alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

66 Tahun Bertahan Tanpa Jembatan

Warga Gunakan Getek Tradisional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi warga Jember Selatan, nama Geladak Korek pasti tidak asing di telinga. Jembatan yang dibuat pada zaman Belanda itu berfungsi menghubungkan Desa Andongsari dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang. Namun, sedikit yang mengetahui asal muasal penamaan “korek”, yang berarti pemantik api, pada jembatan tersebut.

“Kenapa diberi nama korek? Soalnya, jembatan ini dulu menjadi jalan yang digunakan untuk mendistribusikan korek,” tutur Heri, warga sekitar. Menurutnya, pada zaman Belanda dulu, pernah ada pabrik korek di Desa Ungkalan. Akses terdekat dari kota lewat tempat tersebut. Jadi, warga sekitar spontan memberi nama tempat ini menjadi Geladak Korek.

Selain menjadi tempat lalu-lalang kendaraan pengirim korek, jembatan tersebut juga dimanfaatkan warga Desa Andongsari untuk akses mencari rumput dan mengolah ladang di Dusun Ungkalan. Namun, Geladak Korek itu roboh diterjang banjir sekitar 1954 lalu. “Dan sejak saat itu warga menggunakan fasilitas getek untuk menyeberangi sungai. Ini artinya sejak 66 tahun silam,” ujar Sulaiman, pengemudi getek.

Mobile_AP_Rectangle 2

Warga kelahiran 1969 itu merupakan orang yang sudah bekerja menjadi pemandu getek sejak 2002 lalu. Dulu, dia mengungkapkan, operasional getek ini sempat macet pada 1999 karena ada penutupan hutan di sekitar Dusun Ungkalan. “Alasannya, karena sering kali ada pembalakan liar di daerah yang dimiliki PT Perkebunan XII,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi warga Jember Selatan, nama Geladak Korek pasti tidak asing di telinga. Jembatan yang dibuat pada zaman Belanda itu berfungsi menghubungkan Desa Andongsari dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang. Namun, sedikit yang mengetahui asal muasal penamaan “korek”, yang berarti pemantik api, pada jembatan tersebut.

“Kenapa diberi nama korek? Soalnya, jembatan ini dulu menjadi jalan yang digunakan untuk mendistribusikan korek,” tutur Heri, warga sekitar. Menurutnya, pada zaman Belanda dulu, pernah ada pabrik korek di Desa Ungkalan. Akses terdekat dari kota lewat tempat tersebut. Jadi, warga sekitar spontan memberi nama tempat ini menjadi Geladak Korek.

Selain menjadi tempat lalu-lalang kendaraan pengirim korek, jembatan tersebut juga dimanfaatkan warga Desa Andongsari untuk akses mencari rumput dan mengolah ladang di Dusun Ungkalan. Namun, Geladak Korek itu roboh diterjang banjir sekitar 1954 lalu. “Dan sejak saat itu warga menggunakan fasilitas getek untuk menyeberangi sungai. Ini artinya sejak 66 tahun silam,” ujar Sulaiman, pengemudi getek.

Warga kelahiran 1969 itu merupakan orang yang sudah bekerja menjadi pemandu getek sejak 2002 lalu. Dulu, dia mengungkapkan, operasional getek ini sempat macet pada 1999 karena ada penutupan hutan di sekitar Dusun Ungkalan. “Alasannya, karena sering kali ada pembalakan liar di daerah yang dimiliki PT Perkebunan XII,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi warga Jember Selatan, nama Geladak Korek pasti tidak asing di telinga. Jembatan yang dibuat pada zaman Belanda itu berfungsi menghubungkan Desa Andongsari dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang. Namun, sedikit yang mengetahui asal muasal penamaan “korek”, yang berarti pemantik api, pada jembatan tersebut.

“Kenapa diberi nama korek? Soalnya, jembatan ini dulu menjadi jalan yang digunakan untuk mendistribusikan korek,” tutur Heri, warga sekitar. Menurutnya, pada zaman Belanda dulu, pernah ada pabrik korek di Desa Ungkalan. Akses terdekat dari kota lewat tempat tersebut. Jadi, warga sekitar spontan memberi nama tempat ini menjadi Geladak Korek.

Selain menjadi tempat lalu-lalang kendaraan pengirim korek, jembatan tersebut juga dimanfaatkan warga Desa Andongsari untuk akses mencari rumput dan mengolah ladang di Dusun Ungkalan. Namun, Geladak Korek itu roboh diterjang banjir sekitar 1954 lalu. “Dan sejak saat itu warga menggunakan fasilitas getek untuk menyeberangi sungai. Ini artinya sejak 66 tahun silam,” ujar Sulaiman, pengemudi getek.

Warga kelahiran 1969 itu merupakan orang yang sudah bekerja menjadi pemandu getek sejak 2002 lalu. Dulu, dia mengungkapkan, operasional getek ini sempat macet pada 1999 karena ada penutupan hutan di sekitar Dusun Ungkalan. “Alasannya, karena sering kali ada pembalakan liar di daerah yang dimiliki PT Perkebunan XII,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/