alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Bermodal Rp 20 Ribu, Kini Miliki Barang Kuno Paling Komplet

Menjadi pengoleksi barang antik bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika berurusan dengan benda unik dan jadul. Bahkan, kerap dihadapkan pada berbagai upaya tipu muslihat. Meski demikian, bagi Usmadi, hal tersebut justru menjadi motivasi untuk lebih giat mengumpulkan berbagai barang kuno di rumahnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermacam-macam benda kuno tertata rapi di rumah Usmadi. Mulai dari barang pecah belah, elektronik, batu akik, lukisan, uang, dan pusaka. Siang itu, dia sibuk membersihkan berbagai barang di rumahnya menggunakan kemoceng. Maklum, pandemi ini membuatnya sibuk menjual barang-barangnya via daring dan menunggu para pelanggan di rumahnya.

“Saya mulai mengoleksi semua barang ini sejak 1995 lalu,” tutur Usmadi. Kala itu, pria yang berasal dari Mojokerto tersebut memulai di seputaran Blok M, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Kali pertama berprofesi menjadi kolektor, dia hanya bermodal uang Rp 35 ribu. Nahas, usahanya tak berjalan mulus. Dia rugi Rp 15 ribu saat itu. “Jadi, saya memulai lagi dengan modal Rp 20 ribu,” imbuhnya.

Selaku kolektor yang juga memperjualbelikan berbagai barang, Usmadi memulai usahanya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan dan batu akik lebih dulu. Selanjutnya, dia merambah ke berbagai barang antik lain. Mulai dari lukisan, pusaka, uang, barang elektronik, aksesoris rumah, mainan, hingga pusaka seperti Katana, pedang asal Jepang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah menggeluti selama 25 tahun, banyak suka duka yang dia alami dalam mengoleksi berbagai barang yang kini memenuhi tiga ruang di rumahnya itu. Sebab, dalam bisnis barang antik rentan terjadi penipuan. Kata dia, banyak orang yang menjanjikan akan memberikan hasil penjualan setelah membawanya ke suatu tempat, tapi mereka tak pernah kembali setelah itu. Karena itu, saat ini, Usmadi sangat berhati-hati dalam menangani pelanggan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermacam-macam benda kuno tertata rapi di rumah Usmadi. Mulai dari barang pecah belah, elektronik, batu akik, lukisan, uang, dan pusaka. Siang itu, dia sibuk membersihkan berbagai barang di rumahnya menggunakan kemoceng. Maklum, pandemi ini membuatnya sibuk menjual barang-barangnya via daring dan menunggu para pelanggan di rumahnya.

“Saya mulai mengoleksi semua barang ini sejak 1995 lalu,” tutur Usmadi. Kala itu, pria yang berasal dari Mojokerto tersebut memulai di seputaran Blok M, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Kali pertama berprofesi menjadi kolektor, dia hanya bermodal uang Rp 35 ribu. Nahas, usahanya tak berjalan mulus. Dia rugi Rp 15 ribu saat itu. “Jadi, saya memulai lagi dengan modal Rp 20 ribu,” imbuhnya.

Selaku kolektor yang juga memperjualbelikan berbagai barang, Usmadi memulai usahanya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan dan batu akik lebih dulu. Selanjutnya, dia merambah ke berbagai barang antik lain. Mulai dari lukisan, pusaka, uang, barang elektronik, aksesoris rumah, mainan, hingga pusaka seperti Katana, pedang asal Jepang.

Setelah menggeluti selama 25 tahun, banyak suka duka yang dia alami dalam mengoleksi berbagai barang yang kini memenuhi tiga ruang di rumahnya itu. Sebab, dalam bisnis barang antik rentan terjadi penipuan. Kata dia, banyak orang yang menjanjikan akan memberikan hasil penjualan setelah membawanya ke suatu tempat, tapi mereka tak pernah kembali setelah itu. Karena itu, saat ini, Usmadi sangat berhati-hati dalam menangani pelanggan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermacam-macam benda kuno tertata rapi di rumah Usmadi. Mulai dari barang pecah belah, elektronik, batu akik, lukisan, uang, dan pusaka. Siang itu, dia sibuk membersihkan berbagai barang di rumahnya menggunakan kemoceng. Maklum, pandemi ini membuatnya sibuk menjual barang-barangnya via daring dan menunggu para pelanggan di rumahnya.

“Saya mulai mengoleksi semua barang ini sejak 1995 lalu,” tutur Usmadi. Kala itu, pria yang berasal dari Mojokerto tersebut memulai di seputaran Blok M, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Kali pertama berprofesi menjadi kolektor, dia hanya bermodal uang Rp 35 ribu. Nahas, usahanya tak berjalan mulus. Dia rugi Rp 15 ribu saat itu. “Jadi, saya memulai lagi dengan modal Rp 20 ribu,” imbuhnya.

Selaku kolektor yang juga memperjualbelikan berbagai barang, Usmadi memulai usahanya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan dan batu akik lebih dulu. Selanjutnya, dia merambah ke berbagai barang antik lain. Mulai dari lukisan, pusaka, uang, barang elektronik, aksesoris rumah, mainan, hingga pusaka seperti Katana, pedang asal Jepang.

Setelah menggeluti selama 25 tahun, banyak suka duka yang dia alami dalam mengoleksi berbagai barang yang kini memenuhi tiga ruang di rumahnya itu. Sebab, dalam bisnis barang antik rentan terjadi penipuan. Kata dia, banyak orang yang menjanjikan akan memberikan hasil penjualan setelah membawanya ke suatu tempat, tapi mereka tak pernah kembali setelah itu. Karena itu, saat ini, Usmadi sangat berhati-hati dalam menangani pelanggan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/