KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID –  SOPIA dan Pamuji, yang awalnya sibuk di dapur, langsung menuju ruang tamunya saat mendengar kabar Radio Suara Akbar itu tutup dan tidak mengudara lagi. “Lho, mosok. Radio Akbar tutup?” tanyanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pasangan suami istri tersebut masih merindukan siaran Radio Suara Akbar pada era 80-an. “Kalau dulu radio ada siaran drama kolosal. Kalau radio sekarang jarang,” kata warga yang tinggal di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Siaran drama kolosal dari Radio Akbar yang ditunggu adalah Saur Sepuh. “Dulu itu kalau setelah Asar langsung nyetel radio dan duduk manis mendengarkan Saur Sepuh,” ungkap Pamuji.

Sopia pun masih ingat, nama tokoh dalam Saur Sepuh, Brama Kumbara, Sekar Tanjung, sampai Lasmini. Bahkan, kata dia, bila waktunya Saur Sepur mengudara di Radio Suara Akbar, ibu-ibu memilih banyak diam di rumah saja.

Bahkan, hingga kini para penyiar Radio Suara Akbar juga masih melekat di ingatan Pamuji dan Sopia. “Dulu itu ada penyiar Nanang Ariono, terus jadi penyiar di SS. Ada juga Bang Jali yang akhirnya jadi penceramah agama,” terang Pamuji. Bang Jali adalah siaran bertema lagu dangdut yang digemari banyak masyarakat.

Melejitnya drama radio Saur Sepuh yang juga difilmkan tersebut pernah disiarkan ulang oleh Radio Suara Akbar. “Kalau 80-an saya belum jadi penyiar, tapi waktu itu memang banyak disuka masyarakat. Tapi, Saur Sepuh juga sempat disiarkan ulang, bahkan sampai ada sponsornya,” kenang Supartu alias Kang Parto, mantan penyiar dan pernah menjadi Kepala Penyiaran Radio Suara Akbar.

Sekitar tahun 2000-an ke atas, ada pihak dari Jakarta untuk menyiarkan kembali Saur Sepuh. Namun, karena kiriman tersebut per episode dan dikirim dari ibu kota, terkadang pengirimannya terlambat. Karena itu, untuk siarannya mengulang dari hari sebelumnya. “Pendengarnya itu masih banyak Saur Sepuh. Karena saat rekaman kemarin disiarkan lagi, ada yang telepon, kok siaran hari kemarin diputar lagi,” kenangnya.