alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Biarkan Tomat Membusuk di Sawah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam waktu beberapa pekan saja, nilai komoditas tomat di pasar anjlok. Jika sebelumnya berkisar di antara Rp 5 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram, kini terjun bebas hingga Rp 1.500 per kilogram. Hal ini mengakibatkan sejumlah petani tomat ngambul dan memilih untuk tidak memanen tomat di lahan mereka.

Salah satunya Busiha, petani asal Dusun Ranggi, Desa Garahan, Kecamatan Silo. Dia sengaja membiarkan tomatnya tidak dipanen hingga busuk di sawah. “Karena harganya sangat murah. Bahkan buat ongkos untuk orang yang memetik juga sudah tidak cukup,” kata Busiha kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, biasanya buah tomat yang ada di lahan setengah hektare ini dipanen dalam tiga hari sekali. Namun, baru dipanen beberapa kali, harganya sudah anjlok. “Sehingga saya biarkan memerah dan tidak dipanen,” kata Busiha.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia berharap akan ada peningkatan harga jual secara signifikan, sehingga pihaknya bisa menggunakannya untuk membayar ongkos orang yang memanen. “Kalau harganya hanya naik sedikit dan tidak cukup dengan ongkos orang, maka lebih baik saya biarkan saja,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam waktu beberapa pekan saja, nilai komoditas tomat di pasar anjlok. Jika sebelumnya berkisar di antara Rp 5 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram, kini terjun bebas hingga Rp 1.500 per kilogram. Hal ini mengakibatkan sejumlah petani tomat ngambul dan memilih untuk tidak memanen tomat di lahan mereka.

Salah satunya Busiha, petani asal Dusun Ranggi, Desa Garahan, Kecamatan Silo. Dia sengaja membiarkan tomatnya tidak dipanen hingga busuk di sawah. “Karena harganya sangat murah. Bahkan buat ongkos untuk orang yang memetik juga sudah tidak cukup,” kata Busiha kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, biasanya buah tomat yang ada di lahan setengah hektare ini dipanen dalam tiga hari sekali. Namun, baru dipanen beberapa kali, harganya sudah anjlok. “Sehingga saya biarkan memerah dan tidak dipanen,” kata Busiha.

Dia berharap akan ada peningkatan harga jual secara signifikan, sehingga pihaknya bisa menggunakannya untuk membayar ongkos orang yang memanen. “Kalau harganya hanya naik sedikit dan tidak cukup dengan ongkos orang, maka lebih baik saya biarkan saja,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam waktu beberapa pekan saja, nilai komoditas tomat di pasar anjlok. Jika sebelumnya berkisar di antara Rp 5 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram, kini terjun bebas hingga Rp 1.500 per kilogram. Hal ini mengakibatkan sejumlah petani tomat ngambul dan memilih untuk tidak memanen tomat di lahan mereka.

Salah satunya Busiha, petani asal Dusun Ranggi, Desa Garahan, Kecamatan Silo. Dia sengaja membiarkan tomatnya tidak dipanen hingga busuk di sawah. “Karena harganya sangat murah. Bahkan buat ongkos untuk orang yang memetik juga sudah tidak cukup,” kata Busiha kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, biasanya buah tomat yang ada di lahan setengah hektare ini dipanen dalam tiga hari sekali. Namun, baru dipanen beberapa kali, harganya sudah anjlok. “Sehingga saya biarkan memerah dan tidak dipanen,” kata Busiha.

Dia berharap akan ada peningkatan harga jual secara signifikan, sehingga pihaknya bisa menggunakannya untuk membayar ongkos orang yang memanen. “Kalau harganya hanya naik sedikit dan tidak cukup dengan ongkos orang, maka lebih baik saya biarkan saja,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/