alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Memendam Rindu, Berharap Mendengar Takbir di Kampung Halaman

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir mengingatkan Yulias Anggraeni pada kampung halaman. Kepalanya seketika menunduk. Napasnya menjadi panjang. Ada rindu yang menggumpal. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Mendadak air matanya tak terbendung. Dia memandang erat-erat wajah orang tuanya melalui panggilan video tersebut. Momentum itu juga dia gunakan untuk mencurahkan kangen. Maklum, setahun lebih dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik Lebaran pada 2020 lalu.

Sebetulnya, Lebaran tahun kemarin merupakan momentum yang paling ditunggu para perantau seperti dirinya. Sebab, hampir setahun bekerja, dia belum pulang ke Jember sama sekali. “Ada larangan mudik dari pemerintah. Jadi, saya menaati aturan yang berlaku dengan tidak mudik,” ucapnya.

Dia juga menyadari bahwa ada orang tua di rumah cenderung berisiko jika terkena Covid-19. Yulias mungkin memiliki imunitas yang bagus, tapi tidak dengan orang tuanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wanita kelahiran Gumukmas itu lalu menceritakan suka duka saat tak bisa pulang. Mulai dari melewati Lebaran sendirian, hingga kesepian karena tak memiliki sanak keluarga di perantauan. “Apalagi pas dengar Takbir. Aduh, pasti nangis,” kata perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan di Kecamatan Sukolilo, Surabaya timur, itu.

Untungnya, semua temannya di kos tak ada yang pulang. Sehingga mereka memasak makanan khas Lebaran untuk menjadi pengobat rindu kampung halaman.

Yulias menambahkan, dirinya baru bisa pulang ketika tahun baru 2021. Meski hanya dua hari, dia mengaku benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, dia mendapatkan kabar tak enak tahun ini. Pemerintah kembali mengeluarkan larangan mudik.

Perempuan 26 tahun ini jelas merasa sedih jika tahun ini tidak bisa mudik lagi. Sebab, pada Lebaran tahun lalu, dia sudah tak merasakan nikmatnya bersilaturahmi. Apalagi, momentum Idul Fitri juga menjadi sarana berkumpulnya semua keluarga. “Semoga ada perubahan aturan, sehingga bisa mudik,” harapnya.

Yulias menuturkan, larangan mudik itu sebenarnya sah-sah saja jika diimbangi dengan pembatasan mudik. Jadi, pemerintah tak hanya membatasi arus mudik pada transportasi umum seperti bus, kereta, pesawat, dan kapal laut, tapi juga mobil pribadi. Seperti tahun kemarin misalnya, pemerintah sudah melarang mudik dengan menutup semua transportasi umum. Namun, pada kenyataannya, masih banyak ditemukan kendaraan pribadi yang melanggar. “Itu yang menjadikan aturan pemerintah tidak efektif,” kritiknya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir mengingatkan Yulias Anggraeni pada kampung halaman. Kepalanya seketika menunduk. Napasnya menjadi panjang. Ada rindu yang menggumpal. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Mendadak air matanya tak terbendung. Dia memandang erat-erat wajah orang tuanya melalui panggilan video tersebut. Momentum itu juga dia gunakan untuk mencurahkan kangen. Maklum, setahun lebih dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik Lebaran pada 2020 lalu.

Sebetulnya, Lebaran tahun kemarin merupakan momentum yang paling ditunggu para perantau seperti dirinya. Sebab, hampir setahun bekerja, dia belum pulang ke Jember sama sekali. “Ada larangan mudik dari pemerintah. Jadi, saya menaati aturan yang berlaku dengan tidak mudik,” ucapnya.

Dia juga menyadari bahwa ada orang tua di rumah cenderung berisiko jika terkena Covid-19. Yulias mungkin memiliki imunitas yang bagus, tapi tidak dengan orang tuanya.

Wanita kelahiran Gumukmas itu lalu menceritakan suka duka saat tak bisa pulang. Mulai dari melewati Lebaran sendirian, hingga kesepian karena tak memiliki sanak keluarga di perantauan. “Apalagi pas dengar Takbir. Aduh, pasti nangis,” kata perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan di Kecamatan Sukolilo, Surabaya timur, itu.

Untungnya, semua temannya di kos tak ada yang pulang. Sehingga mereka memasak makanan khas Lebaran untuk menjadi pengobat rindu kampung halaman.

Yulias menambahkan, dirinya baru bisa pulang ketika tahun baru 2021. Meski hanya dua hari, dia mengaku benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, dia mendapatkan kabar tak enak tahun ini. Pemerintah kembali mengeluarkan larangan mudik.

Perempuan 26 tahun ini jelas merasa sedih jika tahun ini tidak bisa mudik lagi. Sebab, pada Lebaran tahun lalu, dia sudah tak merasakan nikmatnya bersilaturahmi. Apalagi, momentum Idul Fitri juga menjadi sarana berkumpulnya semua keluarga. “Semoga ada perubahan aturan, sehingga bisa mudik,” harapnya.

Yulias menuturkan, larangan mudik itu sebenarnya sah-sah saja jika diimbangi dengan pembatasan mudik. Jadi, pemerintah tak hanya membatasi arus mudik pada transportasi umum seperti bus, kereta, pesawat, dan kapal laut, tapi juga mobil pribadi. Seperti tahun kemarin misalnya, pemerintah sudah melarang mudik dengan menutup semua transportasi umum. Namun, pada kenyataannya, masih banyak ditemukan kendaraan pribadi yang melanggar. “Itu yang menjadikan aturan pemerintah tidak efektif,” kritiknya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir mengingatkan Yulias Anggraeni pada kampung halaman. Kepalanya seketika menunduk. Napasnya menjadi panjang. Ada rindu yang menggumpal. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Mendadak air matanya tak terbendung. Dia memandang erat-erat wajah orang tuanya melalui panggilan video tersebut. Momentum itu juga dia gunakan untuk mencurahkan kangen. Maklum, setahun lebih dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik Lebaran pada 2020 lalu.

Sebetulnya, Lebaran tahun kemarin merupakan momentum yang paling ditunggu para perantau seperti dirinya. Sebab, hampir setahun bekerja, dia belum pulang ke Jember sama sekali. “Ada larangan mudik dari pemerintah. Jadi, saya menaati aturan yang berlaku dengan tidak mudik,” ucapnya.

Dia juga menyadari bahwa ada orang tua di rumah cenderung berisiko jika terkena Covid-19. Yulias mungkin memiliki imunitas yang bagus, tapi tidak dengan orang tuanya.

Wanita kelahiran Gumukmas itu lalu menceritakan suka duka saat tak bisa pulang. Mulai dari melewati Lebaran sendirian, hingga kesepian karena tak memiliki sanak keluarga di perantauan. “Apalagi pas dengar Takbir. Aduh, pasti nangis,” kata perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan di Kecamatan Sukolilo, Surabaya timur, itu.

Untungnya, semua temannya di kos tak ada yang pulang. Sehingga mereka memasak makanan khas Lebaran untuk menjadi pengobat rindu kampung halaman.

Yulias menambahkan, dirinya baru bisa pulang ketika tahun baru 2021. Meski hanya dua hari, dia mengaku benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, dia mendapatkan kabar tak enak tahun ini. Pemerintah kembali mengeluarkan larangan mudik.

Perempuan 26 tahun ini jelas merasa sedih jika tahun ini tidak bisa mudik lagi. Sebab, pada Lebaran tahun lalu, dia sudah tak merasakan nikmatnya bersilaturahmi. Apalagi, momentum Idul Fitri juga menjadi sarana berkumpulnya semua keluarga. “Semoga ada perubahan aturan, sehingga bisa mudik,” harapnya.

Yulias menuturkan, larangan mudik itu sebenarnya sah-sah saja jika diimbangi dengan pembatasan mudik. Jadi, pemerintah tak hanya membatasi arus mudik pada transportasi umum seperti bus, kereta, pesawat, dan kapal laut, tapi juga mobil pribadi. Seperti tahun kemarin misalnya, pemerintah sudah melarang mudik dengan menutup semua transportasi umum. Namun, pada kenyataannya, masih banyak ditemukan kendaraan pribadi yang melanggar. “Itu yang menjadikan aturan pemerintah tidak efektif,” kritiknya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/