alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Belajar sambil Lesehan di Dapur

Selama Pandemi, Guru Keliling ke Rumah Siswa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baiatus Cholihah, guru Pendidikan Agama Kelas 3 SDN Badean 01, tampak duduk di depan sebuah papan tulis yang berdiri disangga sebuah tiang kayu. Sementara itu, sejumlah anak yang tak mengenakan seragam memperhatikan setiap kata yang tertulis di papan tersebut. Sesekali mereka menulis ataupun menirukan apa yang sang guru katakan.

Tak ada bangku maupun meja. Mereka hanya duduk lesehan di atas selembar karpet merah. Ruangan yang digunakan pun bukanlah kelas, melainkan dapur. Tampak beberapa peralatan memasak di sekeliling para siswa maupun guru.

Waktu belajar pun tidak seoptimal seperti berada di sekolah. Jika biasanya satu sesi pelajaran Pendidikan Agama memakan waktu hingga dua jam, di sini hanya kurang lebih 30 menit. “Kalau belajar di rumah secara kelompok waktunya hanya 20 sampai 30 menit, karena harus pindah-pindah,” terang Baiatus.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ya, Baiatus dan sejumlah siswa memutuskan untuk menggelar belajar kelompok satu kali tiap pekan. Para siswa dibagi menjadi empat hingga lima kelompok per satu kelas. Setiap pekan, guru akan datang ke rumah siswa yang dijadikan tempat belajar kelompok.

“Guru yang datang ke rumah siswa itu tergantung jumlah siswanya di masing-masing kelas. Tetapi paling banyak di tempat kelompok biasanya hanya lima sampai enam. Karena harus menggunakan protokol kesehatan,” terangnya.

Hal yang sama juga dilakukan Tin Rizka Agustini SPd, yakni menggelar sistem belajar di rumah. Dirinya melakukan kunjungan ke rumah Ridho, salah satu siswanya, dan memberikan materi pelajaran di teras rumah. Untuk menuju rumah Ridho, beberapa temannya harus melewati jembatan bambu yang hampir ambruk. “Selain itu, mengajarnya juga tidak maksimal, karena enam siswa yang diajar menempati teras rumah hanya berukuran 3 x 5 meter dan harus jaga jarak,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baiatus Cholihah, guru Pendidikan Agama Kelas 3 SDN Badean 01, tampak duduk di depan sebuah papan tulis yang berdiri disangga sebuah tiang kayu. Sementara itu, sejumlah anak yang tak mengenakan seragam memperhatikan setiap kata yang tertulis di papan tersebut. Sesekali mereka menulis ataupun menirukan apa yang sang guru katakan.

Tak ada bangku maupun meja. Mereka hanya duduk lesehan di atas selembar karpet merah. Ruangan yang digunakan pun bukanlah kelas, melainkan dapur. Tampak beberapa peralatan memasak di sekeliling para siswa maupun guru.

Waktu belajar pun tidak seoptimal seperti berada di sekolah. Jika biasanya satu sesi pelajaran Pendidikan Agama memakan waktu hingga dua jam, di sini hanya kurang lebih 30 menit. “Kalau belajar di rumah secara kelompok waktunya hanya 20 sampai 30 menit, karena harus pindah-pindah,” terang Baiatus.

Ya, Baiatus dan sejumlah siswa memutuskan untuk menggelar belajar kelompok satu kali tiap pekan. Para siswa dibagi menjadi empat hingga lima kelompok per satu kelas. Setiap pekan, guru akan datang ke rumah siswa yang dijadikan tempat belajar kelompok.

“Guru yang datang ke rumah siswa itu tergantung jumlah siswanya di masing-masing kelas. Tetapi paling banyak di tempat kelompok biasanya hanya lima sampai enam. Karena harus menggunakan protokol kesehatan,” terangnya.

Hal yang sama juga dilakukan Tin Rizka Agustini SPd, yakni menggelar sistem belajar di rumah. Dirinya melakukan kunjungan ke rumah Ridho, salah satu siswanya, dan memberikan materi pelajaran di teras rumah. Untuk menuju rumah Ridho, beberapa temannya harus melewati jembatan bambu yang hampir ambruk. “Selain itu, mengajarnya juga tidak maksimal, karena enam siswa yang diajar menempati teras rumah hanya berukuran 3 x 5 meter dan harus jaga jarak,” lanjutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Baiatus Cholihah, guru Pendidikan Agama Kelas 3 SDN Badean 01, tampak duduk di depan sebuah papan tulis yang berdiri disangga sebuah tiang kayu. Sementara itu, sejumlah anak yang tak mengenakan seragam memperhatikan setiap kata yang tertulis di papan tersebut. Sesekali mereka menulis ataupun menirukan apa yang sang guru katakan.

Tak ada bangku maupun meja. Mereka hanya duduk lesehan di atas selembar karpet merah. Ruangan yang digunakan pun bukanlah kelas, melainkan dapur. Tampak beberapa peralatan memasak di sekeliling para siswa maupun guru.

Waktu belajar pun tidak seoptimal seperti berada di sekolah. Jika biasanya satu sesi pelajaran Pendidikan Agama memakan waktu hingga dua jam, di sini hanya kurang lebih 30 menit. “Kalau belajar di rumah secara kelompok waktunya hanya 20 sampai 30 menit, karena harus pindah-pindah,” terang Baiatus.

Ya, Baiatus dan sejumlah siswa memutuskan untuk menggelar belajar kelompok satu kali tiap pekan. Para siswa dibagi menjadi empat hingga lima kelompok per satu kelas. Setiap pekan, guru akan datang ke rumah siswa yang dijadikan tempat belajar kelompok.

“Guru yang datang ke rumah siswa itu tergantung jumlah siswanya di masing-masing kelas. Tetapi paling banyak di tempat kelompok biasanya hanya lima sampai enam. Karena harus menggunakan protokol kesehatan,” terangnya.

Hal yang sama juga dilakukan Tin Rizka Agustini SPd, yakni menggelar sistem belajar di rumah. Dirinya melakukan kunjungan ke rumah Ridho, salah satu siswanya, dan memberikan materi pelajaran di teras rumah. Untuk menuju rumah Ridho, beberapa temannya harus melewati jembatan bambu yang hampir ambruk. “Selain itu, mengajarnya juga tidak maksimal, karena enam siswa yang diajar menempati teras rumah hanya berukuran 3 x 5 meter dan harus jaga jarak,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/