan bahan pangan di Jember masih aman. Hal ini dilihat dari jumlah produksi dan kebutuhan yang masih tercukupi. Bahkan, stok beras juga tetap surplus. “Pertanian Jember masih aman, karena stok beras tetap aman hingga surplus,” katanya.

Kendati begitu, kata dia, pengurangan lahan pertanian tersebut tetap menjadi ancaman. Sebab, tak hanya terjadi di tingkatan lokal, tapi juga regional, nasional, hingga global. Dia menyebut, di Jatim saja, rata-rata degradasi lahan pertanian mencapai seribu hektare setiap tahun. Adanya penyusutan lahan pertanian ini, menurutnya, juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, bahkan di belahan negara lainnya.

Meski degradasi lahan tak bisa dicegah seiring terjadinya penambahan penduduk setiap tahun, tapi seharusnya pemerintah memiliki rumusan kebijakan di tengah situasi seperti ini. Terlebih, lahan pertanianlah yang selalu dikorbankan ketika ada peningkatan kebutuhan hunian akibat penambahan jumlah penduduk tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan pertanian di Jember, utamanya untuk tanaman padi, semakin berkurang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, selama empat tahun sejak 2016 sampai 2019, pengurangan lahan tanaman pangan itu mencapai 8.834 hektare. Diprediksi, setiap tahun luasan lahan tersebut akan terus menyusut. Ini seiring meningkatnya permukiman dan kawasan hunian di Kabupaten Jember.

Data Jember dalam angka yang dirilis BPS, penyusutan signifikan terjadi antara 2017 hingga 2019. Setiap tahun, luasan panen padi berkurang sampai ribuan hektare. Dari 2017 ke 2018, misalnya, penyusutannya seluas 1.710 hektare. Bahkan setahun berikutnya, pada 2018-2019, terjadi pengurangan yang sangat drastis mencapai luasan 7.022 hektare.

Berdasarkan data yang sama, tiga kecamatan kota menjadi kawasan penyumbang terbesar. Bahkan, untuk Kecamatan Sumbersari, dalam kurun waktu yang sama antara 2016-2019, pengurangannya mencapai 1.188 hektare. Disusul Patrang mencapai 404 hektare dan Kaliwates 365 hektare. Ekspansi perumahan ditengarai menjadi musabab tingginya penyusutan itu, karena ada alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan hunian.

Melihat kondisi ini, pemerintah daerah dituntut bertindak cepat dengan membuat regulasi yang mengatur tentang lahan pertanian abadi. Namun, belum adanya peraturan daerah (perda) tentang rencana detail tata ruang (RDTR) yang menjadi tindak lanjut perda rencana tata ruang wilayah (RTRW), disebut menjadi penyebab tak terbendungnya alih fungsi lahan tersebut. Jika hal itu terus dibiarkan, maka penyusutan lahan itu bakal mengancam produksi tanaman pangan hingga berdampak terhadap ketahanan pangan daerah.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, sejauh ini ketersediaan bahan pangan di Jember masih aman. Hal ini dilihat dari jumlah produksi dan kebutuhan yang masih tercukupi. Bahkan, stok beras juga tetap surplus. “Pertanian Jember masih aman, karena stok beras tetap aman hingga surplus,” katanya.

Kendati begitu, kata dia, pengurangan lahan pertanian tersebut tetap menjadi ancaman. Sebab, tak hanya terjadi di tingkatan lokal, tapi juga regional, nasional, hingga global. Dia menyebut, di Jatim saja, rata-rata degradasi lahan pertanian mencapai seribu hektare setiap tahun. Adanya penyusutan lahan pertanian ini, menurutnya, juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, bahkan di belahan negara lainnya.

Meski degradasi lahan tak bisa dicegah seiring terjadinya penambahan penduduk setiap tahun, tapi seharusnya pemerintah memiliki rumusan kebijakan di tengah situasi seperti ini. Terlebih, lahan pertanianlah yang selalu dikorbankan ketika ada peningkatan kebutuhan hunian akibat penambahan jumlah penduduk tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan pertanian di Jember, utamanya untuk tanaman padi, semakin berkurang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, selama empat tahun sejak 2016 sampai 2019, pengurangan lahan tanaman pangan itu mencapai 8.834 hektare. Diprediksi, setiap tahun luasan lahan tersebut akan terus menyusut. Ini seiring meningkatnya permukiman dan kawasan hunian di Kabupaten Jember.

Data Jember dalam angka yang dirilis BPS, penyusutan signifikan terjadi antara 2017 hingga 2019. Setiap tahun, luasan panen padi berkurang sampai ribuan hektare. Dari 2017 ke 2018, misalnya, penyusutannya seluas 1.710 hektare. Bahkan setahun berikutnya, pada 2018-2019, terjadi pengurangan yang sangat drastis mencapai luasan 7.022 hektare.

Berdasarkan data yang sama, tiga kecamatan kota menjadi kawasan penyumbang terbesar. Bahkan, untuk Kecamatan Sumbersari, dalam kurun waktu yang sama antara 2016-2019, pengurangannya mencapai 1.188 hektare. Disusul Patrang mencapai 404 hektare dan Kaliwates 365 hektare. Ekspansi perumahan ditengarai menjadi musabab tingginya penyusutan itu, karena ada alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan hunian.

Melihat kondisi ini, pemerintah daerah dituntut bertindak cepat dengan membuat regulasi yang mengatur tentang lahan pertanian abadi. Namun, belum adanya peraturan daerah (perda) tentang rencana detail tata ruang (RDTR) yang menjadi tindak lanjut perda rencana tata ruang wilayah (RTRW), disebut menjadi penyebab tak terbendungnya alih fungsi lahan tersebut. Jika hal itu terus dibiarkan, maka penyusutan lahan itu bakal mengancam produksi tanaman pangan hingga berdampak terhadap ketahanan pangan daerah.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, sejauh ini ketersediaan bahan pangan di Jember masih aman. Hal ini dilihat dari jumlah produksi dan kebutuhan yang masih tercukupi. Bahkan, stok beras juga tetap surplus. “Pertanian Jember masih aman, karena stok beras tetap aman hingga surplus,” katanya.

Kendati begitu, kata dia, pengurangan lahan pertanian tersebut tetap menjadi ancaman. Sebab, tak hanya terjadi di tingkatan lokal, tapi juga regional, nasional, hingga global. Dia menyebut, di Jatim saja, rata-rata degradasi lahan pertanian mencapai seribu hektare setiap tahun. Adanya penyusutan lahan pertanian ini, menurutnya, juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, bahkan di belahan negara lainnya.

Meski degradasi lahan tak bisa dicegah seiring terjadinya penambahan penduduk setiap tahun, tapi seharusnya pemerintah memiliki rumusan kebijakan di tengah situasi seperti ini. Terlebih, lahan pertanianlah yang selalu dikorbankan ketika ada peningkatan kebutuhan hunian akibat penambahan jumlah penduduk tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/