alexametrics
20.1 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Dulu Jadi Sales Sendiri, Kini Bertahan Bersama Delapan Pekerja

Pandemi korona berdampak pada seluruh sektor perekonomian. Termasuk homeindustrymi lidi. Akan tetapi, perlu siasat agar bisnis tetap berproduksi dan bisa terus jalan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, Achmad Zainuri terlihat menata mi lidi yang telah dibungkus dengan berbagai macam rasa. Dirinya masih semangat untuk tetap bekerja, sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Usaha mi lidi ini telah dia geluti setidaknya tujuh tahun terakhir.

Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Jember, Zainuri cukup terkejut. Dia selanjutnya mempersilakan kami masuk, setelah mengingat pernah bertemu sekali di sekitar Alun-Alun Jember. “Kok malam, Mas. Tapi tenang saja saya masih buka karena kerjaan belum selesai,” ucapnya sambil menata mi lidi.

Zainuri mengaku, produksi mi lidi yang menjadi usaha keluarganya benar-benar mengalami dampak pandemi korona. Produksinya turun drastis akibat banyak yang menghentikan permintaan mi lidi untuk sementara waktu. Apalagi, pangsa pasar utamanya, yaitu para pelajar dan mahasiswa, juga sedang libur. Warung dan toko langganan pun menyetop sementara pengiriman mi lidi. “Bukan dari Jember saja, permintaan dari luar kota sementara banyak yang distop,” imbuhnya, sambil menerima kopi buatan istrinya, Siti Holifah, untuk disajikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah menawarkan secangkir kopi hitam manis, Zainuri mengungkap apa yang dialami selama wabah korona. Produksi hari-hari biasa sebelum masa korona bisa mencapai antara dua sampai tiga kuintal per harinya. Namun, makin lama makin turun hingga hanya bisa memproduksi dua kuintal untuk dua hari sekali. Lantaran kondisinya masih tetap sama, kini pria satu anak ini hanya memproduksi satu kuintal dalam satu pekan.

“Saya dulu tidak kepikiran kalau penjualan turun. Karena saat awal saya bikin sendiri, sales sendiri, dan kalau ada sisa kami makan. Tetapi sekarang saya punya pekerja, ada delapan orang. Jadi, dengan produksi turun semacam ini, kami hanya bisa bertahan. Para pekerja alhamdulillah juga memahami,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, Achmad Zainuri terlihat menata mi lidi yang telah dibungkus dengan berbagai macam rasa. Dirinya masih semangat untuk tetap bekerja, sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Usaha mi lidi ini telah dia geluti setidaknya tujuh tahun terakhir.

Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Jember, Zainuri cukup terkejut. Dia selanjutnya mempersilakan kami masuk, setelah mengingat pernah bertemu sekali di sekitar Alun-Alun Jember. “Kok malam, Mas. Tapi tenang saja saya masih buka karena kerjaan belum selesai,” ucapnya sambil menata mi lidi.

Zainuri mengaku, produksi mi lidi yang menjadi usaha keluarganya benar-benar mengalami dampak pandemi korona. Produksinya turun drastis akibat banyak yang menghentikan permintaan mi lidi untuk sementara waktu. Apalagi, pangsa pasar utamanya, yaitu para pelajar dan mahasiswa, juga sedang libur. Warung dan toko langganan pun menyetop sementara pengiriman mi lidi. “Bukan dari Jember saja, permintaan dari luar kota sementara banyak yang distop,” imbuhnya, sambil menerima kopi buatan istrinya, Siti Holifah, untuk disajikan.

Setelah menawarkan secangkir kopi hitam manis, Zainuri mengungkap apa yang dialami selama wabah korona. Produksi hari-hari biasa sebelum masa korona bisa mencapai antara dua sampai tiga kuintal per harinya. Namun, makin lama makin turun hingga hanya bisa memproduksi dua kuintal untuk dua hari sekali. Lantaran kondisinya masih tetap sama, kini pria satu anak ini hanya memproduksi satu kuintal dalam satu pekan.

“Saya dulu tidak kepikiran kalau penjualan turun. Karena saat awal saya bikin sendiri, sales sendiri, dan kalau ada sisa kami makan. Tetapi sekarang saya punya pekerja, ada delapan orang. Jadi, dengan produksi turun semacam ini, kami hanya bisa bertahan. Para pekerja alhamdulillah juga memahami,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, Achmad Zainuri terlihat menata mi lidi yang telah dibungkus dengan berbagai macam rasa. Dirinya masih semangat untuk tetap bekerja, sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Usaha mi lidi ini telah dia geluti setidaknya tujuh tahun terakhir.

Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Jember, Zainuri cukup terkejut. Dia selanjutnya mempersilakan kami masuk, setelah mengingat pernah bertemu sekali di sekitar Alun-Alun Jember. “Kok malam, Mas. Tapi tenang saja saya masih buka karena kerjaan belum selesai,” ucapnya sambil menata mi lidi.

Zainuri mengaku, produksi mi lidi yang menjadi usaha keluarganya benar-benar mengalami dampak pandemi korona. Produksinya turun drastis akibat banyak yang menghentikan permintaan mi lidi untuk sementara waktu. Apalagi, pangsa pasar utamanya, yaitu para pelajar dan mahasiswa, juga sedang libur. Warung dan toko langganan pun menyetop sementara pengiriman mi lidi. “Bukan dari Jember saja, permintaan dari luar kota sementara banyak yang distop,” imbuhnya, sambil menerima kopi buatan istrinya, Siti Holifah, untuk disajikan.

Setelah menawarkan secangkir kopi hitam manis, Zainuri mengungkap apa yang dialami selama wabah korona. Produksi hari-hari biasa sebelum masa korona bisa mencapai antara dua sampai tiga kuintal per harinya. Namun, makin lama makin turun hingga hanya bisa memproduksi dua kuintal untuk dua hari sekali. Lantaran kondisinya masih tetap sama, kini pria satu anak ini hanya memproduksi satu kuintal dalam satu pekan.

“Saya dulu tidak kepikiran kalau penjualan turun. Karena saat awal saya bikin sendiri, sales sendiri, dan kalau ada sisa kami makan. Tetapi sekarang saya punya pekerja, ada delapan orang. Jadi, dengan produksi turun semacam ini, kami hanya bisa bertahan. Para pekerja alhamdulillah juga memahami,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/