alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Ubah Limbah Kayu Jadi Karya Seni, Awalnya Sempat Dikira Gila

Perjalanan Agus Supriyadi, Manusia Akar Asal Sidomulyo Seni bisa terinspirasi dari mana saja. Termasuk potensi alam sekitar. Inilah yang dilakukan Agus Supriyadi. Dia menyulap akar dan batang pohon sisa menjadi karya seni yang menakjubkan. Padahal sebelumnya, kayu-kayu itu terbengkalai dan dianggap limbah.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/