alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Ventilator Kurang, Utamakan Pencegahan

Strategi Penanganan Pandemik Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyemprotan disinfektan, cuci tangan, hingga larangan berkumpul banyak orang menjadi pilihan utama yang harus dilakukan semua pihak. Sebab, jika jumlah penderita korona (Covid-19) mengalami ledakan, peralatan medis terutama ventilator masih kurang. Oleh karenanya, upaya pencegahan penularan Covid-19 harus didukung oleh masyarakat.

Ketua Tim Medis Penanggulangan Covid-19 Jember dr Maksum Pandelima menjelaskan, pencegahan penularan harus nomor satu dalam penanganan virus korona ini. Alasannya, kata dia, tidak hanya penularannya sangat cepat. Lebih dari itu, ada sesuatu yang harus diwaspadai negara jika virus korona di Indonesia tidak bisa dikendalikan, lebih-lebih terjadi ledakan jumlah penderitanya.

Jika sampai terjadi lonjakan penderita korona luar biasa, maka yang terjadi fasilitas kesehatan di Indonesia tidak akan siap. “Indonesia bukan Tiongkok yang bisa membangun rumah sakit khusus korona dengan super cepat,” tuturnya. Ditambah lagi, jumlah penduduk Indonesia juga banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terlebih, peralatan medis emergency untuk korona sangat minim di Indonesia, termasuk di Jember. “Ventilator atau alat bantu napasnya kurang. Jember juga sangat kurang,” katanya. Karena itu, dia menambahkan, langkah yang harus di lakukan pemerintah adalah pencegahan. Langkah pencegahan itu, disebutnya, harus sukses dan harus didukung oleh masyarakat.

Jika penderita korona membeludak, maka pilihan terburuknya adalah menyelamatkan salah satu penderita yang memiliki kesempatan hidup lebih tinggi. Sehingga, kata dia, pasien yang punya risiko meninggal, maka siap-siap saja dibiarkan hingga mati.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyemprotan disinfektan, cuci tangan, hingga larangan berkumpul banyak orang menjadi pilihan utama yang harus dilakukan semua pihak. Sebab, jika jumlah penderita korona (Covid-19) mengalami ledakan, peralatan medis terutama ventilator masih kurang. Oleh karenanya, upaya pencegahan penularan Covid-19 harus didukung oleh masyarakat.

Ketua Tim Medis Penanggulangan Covid-19 Jember dr Maksum Pandelima menjelaskan, pencegahan penularan harus nomor satu dalam penanganan virus korona ini. Alasannya, kata dia, tidak hanya penularannya sangat cepat. Lebih dari itu, ada sesuatu yang harus diwaspadai negara jika virus korona di Indonesia tidak bisa dikendalikan, lebih-lebih terjadi ledakan jumlah penderitanya.

Jika sampai terjadi lonjakan penderita korona luar biasa, maka yang terjadi fasilitas kesehatan di Indonesia tidak akan siap. “Indonesia bukan Tiongkok yang bisa membangun rumah sakit khusus korona dengan super cepat,” tuturnya. Ditambah lagi, jumlah penduduk Indonesia juga banyak.

Terlebih, peralatan medis emergency untuk korona sangat minim di Indonesia, termasuk di Jember. “Ventilator atau alat bantu napasnya kurang. Jember juga sangat kurang,” katanya. Karena itu, dia menambahkan, langkah yang harus di lakukan pemerintah adalah pencegahan. Langkah pencegahan itu, disebutnya, harus sukses dan harus didukung oleh masyarakat.

Jika penderita korona membeludak, maka pilihan terburuknya adalah menyelamatkan salah satu penderita yang memiliki kesempatan hidup lebih tinggi. Sehingga, kata dia, pasien yang punya risiko meninggal, maka siap-siap saja dibiarkan hingga mati.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyemprotan disinfektan, cuci tangan, hingga larangan berkumpul banyak orang menjadi pilihan utama yang harus dilakukan semua pihak. Sebab, jika jumlah penderita korona (Covid-19) mengalami ledakan, peralatan medis terutama ventilator masih kurang. Oleh karenanya, upaya pencegahan penularan Covid-19 harus didukung oleh masyarakat.

Ketua Tim Medis Penanggulangan Covid-19 Jember dr Maksum Pandelima menjelaskan, pencegahan penularan harus nomor satu dalam penanganan virus korona ini. Alasannya, kata dia, tidak hanya penularannya sangat cepat. Lebih dari itu, ada sesuatu yang harus diwaspadai negara jika virus korona di Indonesia tidak bisa dikendalikan, lebih-lebih terjadi ledakan jumlah penderitanya.

Jika sampai terjadi lonjakan penderita korona luar biasa, maka yang terjadi fasilitas kesehatan di Indonesia tidak akan siap. “Indonesia bukan Tiongkok yang bisa membangun rumah sakit khusus korona dengan super cepat,” tuturnya. Ditambah lagi, jumlah penduduk Indonesia juga banyak.

Terlebih, peralatan medis emergency untuk korona sangat minim di Indonesia, termasuk di Jember. “Ventilator atau alat bantu napasnya kurang. Jember juga sangat kurang,” katanya. Karena itu, dia menambahkan, langkah yang harus di lakukan pemerintah adalah pencegahan. Langkah pencegahan itu, disebutnya, harus sukses dan harus didukung oleh masyarakat.

Jika penderita korona membeludak, maka pilihan terburuknya adalah menyelamatkan salah satu penderita yang memiliki kesempatan hidup lebih tinggi. Sehingga, kata dia, pasien yang punya risiko meninggal, maka siap-siap saja dibiarkan hingga mati.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/