alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Tak Semua Bisa Bekerja dari Rumah

Pertegas Penanganan Covid-19 dengan APBD

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pemerintah pusat hingga daerah gencar menyosialisasikan agar warga tetap di rumah untuk menghindari wabah korona. Padahal, di Jember khususnya, tak semua orang bisa mendapat penghasilan jika hanya berdiam diri di rumah. Sebab, banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dengan cara berdagang serta menjadi pegawai swasta.

Terjadinya penutupan sejumlah tempat keramaian pun telah dilakukan. Salah satunya warung-warung yang ada di Rest Area Jubung, Kecamatan Sukorambi. Tak hanya itu, beberapa pasar juga telah diterapkan jam operasionalnya.

Virus korona memang menjadi ancaman kesehatan bersama. Namun, hal yang tak boleh diabaikan oleh pemerintah adalah kondisi masyarakat yang tak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya jika di hari itu mereka tak bekerja. Untuk itulah, pemerintah harus menyiapkan solusi sebelum kebijakan pengaturan tempat dan fasilitas perekonomian, seperti pasar atau pusat-pusat perdagangan, memberi dampak ke masyarakat. Terlebih, pasar modern seperti mall masih tetap bebas beroperasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau tutupnya lama, bagaimana dengan kebutuhan kami. Makanya pedagang di Jubung butuh solusi. Sebaiknya siapkan solusi dulu sebelum ditutup,” kata salah seorang pedagang kopi di kawasan Rest Area Jubung.

Apa yang disampaikan pedagang ini kebanyakan juga dikeluhkan oleh pedagang kecil lain. Apalagi, saat banyak berdiam di rumah, mereka tak dapat penghasilan. Sementara, kebutuhan harus tetap dipenuhi. “Kalau PNS kerja di rumah pasti bisa, karena tetap gajian. Kalau pedagang kaki lima diam di rumah, siapa yang mau membayar. Makanya, solusi itu perlu dipikirkan juga,” paparnya. Dia juga menyebut hal yang sama juga dialami oleh semua pedagang saat warungnya harus tutup.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jember Ayub Junaidi mengatakan, keluhan warga seperti yang terjadi di Jubung juga dialami para pedagang lain jika kemudian harus tutup. “Aspirasi warga meminta solusi sebelum warung ditutup itu sangat benar. Jadi, jangan asal tutup tanpa memberi solusi,” ucapnya.

Kaitan dengan pasar-pasar yang diberlakukan jam operasional dengan alasan mengurangi kerumunan, menurut Ayub, juga patut diberikan rasa keadilan. Menurutnya, apabila ada penerapan pada pasar tradisional, maka mall di Jember juga harus diberlakukan aturan yang sama.

“Coba lihat, saat pasar ditutup pada jam tertentu, malah mall bisa jadi ramai. Perlu keadilan untuk penerapan itu. Jangan sampai, warga yang biasanya membeli ke pasar justru pindah ke mall,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pemerintah pusat hingga daerah gencar menyosialisasikan agar warga tetap di rumah untuk menghindari wabah korona. Padahal, di Jember khususnya, tak semua orang bisa mendapat penghasilan jika hanya berdiam diri di rumah. Sebab, banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dengan cara berdagang serta menjadi pegawai swasta.

Terjadinya penutupan sejumlah tempat keramaian pun telah dilakukan. Salah satunya warung-warung yang ada di Rest Area Jubung, Kecamatan Sukorambi. Tak hanya itu, beberapa pasar juga telah diterapkan jam operasionalnya.

Virus korona memang menjadi ancaman kesehatan bersama. Namun, hal yang tak boleh diabaikan oleh pemerintah adalah kondisi masyarakat yang tak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya jika di hari itu mereka tak bekerja. Untuk itulah, pemerintah harus menyiapkan solusi sebelum kebijakan pengaturan tempat dan fasilitas perekonomian, seperti pasar atau pusat-pusat perdagangan, memberi dampak ke masyarakat. Terlebih, pasar modern seperti mall masih tetap bebas beroperasi.

“Kalau tutupnya lama, bagaimana dengan kebutuhan kami. Makanya pedagang di Jubung butuh solusi. Sebaiknya siapkan solusi dulu sebelum ditutup,” kata salah seorang pedagang kopi di kawasan Rest Area Jubung.

Apa yang disampaikan pedagang ini kebanyakan juga dikeluhkan oleh pedagang kecil lain. Apalagi, saat banyak berdiam di rumah, mereka tak dapat penghasilan. Sementara, kebutuhan harus tetap dipenuhi. “Kalau PNS kerja di rumah pasti bisa, karena tetap gajian. Kalau pedagang kaki lima diam di rumah, siapa yang mau membayar. Makanya, solusi itu perlu dipikirkan juga,” paparnya. Dia juga menyebut hal yang sama juga dialami oleh semua pedagang saat warungnya harus tutup.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jember Ayub Junaidi mengatakan, keluhan warga seperti yang terjadi di Jubung juga dialami para pedagang lain jika kemudian harus tutup. “Aspirasi warga meminta solusi sebelum warung ditutup itu sangat benar. Jadi, jangan asal tutup tanpa memberi solusi,” ucapnya.

Kaitan dengan pasar-pasar yang diberlakukan jam operasional dengan alasan mengurangi kerumunan, menurut Ayub, juga patut diberikan rasa keadilan. Menurutnya, apabila ada penerapan pada pasar tradisional, maka mall di Jember juga harus diberlakukan aturan yang sama.

“Coba lihat, saat pasar ditutup pada jam tertentu, malah mall bisa jadi ramai. Perlu keadilan untuk penerapan itu. Jangan sampai, warga yang biasanya membeli ke pasar justru pindah ke mall,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pemerintah pusat hingga daerah gencar menyosialisasikan agar warga tetap di rumah untuk menghindari wabah korona. Padahal, di Jember khususnya, tak semua orang bisa mendapat penghasilan jika hanya berdiam diri di rumah. Sebab, banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dengan cara berdagang serta menjadi pegawai swasta.

Terjadinya penutupan sejumlah tempat keramaian pun telah dilakukan. Salah satunya warung-warung yang ada di Rest Area Jubung, Kecamatan Sukorambi. Tak hanya itu, beberapa pasar juga telah diterapkan jam operasionalnya.

Virus korona memang menjadi ancaman kesehatan bersama. Namun, hal yang tak boleh diabaikan oleh pemerintah adalah kondisi masyarakat yang tak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya jika di hari itu mereka tak bekerja. Untuk itulah, pemerintah harus menyiapkan solusi sebelum kebijakan pengaturan tempat dan fasilitas perekonomian, seperti pasar atau pusat-pusat perdagangan, memberi dampak ke masyarakat. Terlebih, pasar modern seperti mall masih tetap bebas beroperasi.

“Kalau tutupnya lama, bagaimana dengan kebutuhan kami. Makanya pedagang di Jubung butuh solusi. Sebaiknya siapkan solusi dulu sebelum ditutup,” kata salah seorang pedagang kopi di kawasan Rest Area Jubung.

Apa yang disampaikan pedagang ini kebanyakan juga dikeluhkan oleh pedagang kecil lain. Apalagi, saat banyak berdiam di rumah, mereka tak dapat penghasilan. Sementara, kebutuhan harus tetap dipenuhi. “Kalau PNS kerja di rumah pasti bisa, karena tetap gajian. Kalau pedagang kaki lima diam di rumah, siapa yang mau membayar. Makanya, solusi itu perlu dipikirkan juga,” paparnya. Dia juga menyebut hal yang sama juga dialami oleh semua pedagang saat warungnya harus tutup.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jember Ayub Junaidi mengatakan, keluhan warga seperti yang terjadi di Jubung juga dialami para pedagang lain jika kemudian harus tutup. “Aspirasi warga meminta solusi sebelum warung ditutup itu sangat benar. Jadi, jangan asal tutup tanpa memberi solusi,” ucapnya.

Kaitan dengan pasar-pasar yang diberlakukan jam operasional dengan alasan mengurangi kerumunan, menurut Ayub, juga patut diberikan rasa keadilan. Menurutnya, apabila ada penerapan pada pasar tradisional, maka mall di Jember juga harus diberlakukan aturan yang sama.

“Coba lihat, saat pasar ditutup pada jam tertentu, malah mall bisa jadi ramai. Perlu keadilan untuk penerapan itu. Jangan sampai, warga yang biasanya membeli ke pasar justru pindah ke mall,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/