alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Wasiat Suami dan Keinginan Sang Anak menjadi Motivasi

Sangat berat memang jika harus kehilangan orang yang paling disayang. Apalagi, jika dia merupakan tulang punggung keluarga. Kepergiannya seolah meruntuhkan bangunan sebuah keluarga, baik secara mental maupun ekonomi. Namun, perjuangan untuk bangkit sangat diperlukan, mengingat ada orang lain yang bisa menjadi motivasi untuk tetap hidup.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, masih banyak tamu di halaman rumah mendiang Ahmad Sholihin. Kedatangan mereka seolah memberi semangat bagi Intan, sang istri, supaya tegar melanjutkan hidup tanpa suaminya yang baru meninggal dalam insiden kecelakaan di Jalan Trunojoyo pada 28 Juli lalu.

Sementara itu, matanya masih tampak bengkak, wajahnya pun layu. Dirinya mengaku dengan lirih, bahwa anak-anaknya masih belum ikhlas. “Setiap malam, mereka menangisi ayahnya yang tak kunjung pulang,” imbuh warga Jalan Trunojoyo VI/81, RT 03, RW 19, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Tak terbendung, air matanya berlinang membasahi pipi saat teringat dengan suaminya, kemarin (2/8). Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sebelum bulan puasa, almarhum suaminya dirumahkan dari tempat kerjanya. Sebab, salah satu hotel yang mempekerjakannya terpaksa harus memecat beberapa karyawan lantaran krisis akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. “Pasca-pemecatan, dia tampak murung. Dia bingung harus bekerja apa,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beruntung, ada saudaranya yang berjualan masker. “Akhirnya, suami saya ditawari berjualan masker dengan pendapatan bagi hasil. Soalnya, semua barang dan lapak dari saudaranya,” ucapnya. Nahas, maut tak bisa dielakkan saat almarhum Ahmad Sholihin tengah berjualan masker. Sebuah kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi menghantamnya, sehingga dia beserta satu korban lain terpaksa meregang nyawa.

Semasa berdagang, Intan menambahkan bahwa suaminya sangat giat dalam bekerja. Seolah-olah, almarhum enggan pulang jika belum mendapatkan hasil. “Dia berjualan mulai pagi sampai malam dan hanya pulang ke rumah waktu salat saja,” sambungnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, masih banyak tamu di halaman rumah mendiang Ahmad Sholihin. Kedatangan mereka seolah memberi semangat bagi Intan, sang istri, supaya tegar melanjutkan hidup tanpa suaminya yang baru meninggal dalam insiden kecelakaan di Jalan Trunojoyo pada 28 Juli lalu.

Sementara itu, matanya masih tampak bengkak, wajahnya pun layu. Dirinya mengaku dengan lirih, bahwa anak-anaknya masih belum ikhlas. “Setiap malam, mereka menangisi ayahnya yang tak kunjung pulang,” imbuh warga Jalan Trunojoyo VI/81, RT 03, RW 19, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Tak terbendung, air matanya berlinang membasahi pipi saat teringat dengan suaminya, kemarin (2/8). Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sebelum bulan puasa, almarhum suaminya dirumahkan dari tempat kerjanya. Sebab, salah satu hotel yang mempekerjakannya terpaksa harus memecat beberapa karyawan lantaran krisis akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. “Pasca-pemecatan, dia tampak murung. Dia bingung harus bekerja apa,” imbuhnya.

Beruntung, ada saudaranya yang berjualan masker. “Akhirnya, suami saya ditawari berjualan masker dengan pendapatan bagi hasil. Soalnya, semua barang dan lapak dari saudaranya,” ucapnya. Nahas, maut tak bisa dielakkan saat almarhum Ahmad Sholihin tengah berjualan masker. Sebuah kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi menghantamnya, sehingga dia beserta satu korban lain terpaksa meregang nyawa.

Semasa berdagang, Intan menambahkan bahwa suaminya sangat giat dalam bekerja. Seolah-olah, almarhum enggan pulang jika belum mendapatkan hasil. “Dia berjualan mulai pagi sampai malam dan hanya pulang ke rumah waktu salat saja,” sambungnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, masih banyak tamu di halaman rumah mendiang Ahmad Sholihin. Kedatangan mereka seolah memberi semangat bagi Intan, sang istri, supaya tegar melanjutkan hidup tanpa suaminya yang baru meninggal dalam insiden kecelakaan di Jalan Trunojoyo pada 28 Juli lalu.

Sementara itu, matanya masih tampak bengkak, wajahnya pun layu. Dirinya mengaku dengan lirih, bahwa anak-anaknya masih belum ikhlas. “Setiap malam, mereka menangisi ayahnya yang tak kunjung pulang,” imbuh warga Jalan Trunojoyo VI/81, RT 03, RW 19, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Tak terbendung, air matanya berlinang membasahi pipi saat teringat dengan suaminya, kemarin (2/8). Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sebelum bulan puasa, almarhum suaminya dirumahkan dari tempat kerjanya. Sebab, salah satu hotel yang mempekerjakannya terpaksa harus memecat beberapa karyawan lantaran krisis akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. “Pasca-pemecatan, dia tampak murung. Dia bingung harus bekerja apa,” imbuhnya.

Beruntung, ada saudaranya yang berjualan masker. “Akhirnya, suami saya ditawari berjualan masker dengan pendapatan bagi hasil. Soalnya, semua barang dan lapak dari saudaranya,” ucapnya. Nahas, maut tak bisa dielakkan saat almarhum Ahmad Sholihin tengah berjualan masker. Sebuah kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi menghantamnya, sehingga dia beserta satu korban lain terpaksa meregang nyawa.

Semasa berdagang, Intan menambahkan bahwa suaminya sangat giat dalam bekerja. Seolah-olah, almarhum enggan pulang jika belum mendapatkan hasil. “Dia berjualan mulai pagi sampai malam dan hanya pulang ke rumah waktu salat saja,” sambungnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/